The Confession (Short Story)

Aku membersihkan meja dengan lap basah. Meja ini dipenuhi oleh piring dan gelas kotor. Ya, pekerjaanku adalah seorang pramusaji. Aku tidak malu. Aku menyukai pekerjaan ini karena pekerjaan ini yang menghidupiku.


Setelah lulus SMA, kuputuskan untuk bekerja. Teman-teman sebayaku memilih untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Sebetulnya aku ingin seperti mereka tetapi keinginan itu terhalang oleh biaya. Saat kelulusan SMA, orang tuaku gulung tikar. Usaha kami tutup. Jadi aku tidak punya pilihan lain selain bekerja untuk menghidupi diri sendiri dan keluarga. 


Berat memang menyesuaikan diri dengan kenyataan yang ada. Biasanya minta apapun langsung keturutan sekarang mau beli sesuatu saja harus pikir ribuan kali. 


"Wina!" Panggil manager dengan suara lantang. 


"Tolong persiapkan meja untuk reservasi."


"Untuk berapa orang, Pak?"


"Dua puluh. Hitung bangkunya jangan sampai kurang. Ngerti?!"


"Baik, Pak."


"Good, laksanakan!" Kata manager. Kemudian dia pergi meninggalkanku. 


Tanpa berpikir panjang lagi, aku langsung merapikan meja dan bangku. Tentu saja tidak sendirian melainkan dibantu oleh Radit. Dia selalu membantu ku. Partner kerja yang baik. Usianya lebih muda dariku tapi semangat kerjanya tidak diragukan lagi. 


"Kak, nanti pulang bareng ngga?"


"Gak usah, Dit."


"Dih, kenapa? Bawa motor, ya? Udahlah santai aja, kak. Rumah kita searah. Bareng aja. Udah kayak sama siapa aja, sih."


-


Satu persatu bangku reservasi pun terisi. Sepertinya mereka adalah orang-orang yang bekerja di kantor. Terlihat dari outfit mereka yang sangat keren. Aku suka style mereka. Modis. 


"Wina!" Seseorang memanggil namaku. Aku langsung menoleh. 


"Lho? Kamu di sini?!" 


Sungguh, aku kaget melihat makhluk jangkung itu berdiri di depanku. 


"Jangan ge-er. Aku nggak nyamperin kamu." Balasnya sambil memutar bola mata. Ekspresinya agak menyebalkan. 


"Ada acara makan-makan dari kantor karena menang tender." Lanjutnya. 


"Oh gitu. Kerjaan dan kuliah kamu lancar kan?"


"Iya, lancar kok. Kamu gimana? Nanti pulang bareng, ya. Aku tungguin deh sampai kerjaan kamu beres."


Aku merekatkan tali apron, "kerjaanku lancar juga. Hmmm, serius mau nungguin? Tadi Radit ngajakin pulang bareng."


Vano langsung memegang lenganku. "Kamu mau?" Tanyanya pelan dengan nada pasrah. 


"Belom aku jawab, sih." Balasku. "By the way, ini ruang reservasinya. Keren, ya, pesannya ruang VIP."


"Bukan aku yang keren tapi atasanku. Yaudah, makasih Wina udah anterin. Lumayan juga, ya, naik tangga ke sini, Win." Kata Vano. 


Aku tersenyum kecil. "My pleasure, Vano. Kamu customer-ku. Have fun, ya!" Ucapku  membukakan pintu lalu meninggalkannya. 


Vano. Ya, lelaki itu seniorku di sekolah. Aku yang menyukainya lebih dulu. Aku yang mengutarakan perasaanku padanya. Dan, dia tidak keberatan soal itu. Aku beruntung mengenalnya. Bagiku dia adalah support system. Meskipun teman-teman di sekitarku menilai hubungan kami tidak ada kejelasan. 


-


"Kak, jadi bareng nggak?" Tanya Radit memastikan. Dia sudah bertanya sebanyak lima kali. Sungguh aku menghitung tawarannya. 


"Wina!" Panggil Vano yang duduk di motornya sambil melambaikan tangan. 


Aku menghela nafasku. "Sorry, Dit. Tapi... "


Radit mengangguk seraya paham. Dia menepuk bahuku sekali. "Hati-hati, ya." Katanya. 


Aku menghampiri Vano. Hatiku senang bisa melihatnya lagi. Walaupun ada perasaan tidak enak karena dia menungguku sampai pekerjaanku beres. Sedangkan acara makan-makan tadi sudah selesai dua jam yang lalu. 


Vano menyodorkan plastik putih. Bau makanan yang familiar di hidungku. Tunggu, kebab pisang? 


"Kebab pisang?"


Dia mengangguk. "Kalo kebab daging pasti kamu gak makan. Kamu kan gak doyan daging."


Aku tersenyum. Dia hafal apa yang menjadi favoritku. Senang sekali jika manusia favoritmu mengingat hal kecil tentangmu. Terlihat sederhana tapi berkesan. 


"Kamu nunggu dari tadi?"


"Iya, sih, tapi tadi sempat keliling dulu cari makan dan minum."


"Makasih."


"Makasih buat apa, Wina?"


"Sudah menunggu dan makasih udah beliin aku kebab."


Vano menyunggingkan senyuman. Manis. Aku suka melihatnya. 


Sepanjang jalan kami mengobrol ringan tentang pekerjaan, musik, film, game, dan hal lainnya. Memang apapun obrolannya terasa seru jika satu frekuensi. Aku senang punya waktu dengan Vano. Aku juga senang dia bersikap baik padaku. Meskipun terkadang omongan teman-temanku tentang status kami membuat hatiku sakit. Aku juga tidak tahu apakah Vano menyukaiku atau tidak. Apakah itu penting sekarang? Entah. 


Vano tidak menjauhiku dan dia juga menghargai perasaanku. Bukankah itu lebih dari cukup? Apalagi yang kuinginkan? 


"Ada yang buat kamu sedih, Wina?" Tanya Vano sambil mengendarai motornya. 


Aku menggeleng. "Nggak ada, sih. Kenapa?"


"Raut wajah kamu nggak bisa bohong, lho." Katanya sambil melirik di spion. 


"Lagi kepikiran aja."


"Soal?"


"Bukan apa-apa."


"Teman-teman kamu lagi?" Tebak Vano. Salah kalau berbohong padanya. Dia bisa 'membaca' apa yang kupikirkan dari raut wajahku. 


"Teman-teman kamu ngomongin kamu lagi atau aku nih?" Kata Vano sambil tertawa. Nampaknya dia biasa aja jika ada orang lain yang membahasnya. Lumayan, sih, ngurangin dosa. 


"Katanya kamu gak ada kepastian. Aku gatau kenapa temanku selalu bicara itu terus kalau ketemu. Tapi, aku nggak terhasut, sih, aku percaya kamu orang baik. Aku tau kenal bertahun-tahun bukan jaminan untuk kenal orang dengan baik. Tapi yang selalu aku tekankan, ya, bahwa kamu orang baik. Lagipula mereka nggak pernah ngobrol langsung dengan kamu. Mereka nggak kenal kamu. Aku percaya kamu, Vano." Kataku yang hampir terisak.


"Sejauh ini udah jelas sebetulnya, Wina. Kalau aku nggak suka sama kamu mana mungkin aku mau telponan sama kamu berjam-jam? Mana mungkin juga aku mau nyamperin kamu ke tempat kerja 'kan? Aku punya perasaan juga cuma, ya, aku malu untuk bilang langsung. Sorry, cuma bisa kasih action."


Dingin. Udara malam ini cukup dingin dan ucapan Vano cukup membuatku lebih baik. Jawaban yang kuinginkan sejak dulu. Just say it, kalau memang punya perasaan pun kalau tidak, aku akan tetap mencintai. Hatiku memang setangguh itu untuk mencintainya. 


"Semua orang punya cara masing-masing untuk mengekspresikan perasaan mereka, Vano. Makasih, ya, udah sangat baik padaku dan makasih sudah jujur."


"Hari ini kamu banyak sekali ucap makasih."


Aku tertawa. "Dan makasih sudah menyukaiku."


[]

Komentar

Postingan Populer