[2/4] The Day We Met

Siang itu Davira tiba di salah satu stasiun terbesar di Jakarta. Davira tidak mengabari ayahnya kalau ia ingin pergi menemui ayahnya di kantor. 


Lagi-lagi taksi membawa Davira menuju kantor ayahnya yang berada di Jakarta Utara. Davira tak sabar ingin bertemu ayahnya sekarang juga. Ada banyak kerinduan karena lama tak bertemu. Lagipula urusan kuliah Davira sudah rampung, hanya menunggu waktunya wisuda. 


"Sudah sampai, Mbak." Kata supir taksi. Begitu sampai di gedung tinggi. Gedung yang merupakan kantor milik ayah. 


"Ini kembalinya, Mbak." Ucap supir taksi menyodorkan kembalian. 


"Gak perlu, Pak. Buat bapaknya aja. Terima kasih, ya, semoga hari ini banyak penumpang." Balas Davira sambil tersenyum. 


"Ya Allah, udah dikasih uang tip terus di-do'a-kan. Duh, sehat-sehat, Mbak." Seru supir taksi dari kaca mobil. 


Davira melangkahkan kaki ke dalam gedung tinggi itu. Resepsionis langsung menyapanya.


"Ada yang bisa dibantu, Kak?"


"Saya ingin bertemu dengan Pak Hasan. Apa beliau ada?"


"Sebelumnya sudah buat janji belum, ya?"


Davira menggeleng, "ya, belum sih, Mbak."


"Waduh, kalau belum buat janji sepertinya rada sulit bertemu beliau siang ini." Kata resepsionis itu. 


Davira mengangguk. "Yaudah, Mbak. Saya telfon Pak Hasan dulu deh kalau saya udah tiba di sini."


Tiba-tiba saja salah seorang satpam datang. Dia melihat Davira. Satpam itu kenal Davira. Dulu satpam itu adalah satpam rumah yang ada di Bandung. Sekarang dia pindah ke Jakarta karena punya keluarga di sini. 


"Neng Davira?" Tanya seorang satpam. 


"Mang Ujang? Mang Ujang, apa kabar? Lama gak ketemu."


"Atuh neng, mamang sehat. Alhamdulillah. Neng Vira gimana?"


"Neng Siska, ini Neng Vira. Anaknya Pak Hasan." Kata Mang Ujang pada Siska, resepsionis yang tadi itu. 


"Aduh, maaf, saya nggak tau kalo kakak anaknya Pak Hasan. Coba saya hubungi beliau, ya, buat ngasih tau kalau anaknya ada di kantor." 


"Atuh gak usah Neng Siska, biar Mang Ujang aja yang anter. Gapapa."


"Maaf, ya, Kak Vira." Kata Siska tak enak hati. 


"Gapapa kok, Mbak."


-


"Sekarang karyawannya makin banyak, Neng." Ucap Mang Ujang sambil menekan tombol lift. 


Davira mengangguk, "iya, ya, waktu aku ke sini kayaknya karwayannya baru sedikit. Termasuk Mbak Siska tadi itu orang baru, ya, Mang?"


"Iya, itu baru tiga bulan kerja di sini. Belom lewat masa pro.. Pro apa sih neng bahasa Inggrisnya?"


"Probation, Mang."


"Nah, eta. Belom lewat masa probation!"


Mereka pun sampai di depan ruangan ayah Davira. Mang Ujang hanya mengantar sampai depan pintu.


"Makasih, Mang."


"A... A...Any...Anytime, Neng."


Davira tersenyum kecil, "keren. Sekarang jago bahasa Inggris, euy. Lanjutkan, Mang!"


Davira pun masuk meninggalkan Mang Ujang. Saat itu juga seorang lelaki melewati ruangan Pak Hasan. Andai obrolan Davira dengan Mang Ujang sedikit lebih lama. Mungkin sedikit rasa penasaran Davira terhadap sosok itu sedikit terjawab. 


-


Ayah mengajak Davira makan di restoran Jawa yang letaknya tak jauh dari kantor. Ya, sudah lama mereka tak makan siang bersama. 


"Kalo kurang nambah lagi aja," Ucap ayah senang melihat putrinya makan dengan lahap. Nafsu makan Davira bertambah juga berkat ayah. 


"Aku udah habis dua potong ayam bakar." Kata Davira. "Udah kayak porsi kuli ini."


Mereka pun tertawa. 


"Ngomong-ngomong, kamu ke sini cuma pengen nengokin ayah doang? Apa ada kepentingan lain?" Tanya ayah begitu Davira selesai dengan kegiatan makannya. 


"Ayah tau nggak soal Tante Diandra yang minta aku untuk pergi ke Kanada." Ucap Davira. 


Mata ayah membulat. "Kanada? Diandra gak bilang apa-apa ke ayah soal itu. Lagipula untuk apa dia meminta kamu untuk pergi ke sana?"


"HAH? SERIUS, YAH?!"


Davira mengerutkan keningnya. Bingung. Ternyata Diandra belum bahas apapun tentang Kanada pada ayahnya. Hal ini membuat Davira geram. Apa wanita itu punya maksud buruk? Entah. 


"Kata tante, aku harus kuliah lagi. Tapi aku belom siap. Aku baru lulus, Yah. Aku pengen kerja di perusahaan kayak orang lain. Aku pengen nikmatin uang dari hasil kerja kerasku sendiri."


"Alasan yang masuk akal, Nak. Cukup lakukan apa yang kamu suka dan kamu mau. Tapi, selama ini dia nggak melakukan hal yang aneh kan?"


"Aneh?"


"Iya, karena akhir-akhir ini ayah sulit mengubunginya. Kami jarang tukar kabar."


"Ayah, jadi nggak setuju kan kalau aku pergi ke Kanada?"


"Terlalu jauh, Nak. Nanti ayah susah ketemu kamu. Ini aja ayah jarang pulang. Nanti ayah tanya alasan Diandra minta kamu hijrah ke Kanada untuk apa."


Davira terdiam. Tak paham lagi dengan jalan pikiran Diandra. Sepertinya Diandra menyembunyikan sesuatu yang entah itu apa. Ada apa sebenarnya? 


Di tengah-tengah keheningan mereka, datanglah seseorang yang tiba-tiba berdiri di dekat meja. 


"Selamat siang, Pak Hasan." Sapa orang tersebut ramah. 


Davira dan ayahnya pun menoleh ke arah pemilik suara. Nafas Davira berderu. Seluruh badan mendadak keringat dingin.


"Kamu?" Davira takjub. Lututnya lemas. Semoga Davira masih sanggup hidup. 


[]

Komentar

Postingan Populer