[3/4] The Day We Met (Final)

6 bulan kemudian...

Faiz melihat Davira sedang sibuk mengetik sesuatu di laptop. Dia menghampiri gadis itu. Ada hal yang harus dibicarakan.


"Vira, kamu udah bikin modul untuk pelatihan minggu depan?"


"Udah selesai dari Minggu kemarin, Mas. Sekarang saya lagi nyusun pelatihan untuk divisi keuangan."


Faiz mengangguk, "cepet banget. Keren. Nanti kirim ke e-mail saya, ya. Seperti biasa mau di cek dulu."


"Siap, Mas." Balas Davira.


Kemudian Faiz kembali ke tempatnya. Ada perasaan senang di hati Davira. Padahal hanya mengobrol dengan Faiz.


"Mas Faiz?"


"Ya, Vira?"


"Hari Minggu kosong, nggak?"


Faiz menggeleng, "kosong, Vira. Ada apa?"


"Temenin nonton showcase Kahitna. Mau gak? Saya beli tiket dua. Tadinya mau nonton sama Danti. Tapi Danti kan lagi sakit. Jadi saya ajak Mas aja. Keberatan nggak, Mas?" Tanya Davira. Dia mengumpulkan keberanian untuk berkata demikian.


Davira jujur perihal Danti yang sedang sakit. Sudah tiga hari Danti tidak masuk. Ia dirawat karena tipes.


"Saya jemput di rumah kamu, ya."


"Eh, gak usah! Saya jemput Mas aja. Send loc aja kosan Mas Faiz dimana."


Faiz tersenyum, "nggak, Vira. Saya aja yang ke rumah kamu."


"Tapi Kak Vanya marah nggak, ya?"


"Marah kenapa? Apa hak Vanya marah sama saya? Vanya tuh cuma sepupu saya kali."


"Dih, badut banget si Johan beraninya bohongin gue." Batin Davira. 


-


Hari yang dinanti Davira pun tiba. Pagi ini dia di kamar, sibuk memilih pakaian yang cocok untuk pergi ke showcase. Masalahnya dia mau pergi sama Faiz. Harus tampil cantik. Katakanlah ini "first date" versi Davira. Yah, belum tentu Faiz menganggapnya demikian.


"Non, temennya udah datang." Seru asisten rumah tangga dari luar kamar.


"Suruh masuk, Bi. Buatin minum paling segar dan sediain camilan yang enak pokoknya deh. Anggap dia Raja Salman. Oke, Bi?" Balas Davira dari dalam kamar. Dia masih sibuk mencoba pakaian yang cocok.


"Siap, Non."


Davira melihat kemeja hitam polos dan rok selutut berwarna krem. "Cocok nih." Katanya sambil bercermin.


"Agak feminim sih, tapi gapapa deh. Tinggal pake flatshoes aja, nih. Beres!"


Davira kembali bercermin, "kok jadi deg-degan, ya?"


Kemudian Davira keluar dari kamarnya. Dilihatnya Faiz yang sedang mengobrol dengan ayah di ruang tengah.


"Wangi amat, pada mau kemana sih?" Tanya Ayah begitu melihat putrinya duduk di sampingnya.


"Gini, Pak. Saya mau nonton konser sama anak bapak. Sekalian jenguk Danti. Danti kena tipes, Pak."


"Ya Allah, dirawat dimana anak itu?"


"RS Persahabatan, Pak."


"Yaudah nanti saya kesitu. Kalian hati-hati, ya." Ucap Ayah. "Faiz, jaga anak saya. Cuma punya satu soalnya."


"Pasti, Pak. Aman, Pak. Inshaa Allah kembali dengan selamat." Ucap Faiz.


"Aku berangkat, ya, Yah." Davira menyalami ayahnya pun Faiz yang ikut menyalami bosnya.


-


"Duh, makan yang banyak, Nti." Saran Davira begitu melihat Danti berbaring di kasur dengan selang infus bening yang terhubung dengan tangannya.


"Iya, iya, kalian berdua serius cuma jenguk gue doang tadi serapi ini?" Tanya Danti penasaran.


Faiz menggaruk kepalanya. "Mau non.." Ucap Faiz namun Davira menginjak kakinya.


"Mau pergi temenin gue ke mall. Nyari flatshoes baru, Nti." Balas Davira. Terpaksa harus berbohong.


Selesai menjenguk Danti mereka pun langsung menuju lokasi showcase. Showcase diadakan di salah satu cafe yang ada di bilangan Jakarta Selatan. Memang cafe itu baru buka dan opening-nya mengundang Kahitna. 


"Enak kan naik motor?" Ledek Faiz begitu sampai di parkiran cafe.


"Adem, ya. Haha. Maklum norak."


-


Kahitna membawakan lagu Rahasia Cintaku (Baper). Lagu sendu yang biasa Davira dengarkan saat merasa galau. Faiz melihat Davira, kelihatan gadis itu sangat menikmati lagunya.


Dan aku mencintaimu

Sungguh-sungguh tanpa kau tahu

Tersimpan di dalam hatiku

Selamanya ini jadi rahasia cintaku


Kemudian Davira menatap Faiz. "Kalau ada perempuan yang menyukai Mas Faiz, bagaimana tanggapan, Mas?"


"Kenapa bertanya demikian?" Faiz penasaran.


"Gapapa, saya cuma mau tau opini Mas aja." Balas Davira. 


Faiz tersenyum kecil, "ada yang nyatain suka ke kamu, ya, Dav?"


Davira menggeleng, "nggak ada, Mas. Kok malah balik nanya?" Gadis itu tertawa.


Faiz menatap mata Davira. Mata Savira berkilau seperti bintang kecil di langit malam. Memukau. Teduh bila ditatap. Di matanya juga ada keberanian dan kegigihan. Gadis yang tangguh.


"Kalau orangnya itu saya, gimana?"


"Eh?" 


[]

Komentar

Postingan Populer