[FANFICTION] Homo Socius (One Shoot)
Musim gugur tiba. Musim yang sangat Nara sukai. Meskipun bukan pertama kalinya merasakan musim ini, tapi Nara betul-betul menikmati musim ini.
Nara merekatkan jaketnya begitu angin berhembus. Perkuliahan belum berakhir. Ini jam istirahat. Nara tak punya banyak teman, dia hanya bicara seperlunya. Sebagian teman menilainya sebagai teman di kelas yang membosankan. Nara lebih suka menghabiskan waktu sendiri saat istirahat. Dan, jam istirahat ini ia ingin makan di kantin sendirian.
"Hendery." Ucap seseorang lelaki yang tiba-tiba datang. Dia duduk di depan Nara. Nara yang sedang mengunyah hanya melirik saja tanpa berekspresi apapun.
"Kau selalu sendiri," kata Hendery sok akrab. "Kemana temanmu?"
Hendery merupakan senior Nara. Dia merupakan mahasiswa seni rupa. Nara pun sama. Hendery mengulang mata kuliah karena nilainya banyak yang E. Semester lalu dia tak fokus kuliah karena harus bekerja untuk membayar biaya semester. Semester ini dia akan berusaha memperbaiki nilainya.
"Teman?" Nara menaikkan alis. "Aku tidak punya teman."
"Bagaimana bisa kau hidup tanpa punya teman?"
"Aku sedang tidak mood mengobrol. Lebih baik habiskan makananmu."
Hendery menggaruk kepalanya, "ah, ya, baik. Aku akan menghabiskannya."
-
Hendery menutup lokernya seusai mengambil binder berisi catatan kuliah. Sebetulnya ia paling malas mencatat tapi kali ini ia harus rajin karena tidak ingin mengulang mata kuliah lagi. Mengingat biaya kuliah di sini cukup mahal. Dia tidak ingin jadi beban orang tua lebih lama.
Dia tiba di kelas, duduk di bangku belakang. Tak disangka Nara duduk di depannya. Tepat di depannya.
"Hai." Sapa Hendery ramah. Nara hanya menoleh ke arah Hendery dengan tatapan datarnya. Dia tidak suka dengan Hendery yang sok kenal dan sok dekat.
"Dia itu kenapa sih?!" Gumam Hendery. "Apa dia benar-benar nggak butuh teman?"
Selesai mata kuliah. Nara langsung merapikan buku-bukunya. Dia hendak ke kantin seperti biasa dia selalu sendiri. Namun sebelum Nara pergi, Hendery memegang lengan gadis itu.
"Aku ikut!"
"Terserah kau sajalah!" Ucap Nara pasrah.
Nara berjalan menyusuri koridor sedangkan Hendery terus bercerita tentang makanan enak di kantin. Duh, soal makan siang Nara lebih suka makan seporsi gimbab dan susu pisang saja.
"Gimana kalau kita coba makan siang di luar kampus? Aku tau kedai ramen enak. Tenang, harganya sesuai kantong mahasiswa kok."
"Aku tidak tertarik."
Hendery berdesis, "ayolah, aku yang teraktir!"
"Tapi aku nggak minat, wahai senior yang suka maksa!" Balas Nara kesal. Seniornya yang satu ini cukup menyebalkan.
"Ah, pokoknya harus ikut! Kau harus coba. Pasti mood-mu langsung lebih baik, Nara."
Nara menghela nafas. Dia merekatkan sling bag-nya. Dasar Hendery tukang paksa! Baiklah, kali ini Nara ikut.
"Ini helm-nya!" Kata Hendery sambil menyodorkan helm. "Ambil, apa perlu aku yang pakaikan?"
"Nggak perlu!" Nara langsung mengambil helm itu dan memakainya dengan cepat.
-
Setibanya di kedai ramen, mereka pun langsung masuk. Kedai itu memang tidak terlalu besar. Mereka duduk di bangku yang kosong. Tempatnya tidak terlalu ramai. Hendery bilang kalau tempat ini ramai saat jam sore atau malam hari.
"Kau harus coba ini, Nara." Kata Hendery sambil menunjuk menu.
"Katsu ramen?"
"Betul, enak sekali lho itu. Bisa juga tambah nasi."
"Sejak kapan makan ramen bisa campur nasi? Aduh, kau ini orang yang sangat aneh!"
"Kau itu belum tau sih sensasi makan nasi campur ramen. Apalagi dimakan ditambah potongan katsu."
"Sungguh, kau orang yang aneh!" Nara bergidik.
"Hahaha yang penting kenyang."
Pesanan mereka pun datang. Benar saja pelayan itu menyediakan dua mangkuk nasi. Kata Hendery enak makan ramen campur nasi. Sungguh ide yang anti-mainstream.
"Gimana? Enak kan?" Tanya Hendery ketika Nara mencoba kuah ramen itu.
Nara mengangguk, "ya, seleramu tidak buruk. Ini enak."
"Mulai sekarang kita teman kan Nara?"
"Teman? Apa teman itu ada? Bukankah yang ada hanyalah manusia yang saling membutuhkan? Manusia saling berhubungan karena adanya timbal balik. Take and give."
Hendery diam sejenak. Nara benar. Tapi Hendery tak juga salah jika dalam hidup ini kita memang butuh teman.
"Tapi, kau butuh teman Nara. Teman yang bisa kau ajak bercerita, kerja kelompok, dan bertukar pikiran. Memangnya saat kau SMA tidak punya teman, ya?"
Nara tersenyum kecut. "Aku tidak ikut sekolah formal. Ibuku menyuruhku ikut homeschooling. Aku pernah jadi korban bully saat kelas 3 SD."
Hendery memegang tengkuknya. Dia prihatin mendengar cerita memilukan itu. Dia jadi tak enak hati. Jadi sikap Nara yang kurang menyenangkan padanya adalah upaya pertahan diri supaya kejadian lalu tidak terulang lagi.
"Nara, maaf.. Aku.. "
Gadis itu tersenyum. Dia menenggak air mineral lalu bernafas lega.
"Tidak apa-apa."
Mereka melanjutkan kegiatan makannya. Tidak ada obrolan setelahnya. Nara menikmati hidangan yang tak biasa ia makan. Gadis itu jarang makan di luar seperti ini. Di rumah dia selalu makan makanan yang bergizi seperti makanan organik. Ibunya memang sangat waspada kalau makan di luar.
Hidup Nara memang sangat membosankan. Sekolah homeschooling, harus selalu makan sehat, dan orang tuanya cukup protektif. Maka dari itu Nara senang saat kuliah dia bisa sedikit 'bebas'. Meskipun tidak punya teman.
"Terima kasih atas kebaikannya."
Hendery memegang dahi Nara. "Kau sedang tidak mengigau kan?"
"Tidak. Terima kasih, ya. Ternyata kau orang baik. Maaf, kalau aku selalu mengindarimu. Aku hanya takut berteman dengan orang lain. Tapi, aku akan mencobanya."
"Maksudmu? Kau mau jadi temanku, Nara? Berteman dengan orang freak yang makan ramen campur nasi?" Kata Hendery sambil tertawa.
"Aku tidak keberatan. Kapan-kapan jika kau ajak aku makan steak pakai nasi itu juga tidak apa."
Hendery tersenyum. "Oke, hari ini kita berteman. Jadi perkenalkan namaku Hendery." Hendery menjulurkan tangan.
"Aku Nara. Mohon bantuannya Kak Hendery." Ucap Nara sambil menundukkan kepala.
[]
Komentar
Posting Komentar