Breadcrumbs

Hari ini aku tersenyum, bukan karena aku mendapatkan hadiah tapi karena beberapa hal sudah terjawab tanpa aku harus bersusah payah mencari. Intuisiku selalu bekerja dengan baik, bukan karena aku sensitif tapi karena intuisi ini berdasar pada isi hati terdalam.

Soft rejection. Kalian kenal istilah itu? Aku bilang begini karena seseorang tidak menolak aku namun dia memberikan pernyataan yang membuatku melangkah mundur. Sebetulnya aku tidak menjelaskan perasaannku padanya, tapi sepertinya dia menganggap bahwa perhatianku padanya adalah bentuk "cinta". Apa dia menganggap kalau aku kecintaan? Entah. Tadinya kuingin membuka hati namun aku memilih untuk tidak memberikannya.

"Sebenarnya banyak yang deketin aku", ucapnya lewat chat. Kata-kata itu cukup membuatku sadar dan memahami dirinya. Dia tidak siap untuk berkomitmen. Memang tidak semua hubungan akan berlabuh pada tujuan yang indah. Namun ucapannya membuatku berpikir, "apakah dia merasa diinginkan?"

Aku pernah ada di posisi dekat dengan banyak orang namun aku tak menjelaskan pada pria-pria tersebut. Aku juga menyeleksi namun aku tidak mengaku kalau aku sedang menyeleksi.  Ya, karena buat apa aku bilang kalau aku banyak didedekati pria lain? Yang ada mereka berpikir bahwa aku terlalu percaya diri. Bukankah itu aneh? 

Tak hanya itu saja, dia bilang bahwa dia takut kalau aku berharap padanya. What? Aku memang menyukai dia. Namun rasa sukaku itu tidak membuatakan mataku. Tidak menggelapkan hatiku. Sebagai manusia yang bijaksana, kujawab saja bahwa aku tidak berharap pada siapapun karena aku mencintai diriku. Semoga ego-nya nggak kesenggol sih, ya.

Harga diriku terlalu tinggi untuk mengejar lelaki yang sudah blak-blakan bilang bahwa aku tak boleh berharap padanya. Beruntungnya aku punya hobi jurnal, jadi aku bisa refleksi diri dan banyak berpikir tentang kejadian yang kualami. Aku bersyukur bahwa logikaku masih waras. Ya, memang aku sedikit kecewa dengan ucapannya tapi itu lebih baik daripada aku menuruti egoku untuk terus berada di dekatnya.

Aku bersedia menjadi temannya namun kupastikan dia tidak akan mendapatkan perhatianku secara eksklusif. Aku akan menempatkan diriku sebagai teman baik bukan seseorang yang bersusah payah agar dilirik menjadi seorang kekasih.

Persoalan hidup sudah terlalu kompleks. Aku tidak ingin hidup penuh dengan drama yang dimana aku sudah tahu jawabannya. Intinya aku enggan terlibat drama. Dunia ini begitu luas, di luar sana akan ditemukan oleh seseorang yang menjadikanku prioritas.

Jika aku bisa mendapatkan roti enak yang mahal, kenapa aku harus menerima remahan roti? Namun ini bukan soal roti. 

Komentar

Postingan Populer