Sandwich Generation (Short Story)

Alarm-ku berbunyi. Aku bangkit dari tidurku. Mandi, berpakaian rapi, dan sarapan dengan roti yang tadi malam kubeli di warung sembako. Aduh, jangan harap tanggal tua begini bisa sarapan sekotak sereal. Bisa beli air isi ulang rasanya sudah bersyukur. Resiko yang harus kuterima ketika nekat pergi ke luar daerah karena minim pekerjaan di kotaku. Ditambah gajinya kecil. Tak cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Apalagi dengan kondisi sandwich generation. Aku harus membiayai kebutuhanku, kebutuhan keluargaku, dan biaya pendidikan adikku. Ini sangat membuatku babak belur. Tapi, begitulah kehidupanku. 


"Ya, Bu. Aku belum gajian. Nanti aku pasti transfer kalo uang gajian turun."


"Iya, aku ingat kok. Adik bayar semester kan?"


"Iya, Bu. Aku mau berangkat kerja dulu."


Kututup telfon dari ibu yang pagi-pagi sudah menelfon. Minta dikirimi uang karena uangnya mulai menipis. Padahal tiga hari yang lalu aku sudah mengirimkannya uang. Katanya uang itu untuk membayar hutang ayah. Iya, ayahku entah pergi kemana. Dia pergi meninggalkan kami dengan sejumlah utang yang cukup besar. Aset di rumah pun sudah banyak yang dijual dan diambil collector. Hal itu yang membuatku harus bekerja jauh dari ibu guna membiayai keluarga kami. Sedih, ya? 


Setibanya di kantor, aku langsung membuka laptop. Siap membalas ratusan DM yang masuk. Ditambah ratusan e-mail dari para customer. Begitulah pekerjaanku, kaitannya dengan pelayanan. Harus tetap melayani dengan sepenuh hati walau kadang customer memaki. 


-


"Karokean, yuk!" Ajak seorang rekan kerja. Manda. 


Aku menutup lokerku. "Sorry, Man. Gak ikut dulu."


"Ya ampun, sering banget deh lo nolak ajakan pergi. Emang sesibuk itukah hidup lo sampe gak ada waktu buat refreshing?" Tanya Manda dengan nada bicara yang sedikit tinggi. 


Yah, mungkin dia kesal karena aku sering menolak tawarannya untuk keluar. Bukannya tak mau ikut tapi uangku tak akan cukup sampai akhir bulan jika aku menyetujui tawaran Manda. 


"Sesekali lah, have fun, Fera!" Sambar Coki. Cowok dengan mulut ember. Ewh. Aku yakin dia senang bergaul dengan Manda karena dia senang muncul di instastory Manda. Dengan begitu followers-nya naik. Manda kan gadis dengan sepuluh ribu followers.


"Tau nggak asik banget sih!" Cibir Manda. 


"Manda, lo seharusnya nggak bilang gitu. Kita kan gak pernah tau apa yang dialami sama Fera. Mungkin dia punya keperluan lain. Makanya dia selalu menolak tawaran lo." Kata Aqila. 


Aqila benar. Aku memang tidak terlalu dekat dengan Aqila tapi kali ini aku setuju dengan jawabannya. 


"Kok lo jadi belain Fera, sih, La? Lo kan sahabat gue?" Ucap Manda yang mulai emosi. 


"Man, gue gak bela siapa-siapa. Gue cuma menyampaikan hal yang menurut gue pantas untuk disampaikan aja kok."


Manda tersenyum kecut, "ilmu konseling lo gak berlaku disini, Aqila Wirawan. Di sini lo tuh kerja jadi CS bukan untuk nasehatin gue. Toh lo ceramah pun gue gak akan bayar lo sepersen pun!" Ucap Manda. Dia langsung pergi bersama dengan Coki. 


"Gak nyangka Manda kayak gitu banget." Aqila memijit pelipisnya. 


"Sorry, La. Gara-gara gue nih lo jadi kena semprot sama Manda."


Aku jadi tak enak hati. Aqila jadi kena batunya gara-gara meleraiku. 


"Gak, bukan salah lo. Emang dasar Manda yang keras kepala. Bodohnya Coki malah diem aja. Manut. Takut kali gak ditemenin. Padahal temen bukan cuma Manda doang." Ucap Aqila. Kedengarannya penuh kecewa. 


"Gak rugi juga gue kehilangan temen kayak gitu." Lanjutnya. 


Aqila memegang lenganku, "makan malam di kosan gue yuk? Yah, walaupun lauknya cuma mie goreng campur telor. Gimana?"


Aku tersenyum. "Boleh, lagian itu makanan paling nikmat kalo lagi tanggal tua gini."


Hahahaha. Aku dan Aqila sangat tertawa bersma. Yah, setidaknya aku punya yang senasib denganku kalau soal hemat. 


-


Hidangan sudah siap. Ada mie goreng campur telur, kerupuk, dan nasi putih. Tak lupa ada tempe goreng. Tadi kami membeli tempe goreng dulu di tukang gorengan. Aku rasa makanan malam ini sudah sangat nikmat. Apapun harus disyukuri kan? Tanpa harus membandingkan nasibku dengan orang lain, aku besyukur malam ini bisa makan dengan sahabat yang mengerti aku. 


Ya, lewat kejadian ini aku jadi mengerti tentang Aqila. Aqila ini yang bicaranya sedikit. Ngobrol kalau ada urusan kerja saja. 


"Cheers untuk sandwich generation!" Ucap Aqila sambil mengangkat gelas berisi es teh. Lagi-lagi dia menertawai nasibnya sendiri. Walaupun aku tahu di balik senyumnya ada rasa sedih. 


"Hahaha. The real sandwich generation. It's not bad. Bagian dari hidup yang gak perlu disesali." Ucapku.


"Iya, apapun yang Tuhan kasih wajib disyukuri termasuk kerupuk seharga 2000 yang kita beli di warung ini." Kata Aqila sambil memegang sebungkus kerupuk seharga 2000 itu. 


"Hahaha bener juga lo,"


[]

Komentar

Postingan Populer