Dear You (Short Story)
Aku jatuh cinta. Mungkin kedengarannya hal yang biasa. Bagiku sendiri, ini tidak masuk akal. Bagaimana bisa aku mencintai orang yang bagiku sulit untuk diraih? Sulit pula menerjemahkan perasaan ini. Perasaan yang tumbuh tanpa bisa dicegah. Semakin lama malah semakin mengakar.
Apakah aku egois jika aku berkata menyukaimu? Kau hanya bisa kutatap dari bangku ini. Bangku sekolah. Itupun aku harus menoleh ke belakang. Pura-pura melihat jam dinding kelas agar aku bisa melihatmu. Apakah aku salah memiliki perasaan yang begitu hebat kepadamu? Kurasa kau pun takkan mengetahuinya meskipun kita berada di kelas yang sama.
Aku memang tidak pandai menyembunyikan perasaanku. Sampai salah satu sahabat mengetahui perasaanku ini dan dia berkata, "kenapa bisa? Kalian kan tidak pernah saling bicara."
Aku tahu, aku tidak punya keberanian untuk mengajakmu bicara dan kau pun seorang yang sedikit bicara. Tapi, bila saja kau tahu bahwa aku ingin sekali berbicara denganmu. Aku pun tidak akan meminta balasan yang sama atas perasaanku. Aku hanya ingin mencintaimu saja. Karena dengan cara itu aku merasa bahagia. Merasa jadi manusia seutuhnya karena punya cinta.
Hari demi hari kulalui dengan perasaan yang membahagiakan ini. Selalu menunggu hari untuk bertemu dengan kau di sekolah. Aku selalu datang paling awal. Melihat kau berjalan di koridor sekolah dengan jaket baseball berwarna merah-putih. Tak lupa sepatu kets hitam dengan tali sepatu hitam.
"LKS Bahasa Indonesia dikumpulin di lo, ya?" Tanyamu.
Aku menarik nafas sejenak. Tuhan, jantungku mau loncat. Mata sipit itu. Sorot matanya begitu mempesona. Rambut yang dicukur rapi membuatku terpana. Kau semenarik itu. Aku jatuh cinta lagi dan lagi. Yang aku tahu pasti tidak akan ada yang bertanggungjawab atas apa yang kurasakan.
"Iya, udah selesai?"
"Ada yang belom nih."
"Yang mana?"
Kau membuka LKS. Menunjuk soal yang belum terjawab, "ini, gue gak ngerti."
"Oh, itu jawabannya B."
Dengan cepat kau langsung menandai opsi yang kusebutkan.
"Makasih, ya." Katamu sambil tersenyum.
Pertama kalinya aku berbicara dengamu. Pertama kalinya aku bisa menatap matamu lebih dekat. Matamu indah. Lebih indah dari gugusan bintang langit. Kuharap, aku bisa melihat mata itu dengan jarak sedekat ini lagi.
Saat kau hendak kembali ke mejamu. Tanpa sengaja aku menarik seragam yang kau kenakan.
"Ada apa?"
Aku tidak tahu kenapa aku jadi sedih saat kau bertanya seperti itu padaku. Untunglah di kelas tidak ada orang, hanya ada aku dan kau.
Aku menangis. Tidak bisa menahannya lagi. Aku ingin lebih banyak bicara denganmu. Aku ingin bisa menatapmu lagi. Aku ingin dengar suaramu yang menenangkan. Aku egois hari ini. Aku benci diriku. Dasar payah, tidak bisa mengontrol diri.
"Kenapa?" Tanyamu khawatir dan kubalas dengan gelengan kepala. Riuh terdengar suara teriakan dari luar kelas. Hari ini memang classmeeting tapi LKS Bahasa Indonesia harus dikumpulkan untuk tambahan nilai.
"Kenapa nangis?"
Aku menggeleng lagi. Sial, air mataku jatuh lagi. Aku takut tidak bisa berbicara denganmu lagi. Aku hanya menunduk di depanmu. Bodoh, aku bodoh.
"If you need someone to talk, lo bisa datang ke gue. Gue gak keberatan."
Kau memegang bahuku, "ayo, berteman baik. Teman yang saling tukar cerita setiap hari."
Teman? Ya, teman. Aku bahagia mendengarnya. Setidaknya dengan berteman denganmu aku bisa satu langkah lebih dekat denganmu. Dengan begitu aku bisa tahun apa saja yang menjadi kesukaanmu.
"Mau kan jadi temen gue? Sebenarnya gue ingin berteman sama lo. Ditambah udah kelas 12, pengen akrab sama semua orang di kelas. Termasuk lo."
Dia ingin akrab denganku? Apa aku tidak salah dengar?
"Sekarang nangis aja sepuasnya. Gak ada orang di sini selain kita. Nanti pulang sekolah gue anter pulang, ya?"
[]
Komentar
Posting Komentar