[3/4] The Day We Met
Lelaki itu berdiri di depan Davira. Ayah mempersilahkannya duduk. Davira tak percaya kalau lelaki itu ada di sini. Terakhir ia bertemu lelaki itu di Bandung.
"Nak, kenalin ini salah satu staf di kantor ayah. Namanya Faiz."
Davira meneguk salivanya. Katakanlah ini bukan mimpi. Bukan mimpi. Davira meyakini dirinya berkali-kali bahwa ia sedang tidak berkhayal.
"Vira, kok bengong?!" Ayah melambaikan tangan di depan wajah Davira. Sementara Faiz masih menjulurkan tangannya. Davira tersadar kemudian menjabat tangan itu. Grogi.
"Davira. Panggil aja Vira." Ucap Davira mencoba tenang.
"Faiz Ikhwan."
"Kamu orang Bandung kan?" Davira keceplosan. Kemudian dia langsung menutup mulutnya.
Faiz menatap Davira, "Saya bukan orang Bandung cuma pernah tinggal di Bandung aja. Kamu pernah lihat saya, ya?"
Vira mengangguk, "sering."
"Serius?" Tanya Faiz. Untungnya ayah sedang keluar. Sedang terima telfon.
"Ini punya kamu kan?" Davira memberikan nametag milik Faiz. Waktu itu ia menemukan benda itu di taman.
"Lho itu kan punya Faiz, kenapa kamu yang pegang, Nak?" Tanya Pak Hasan yang kembali ke meja.
"Aku nemuin itu di bangku taman, Ayah."
"Oh, kebetulan banget, ya." Ucap Ayah. "Faiz, silahkan duduk. Pilih aja mau pesan apa."
Faiz pun duduk di samping bosnya. Diam-diam Davira memperhatikan Faiz. Namun saat mata keduanya bertemu, Davira langsung mengalihkan pandangannya.
-
Davira tidak hijrah ke Kanada, dia memutuskan untuk tinggal Jakarta dengan ayahnya. Rumah di Bandung tetap dijaga oleh satpam dan diurus oleh asisten rumah tangga. Sedangkan Diandra, dia ternyata seorang wanita licik. Dia ternyata punya pacar yang usianya jauh lebih muda darinya. Dia gemar foya-foya dan menghabiskan uang. Pantas saja dia ingin Davira pergi ke Kanada. Ya, itu merupakan rencananya untuk menguasai seluruh kekayaan milik ayah Davira. Sayangnya, rencana itu diketahui Davira dari rekaman CCTV. Dia ketahuan beberapa kali membawa pria ke rumah saat Davira tak ada di rumah. Mengetahui itu, ayah langsung meminta cerai.
Dugaan Davira terhadap Diandra kini jelas terbukti. Davira selalu menduga bahwa Diandra gadis yang licik. Dan kenyataannya benar begitu.
Sekarang hidup Davira jauh lebih tenang. Kini Davira bekerja di perusahaan ayahnya. Statusnya bukanlah manager melainkan trainer staff.
"Davira, kamu ada kendala apa selama bekerja?" Tanya Faiz. Faiz merupakan leader Davira.
"Alur kerja terlalu cepat, Mas. Kadang saya kewalahan. Tapi teman-teman turut membantu. Jadi merasa tertolong. Ke depannya, saya akan berusaha lebih keras, Mas."
Faiz tersenyum. Davira merupakan gadis yang tangguh. Dia suka melihat semangat gadis itu.
"Mohon bantuannya, ya, Mas."
"Iya, Vira. Kalo ada kesulitan kasih tau aja. Pasti saya bantu. Makasih, ya, Vira. Kamu udah berusaha dengan baik." Ucap Faiz tulus.
Awalnya Faiz pikir Davira adalah gadis manja yang tidak mau bekerja di perusahaan ini apalagi posisinya hanya staf biasa. Tapi, ternyata Davira tidak demikian. Gadis itu pekerja keras.
Faiz suka Davira tidak pernah pamer kekayaan. Padahal hal yang mudah bagi Davira untuk membeli pakaian mahal, perhiasan, dan gadget yang super mahal. Tapi, dia tidak melakukannya. Davira hidup dengan penuh kesederhanaan. Tanpa ia sadari beberapa orang di kantor menyukainya. Menyukai sikap dan kesederhanaan gadis itu.
"Saya permisi, ya, Mas." Davira pun pamit. Dia menghela nafas panjang setelah bertemu dengan Faiz. Jujur, hatinya selalu berdebar ketika bertemu dengan Faiz. Sebahagia itu.
"Kenapa senyum-senyum sendiri?" Tanya seorang rekan. Namanya Danti.
"Gapapa kok, lo udah makan siang, Nti?"
"Belum nih,"
"Bareng yuk, gue yang traktir deh!" Ajak Davira. Dia memang punya hobi traktir orang.
-
Danti merupakan payroll staff. Umurnya hanya beda satu tahun saja dengan Davira. Mereka sama-sama fresh graduated. Karena perbedaan usia yang tidak terlalu jauh, mereka memiliki selera musik yang sama. Katakanlah Danti satu frekuensi dengan Davira.
"Dav, lo kenapa nggak kerja di Bandung aja? Kan deket sama rumah lo. Lagipula di Bandung kan ada cabang kantor bokap lo."
"Lagi pengen suasana baru aja, Nti."
"Lagi lo aneh dah, lo kan anaknya owner kenapa bisa mau jadi staff biasa?"
"Duh, gue cuma pengen berproses kok. Kesuksesan gak ada yang instan kan?" Balas Davira sambil menyuap mulutnya dengan gado-gado yang barusan ia beli.
"Tapi lo punya privilege yang belum tentu semua orang punya. Bukankah lebih baik dimanfaatkan, ya?"
"Gue udah memanfaatkan itu kok. Tandanya gue bisa kerja di sini sementara orang lain harus sini aja harus melalui proses yang panjang. Dan sekarang tinggal diri gue mau belajar apa malah ngandelin jabatan orang tua. Lagian di dunia ini apa sih yang dicari? Kalo harta semalem bisa habis."
"Terus status juga bisa berubah kapan aja kan? Gue cuma pengen banyak belajar apalagi masih muda. Kalo kita mau doa dan usaha pasti rejeki bakalan ngikut kok. Ini gak idealis kan?"
"Ya, nggak, sih. Bener juga apa yang lo bilang barusan."
Saat mereka sedang duduk di pantry, seorang lelaki datang menghampiri mereka.
"Boleh gabung?" Ucap lelaki itu sambil membawa paper bag yang isinya makanan dan minuman.
"Silakan, Kak." Danti mempersilakan. Lelaki itu pun duduk bersama Danti dan Davira.
"Davira, itu ada bumbu kacang di sudut bibir kamu." Kata lelaki itu sambil menyeka bumbu kacang dari sudut bibir Davira dengan tisu yang ia pegang.
Davira terdiam sejenak. Mengerutkan dahi. "Ini orang kenapa sih?"
Begitu makanannya habis, Davira bangkit dari bangku. "Gue duluan, ya, Nti." Ucap Davira.
"Dav, mau kemana? Tungguin gue!" Seru Danti tapi Davira tak menghiraukan. Entah mengapa dia tidak selera makan karena ada Johan di dekatnya.
-
"Dav, gue balik duluan, ya. Ojol gue udah mau sampai nih. Gapapa gue tinggal?"
"Gapapa, Nti. Duluan aja. Hati-hati, ya." Balas Davira.
"Sip, lo juga hati-hati, ya."
Jam sudah menujukkan pukul delapan malam. Davira pun merapikan mejanya. Kantor juga sudah mulai sepi.
"Mau pulang bareng gak?" Ajak seorang lelaki. Namanya Johan. Dia merupakan senior.
Davira menggeleng, "gak, Kak. Saya pulang sendiri aja." Jawab Davira sambil tersenyum.
"Kak Johan, Mas Faiz ada dimana, ya?" Tanya seorang perempuan yang tiba-tiba berteriak dari ambang pintu.
Melihat itu Johan langsung merespon, "lantai tiga, Vanya."
"Oke deh, thank you, Kak!"
Johan tak kehilangan akal. Dia masih ingin mengobrol dengan Davira. Bagi Johan gadis ini beda. Sangat beda. Menarik untuk didekati.
"Mau tau nggak? Yang tadi itu kan pacarnya Faiz."
Deg, Davira langsung menatap Johan tajam. Kemudian dia langsung membuang muka.
"Apa urusannya sama saya, Kak?" Tanya Davira polos padahal hatinya sudah panas.
"Gapapa cuma mau kasih tau aja, soalnya disini banyak suka sama Faiz. Kali aja kamu termasuk." Jawab Johan.
"Yeee, suka-suka gue lah. Mau suka Mas Faiz atau nggak. Gak ada urusannya juga sama lo, kocak." Batin Davira.
"Tapi serius tipe Mas Faiz kayak gitu? Yah, jelas sih gue kalah saing. Dia cantik dan sedangkan gue?" Lagi-lagi dia ngomong sendiri di dalam hati.
"Ayo, aku antar pulang!" Ucap Johan memegang lengan Davira.
"Lepasin, Kak. Saya udah dijemput sama supir pribadi saya."
"Maksud kamu supir pribadi itu taksi?" Tanya Johan. Johan memang belum tahu kalau Davira adalah anak dari owner perusahaan ini.
Davira tak punya waktu lagi untuk meladeni ocehan Johan. Lebih baik dia pergi. Johan terus memanggil Davira dan mengejarnya hingga basement. Di basement, langkah Johan terhenti begitu melihat Davira masuk ke dalam mobil.
Sementara di dalam mobil, Davira masih memikirkan tentang hubungan Kak Vanya dan Mas Faiz.
[]
To be continued...
Komentar
Posting Komentar