Cerita di Warung Tenda (Short Story)
Hariku selalu sibuk. Rasanya tak pernah lepas dari pekerjaan. Banyak email yang harus dikirimkan tiap harinya dan banyak nomor orang penting yang harus kuhubungi satu persatu. Kalau bukan karena pekerjaan rasanya malas membuka chatroom.
Kulihat teman-temanku sibuk. Wajah mereka tampak horor. Lelah. Sampai badanku sakit semua. Mata panas menatap layar laptop. Kuping panas melakukan panggilan dengan kandidat untuk interview.
"Buat lo, Di." ucap seorang rekan sambil memberiku cokelat rasa matcha.
"Oleh-oleh dari sepupu gue abis dari Osaka." Katanya lagi.
"Thanks, ya." Jawabku.
Matcha. Matcha mengingatkanku pada gadis yang pernah memberiku cokelat rasa matcha. Sudah beberapa bulan aku tak menemuinya. Sebetulnya aku ingin sekali bertemu dengannya tapi sulit ada waktu. Bahkan untuk self-time saja sulit. Bukannya tak menemui, aku belum siap bertemu siapapun.
Kondisi ini membuatku semakin tertekan. Seringkali mendapatkan pekerjaan dadakan saat weekend. Saat weekend, aku hanya bersepeda guna melegakan pikiran. Untuk saat ini, bersepeda merupakan hiburan yang paling murah. Biasanya aku pergi staycation dengan teman atau paling tidak jelajah luar kota dengan teman-temanku. Tapi, saat ini sedang ingin sendiri. Merenung. Healing. Aku butuh waktu untuk bertemu dengan banyak orang.
Aku menutup laptopku begitu hari mulai gelap. Aku tidak ingin menghabiskan waktu terlalu lama di kantor karena tidak dihitung lembur juga.
"Mau langsung balik?" Tanya seorang rekan. Yogi.
"Iya, Bang."
"Yaudah hati-hati, ya. Tadinya mau ngajak makan dulu bareng anak-anak."
"Duh, sorry, ya, Bang. Gue lagi pengen balik cepet. Biar cepet aja sampe rumah." Kataku beralasan. Aku lagi unmood ketemu banyak orang.
Yogi mengangguk, "siap dah, Hati-hati, bro."
"Yoi, Bang."
Jalanan yang biasa kulewati tidaklah terlalu padat. Masih bisa merasakan teduhnya pohon-pohon besar di sepanjang jalan. Kadang jadi ingat di jalanan ini adalah saksi bahwa aku dan gadis itu untuk pertama kalinya dipertemukan lagi setelah bertahun-tahun tidak berkomunikasi. Gadis itu bilang padaku bahwa dia menyukaiku sejak lama. Saat kami masih memakan seragam putih abu-abu.
Ah, kenapa dia baru bilang, ya? Apa karena dia takut perasaannya tak terbalas. Atau dia takut karena aku sudah punya pacar kala itu? Entah. Gadis itu unik. Sangat unik. Dia mencintaiku dengan cara yang nyaris membuatku tak habis pikir. Dan yang selalu menjadi pertanyaan adalah, "kenapa bisa mencintaiku?"
Dia mencintaiku dengan cara menulis tentangku di blog pribadinya. Dia menyisipkan nama tokoh yang namanya mirip dengan nama asliku. Dia bilang aku adalah inspirasinya membuat cerita pendek. Apa iya aku seberharga itu buatnya? Apa aku pantas mendapatkan cintanya? Lebih tepatnya lagi, apakah aku bisa mencintai dia? Aku pun bingung.
Aku berhenti di salah satu kedai yang tak lokasinya tak jauh dari rumah. Ibuku pasti tidak masak. Jadi aku harus beli makan di luar. Namun saat aku hendak masuk ke dalam kedai guna membeli seporsi bubur kacang ijo khas Madura. Aku melihat gadis itu sedang memarkirkan motornya di warung tenda. Warung tenda yang menjual bakso.
Kulihat pakaiannya rapi. Dia memakai kemeja dimasukkan ke dalam celana, lengkap dengan celana bahan hitam yang biasa ia pakai. Flatshoes hitam yang terlihat simpel tapi cocok untuknya. Dia memang lebih cocok memakai sesuatu yang simpel dibandingkan sesuatu yang berlebihan. Hmm, kurasa dia habis pulang kerja.
"Samperin gak, ya?" Gumamku.
Aku melangkah kakiku. Menyebrang jalan.
"Baksonya satu, Pak. Gak pake mie kuning, ya." Kataku.
Aku melihat dia sedang duduk sambil mengaduk bakso. Percaya tidak kalau gadis itu tidak menambahkan saos ke dalam kuah baksonya. Dia sangat cupu. Masih doyan tidak pedas rupanya.
"Hoy, pakein saos kek. Bening amat tuh kuah!" Aku meledeknya.
Dia menoleh, "lah, ngapain lo ke sini, Jupri? Stalker, ya, lo?"
Hmmm, dia selalu memangilku dengan Jupri, Jamal, dan Saepudin. Udah deh suka-suka dia. Jelas-jelas namaku bukan itu. Halah, kalau di chat saja dia telihat manis pas ketemu jutek amat.
"Heh, ini kan tempat umum. Bebas dong mau ngapain!"
"Hadeh, serah lo, deh." Ketusnya. Sial. Harusnya dia bilang sesuatu yang menyenangkan. Malah yang kudapat ekspresi seperti itu.
"Gue kirain udah hilang ditelan bumi." Lanjutnya sambil menyeka peluh di dahiku dengan tisu yang dia bawa.
"Gue kan kerja, ya. Terkabul kan keinginan lu ketemu gue?"
Dia memeragakan orang mau muntah, "pede sekali."
"Ngaku aja!"
"Hmmmm. Iyain aja, lah, ya, biar cepet." Balasnya sambil menyuap bakso di mulutnya.
Pesananku pun datang. Aku tidak langsung melahapnya karena kuahnya masih panas.
"Nih buat lu!" Ucapku sambil menyodorkan cokelat matcha kepada gadis berambut pendek itu.
"Dalam rangka?"
"Udeh makan aja. Gantian gua yang kasih cokelat ke elu. Dari temen itu. Tenang aja temen cowok yang ngasih."
"Dipikir gue cemburu kali." Katanya.
Aku tertawa kecil. "Lah, iya, pede banget gue, ya? Haha. Eh, gimana kabarnya?"
"Sehat. How about you?"
"Sehat juga kok. Terus gimana hari-harinya?"
"Hari-hari, ya? Hmmmm always missing you, sih." Balasnya santai. "Apa ini kedengaran berlebihan?"
Uhuk, hampir saja bakso yang kumakan mau mental. Dia gadis yang lugu, terlalu jujur untuk bilang rindu. Kalau boleh jujur aku juga sama.
"Ngga, itu normal untuk bilang kangen, Zeyna. Berarti ucapan gue yang tadi bener?"
Dia menunduk sambil tersenyum singkat. "Dion,"
"Hmmm, ya?"
"I love you. Thank you, ya, udah ada di kehidupan gue."
[]
Komentar
Posting Komentar