Haru Membiru (Short Story)
Layar komputer masih menyala. Tanganku terus beradu dengan keyboard, mencoba menuangkan isi kepala. Sibuk dengan isi kepalaku. Kadang isi kepalaku tidak sinkron dengan hati. Aku berdiskusi pada diri sendiri (lagi), hal yang biasa kulakukan karena sulit bercerita pada manusia lain.
Oh, hai, sudah tiga tahun aku bergelut dengan perasaan aneh. Perasaan yang tak kumengerti. Malam jadi terasa panjang dengan kegiatan overthinking yang sia-sia.
"Ran, belum tidur?" Tanya Ibu, kepalanya menyembul dari ambang pintu kamarku.
Aku menekan tombol di CPU dengan jempol kaki. Ibu tidak boleh membaca tulisanku karena itu ruang pribadi. Ibu juga tak boleh tahu bahwa putrinya gemar menulis puisi atau bahkan cerita pendek berkat imajinasi yang berputar di kepala. Ah, pasti Ibu akan bertanya bagaimana aku mendapatkan inspirasi.
"Aku akan tidur nanti, "
"Baiklah, makan malam di bawah. Ibu tidur duluan, ya." Kata Ibu lalu dia pergi.
Aku menatap jam dinding. Gelisah. Perasaan ini muncul saat aku hendak beristirahat. Hari-hari yang melelahkan dengan perasaan yang tak menentu.
***
"Meranti!" Panggil Cemara.
Meranti adalah namaku. Namaku diambil dari nama pohon. Aneh kan? Kadang aku protes pada Ibu, Ibu menanggapi hal tersebut dengan senyuman saja. Kenapa namaku adalah Meranti? Kenapa tidak nama bunga seperti mawar, melati, atau lily. Dan barusan yang memanggilku adalah Cemara. Cemara adalah sahabat terdekatku di kampus. Persamaan aku dan Cemara adalah memiliki nama yang diambil dari nama pohon.
Cemara berlari ke arahku. Dia berlari sambil membawa buku. Entah buku apa yang dia bawa. Mungkin buku yang berkaitan dengan cara menanam tanaman palawija agar tumbuh subur. Cemara menyukai hal yang berkaitan dengan tumbuhan. Berbeda denganku yang hobi baca buku self-development, alasannya karena aku mudah pesimis dan rendah diri. Aku benci diriku yang terkadang mudah putus asa.
"Ranti, aku dapat informasi baru." Kata Cemara menggebu-gebu.
"Apa?" Aku setengah antusias. Pikiranku sedikit kacau. Akhir-akhir ini kurang tidur.
"Nata menyukai kopi, beberapa kali aku melihatnya memesan kopi hitam di kantin. Informasi bagus buatmu kan?"
Aku menaikkan alis, "terus hubungannya denganku apa?"
"Ya Tuhan. Kau bisa mengajaknya minum kopi. Kau sadar tidak sih bahwa kau dan Nata tidak ada kemajuan?! Sungguh ironi nasib cintamu itu, Cahya Meranti!" Cemara menggelengkan kepalanya. Iba padaku. Dia meninggikan suaranya saat menyebut nama lengkapku.
Cemara mengoceh tentang nasib percintaanku. Nasib percintaanku memang tak sebaik Cemara. Aku juga tidak tahu nasib percintaan yang baik seperti apa. Aku saja bingung apakah yang kurasakan bisa disebut kisah cinta?
Pernah suatu hari Cemara mengajakku ke Nusaherang. Kami menginap di rumah nenek Cemara. Sebelum kembali ke Jakarta, Cemara sibuk memikirkan oleh-oleh untuk Nata. Katanya aku harus berani memberikan oleh-oleh untuk Nata. Maka aku mengikuti sarannya untuk menyelipkan oleh-oleh tersebut di loker Nata yang tak pernah dikunci. Hal "gila" yang pernah aku lakukan! Sejak saat itu aku takut menatap Nata. Aku takut penilaian Nata terhadapku.
Setiap bertemu Nata, aku seolah acuh tak acuh. Padahal aku senang melihatnya. Bahkan aku selalu ingat semua yang Nata katakan kepadaku, itu karena kami jarang bicara sehingga mudah bagiku untuk mengingat semua ucapannya. Meskipun aku tahu kadang obrolan kami hanyalah basa-basi. Jujur aku senang bertemu Nata. Aku sadar ada perasaan aneh ketika aku melihat Nata. Entah kagum atau perasaan yang lain.
Cemara selalu membantuku dalam banyak hal, urusan akademik dan lainnya. Dia mampu menerjemahkan isi hatiku. Aku sendiri bingung tentang apa yang kuhadapi. Perasaan aneh. Bergelora. Terkadang padam lalu menggebu lagi. Cemara bilang aku terlalu takut, aku sering menyangkal perasaanku sendiri. Aku memang tidak bisa mengeksperesikan perasaanku dengan baik.
Kata Cemara aku harus jujur, jujur adalah langkah awal untuk mengenali perasaan sendiri.
"Hei, lihat. Itu Nata!" Cemara menepuk-nepuk bahuku. Seperti biasa ketika melihat Nata pasti dia yang gregetan. "Ayo cepat samperin!!" Seru Cemara membuatku bingung.
Saat itu Nata sedang berbincang dengan rekannya yang bernama Fatih. Aku hanya melihat Nata tanpa berani menegurnya. Dan Cemara bilang bahwa aku payah.
***
Tahun keempat, aku selesai dengan sidangku. Hari-hariku disibukkan dengan mampir ke warnet seberang kampus guna merampungkan skripsi yang harus direvisi pasca sidang. Aku harus mengurus pemberkasan sebagai syarat wisuda. Wisuda tinggal menghitung hari.
Aku jarang melihat Nata, sudah satu semester aku tak melihatnya baik di kantin, perpustakaan, bahkan warnet yang sering ia kunjungi bersama Fatih. Kemana perginya Nata? Apakah dia sudah lulus lebih cepat? Atau mungkin masih bergelut dengan skripsinya.
Bang Yudi, selaku operator warnet sibuk merapikan lembaran skripsi yang masih hangat—baru saja keluar dari printer. Dia memintaku untuk mengecek lembar demi lembar. Aku nurut.
"Kemana Ara?" Tanya Bang Yudi. Dia memang akrab dengan Cemara. Tanpa Cemara warnet terasa sepi. Kalau ada dia pasti warnet mendadak ramai seperti pasar ikan.
"Cemara lagi sibuk magang." Jawabku. Saat ini Cemara magang di perusahaan pamannya. Satu kemajuan yang bagus untuknya, meskipun aku harus mengingatkannya soal skripsi. Skripsi Cemara mangkrak, dia takut menghadap dosen pembimbing yang pernah menghujaninya dengan kata-kata pedas. Dia belum siap bimbingan lagi semenjak hari itu.
Bang Yudi seolah paham. Pembahasan skripsi agak sensitif apalagi pertanyaan kapan lulus.
Urusanku di warnet pun selesai. Aku membawa skripsiku yang telah dijilid. Besok aku harus menyetor skripsiku ke perpustakaan kampus. Akhirnya aku bisa sedikit bernapas lega karena bulan-bulan lalu aku merasa stres, penyusunan skripsi sedikit menyiksaku. Berat badanku kini turun delapan kilo. Aku semakin kurus karena pikiran menggerogoti tubuhku. Tidak ada pipi gembul yang ada hanyalah Meranti yang mulai overthinking memikirkan langkah apa yang diambil setelah lulus.
Esoknya, aku menyetor skripsiku ke perpustakaan—setelah menyetor skripsi ke jurusanku, urusan setoran skripsi pun selesai. Aku langsung berjalan menuju kantin. Kelaparan.
Aku duduk di kantin, menikmati ayam kremes dan teh manis hangat. Rasanya kampus ini bukanlah dunia yang kukenal. Teman-temanku "hilang" satu persatu. Bukan karena kami bertengkar. Mereka sibuk kerja, penelitian, bimbingan, dan menyusun skripsinya.
Aku merasa betapa bedanya kondisi pertemanan saat tahun pertama dengan tahun keempat. Ditambah aku jarang melihat Nata, rasanya aku kehilangan semangat ngampus saat Nata tak ada. Aku juga tak menemukannya di kantin. Padahal aku berharap Nata muncul. Jika dia muncul sekarang, aku akan meneraktirnya dengan menu paling mahal di kantin.
***
Hari yang kunantikan pun tiba. Aku mendengar namaku dipanggil. Tali di togaku dipindah. Ucapan selamat diucapkan oleh para dekan. Hari ini adalah hari wisudaku bersama ribuan mahasiswa lainnya. Aku senang dan terharu. Katanya Cemara akan hadir nanti. Pagi ini dia kerja dulu, Cemara sangat sibuk.
Aku terdiam sejenak mendengar nama seseorang disebut. Nata. Mereka menyebut nama lengkap Nata dengan jelas. Seketika air mataku mengalir. Pipiku basah. Nata maju, ternyata dia adalah lulusan terbaik. Aku senang mendengar kabar itu. Nata memang tidak pernah mencalonkan diri sebagai mahasiswa berprestasi di kampus tapi skripsinya paling baik.
Selesai berfoto dengan keluarga, aku langsung pamit pada keluargaku untuk menemui teman lainnya. Keluargaku memaklumi. Mereka akan menungguku di kafe terdekat. Ayah ingin makan croissant.
Aku berlari kecil mencari sosok itu. Aku harus bertemu Nata. Aku ingin mengucapkan selamat padanya karena aku tak yakin bisa melihatnya lagi. Ayah bilang setelah lulus nanti, kami harus pindah ke Semarang untuk merawat nenek. Ayah rela pindah ke kantor cabang Semarang. Dan aku akan mencari kerja di Semarang. Untuk saat ini aku belum minat melanjutkan studi S2.
Aku memegang bucket bunga yang barusan kubeli. Di lokasi wisuda banyak penjual bunga.
Aku masih mencari Nata. Aku harus menemukannya. "Nata!" Seruku begitu melihat Nata yang sedang berdiri memegang ponselnya. Nata mencari suara yang memanggil namanya.
"Nata!!" Aku panggil namanya lagi. Aku berlari secepat mungkin. Aku mengatur napas begitu berdiri di hadapannya. Nata memberiku sapu tangan. Aku menerima sapu tangan itu, mengelap keringat yang bercucuran. Tak peduli make up ini luntur.
"Selamat atas kelulusanmu, Ranti." Ucap Nata. Dia menjabat tanganku.
"Selamat atas kelulusanmu juga, Nata. Kau lulusan terbaik. Aku bangga." Aku menyodorkan bucket bunga yang kubeli padanya.
"Eh, kau orang pertama yang memberiku hadiah kelulusan. Terima kasih, Ranti."
"Kemana orang tuamu?"
"Mereka tidak hadir. Ayah dan Ibu sudah tidak satu rumah sejak aku SMA. Mereka sudah punya keluarga masing-masing."
"Maaf, Nata."
"Santai aja." Balas Nata santai.
Aku meringis dalam hati. Bagaimana bisa orang tua Nata tidak datang? Ini kan salah satu hari bahagia Nata. Nata pasti kecewa berat.
"Nata, ini buatmu." Aku memberikannya amplop bewarna biru. Isinya adalah surat. "Nanti saja bacanya."
"Baiklah, kemana Cemara?"
"Nanti dia datang."
"Sampaikan salam padanya, ya. Sampaikan rasa terima kasihku pada Cemara. Esok aku harus pergi ke Bandung. Aku harus pulang ke tempat asalku. Aku takut hari ini tak sempat menemuinya."
Air mataku menetes tanpa kehendakku. "Secepat itu, Nata? Apa kau tidak ingin mencari kerja di Jakarta?"
Nata menggeleng. "Ada hal yang harus aku urus di Bandung. Kau jaga diri, ya. Terima kasih atas kebaikanmu. Aku tak akan lupa oleh-oleh dari Kuningan yang kau selipkan di lokerku." Ucap Nata, dia tersenyum. Mengusap air mataku dengan jemarinya.
"Aku akan selalu ingat air mineral yang kau berikan padaku saat jam istirahat. Aku berterima kasih karena kau selalu memperhatikan hal-hal kecil. Itu sangat membantu."
"Kemarilah, aku ingin foto denganmu." Ucap Nata. Kami berfoto dengan ponselnya. "Dan ini buatmu Ranti." Nata memberikanku gantungan kunci bergambar Marry. Marry adalah salah satu tokoh perempuan di permainan Harvestmoon Back to Nature.
"Marry?"
"Marry itu mirip denganmu dan Cemara mirip sekali dengan Ann. Cemara cerewet tapi jago masak. Dau kau, si kutu buku. Sukanya pergi ke perpustakaan. Kau juga bicaranya sedikit."
"Sampai jumpa." Dia menepuk bahuku sekali. Nata melambaikan tangan. Dia berlari menuju kerumunan yang kuyakini itu adalah teman satu jurusannya. Mereka berfoto bersama. Banyak orang yang menyalami Nata. Bahkan mereka membawa spanduk yang bertuliskan, "Happy Graduation Nata Mahendra."
Aku menunduk. Air mataku jatuh lagi. Kurasa perasaan aneh yang kualami akan menggantung tanpa jawaban. Tapi sungguh, aku bahagia karena Nata bicara banyak hari ini.
"Ranti!" Teriak Cemara. Dia melambaikan tangan. Tangan kanannya membawa goodie bag besar. Di sisi kirinya ada boneka beruang besar yang dibungkus dengan plastik bening, diikat dengan pita hijau.
Aku berlari ke arah Cemara, memeluk Cemara. Tangisku tumpah. "Aku paham hari ini adalah hari bahagiamu, kau sampai menangis begitu. Selamat atas kelulusanmu, Ranti. Kau hebat. Tahun depan aku harus lulus juga."
Tahukah kau Cemara, aku menangis bukan karena aku telah wisuda, tapi aku menangisi perpisahanku dengan Nata. Berakhirnya masa studiku maka berakhir pula pertemuanku dengan Nata. Nata akan kembali ke Bandung dan aku akan menetap di Semarang.
Jakarta, aku akan selalu berterima kasih pada kota ini karena di kota yang penuh sesak ini, aku masih bisa menemukan kebahagiaan kecil. Bertemu dengan Nata adalah kebahagiaan bagiku.
Untuk Nata, terima kasih sudah mewarnai masa kuliahku. Aku bahagia mengenalmu.
***
Komentar
Posting Komentar