[1/4] The Day We Met
Davira duduk di tepi kasur. Menatap jendela kamar besar sambil melihat langit biru. Seminggu lagi mungkin tak akan ia temukan pemandangan seperti ini. Ada hal yang membuatnya harus pindah dari kota ini. Walau sebetulnya dia sendiri tak mau pindah. Dan Davira harus memikirkan bagaimana caranya agar dia tetap di sini. Di Bandung, kota kelahiran almarhum ibunya.
"Non, mau makan apa?" Tanya seorang asisten rumah tangga. Dia masih setia berdiri di depan pintu kamar. Sudah tiga kali dia bertanya hal serupa. Dan sudah tiga kali juga dia bolak-balik ke kamar Davira. Khawatir gadis itu sama sekali belum sarapan. Tak ada makanan yang masuk ke dalam tubuhnya pagi ini.
"Aku nggak laper, Bi." Jawab Davira. Tak tega daritadi mendiamkan asisten rumah tangganya.
"Haduh Non, makan, ya, nanti Nyonya marah."
"Nanti kalo mau makan, aku bakalan turun ke bawah. Bibi jangan khawatir. Mending sekarang Bibi keluar aja. Maaf Bi, aku lagi pengen sendiri."
"Baik, Non. Janji, ya, turun ke bawah?"
Davira mengangguk. Tak ada ekspresi lain selain anggukan. Dia agak malas mendengarkan Bibi yang menyuruhnya makan. Meskipun sebenarnya dia tahu Bibi hanyalah menjalankan tugasnya.
-
Malam pun tiba. Hari ini Davira tidak berkeliaran seperti malam-malam biasanya. Biasanya di malam hari Davira menyempatkan diri untuk ke luar. Ke taman kota walaupun hanya duduk di bangku sambil menatap air mancur saja.
"Waktu kamu cuma seminggu lagi Davira, persiapkan diri kamu. Kamu harus mau tinggal di Kanada. Saya rasa pendidikan di sana baik."
Baru saja minggu lalu Davira sidang skripsi. Bisa-bisanya ibu tirinya langsung menentukan tempat kuliah yang baik untuknya di mana. Davira saja masih berpikir dua kali untuk lanjut program magister. Bisa lulus S1 saja sudah membuatnya bernafas lega. Di sisi lain, Davira ingin bekerja saja daripada memaksakan diri lanjut kuliah tapi mentalnya belum siap.
Davira mengaduk nasi putih di piringnya. Malas sekali jika ibunya membahas tentang perpindahan ke Kanada. Davira bisa terima jika ia pindah ke luar kota seperti Surabaya atau paling jauh Pontianak. Tapi ini Kanada. Kenapa harus Kanada? Sangat jauh!
"Sudah saya bilang berulang kali. Saya nggak mau tinggal di Kanada. Anda belum ngerti juga?" Kesal Davira pada Ibu tirinya. Semenjak dia ada hidupnya jadi banyak aturan.
"Bisa nggak sih kamu bersikap sopan sama saya? Saya ini ibu kamu, Dav."
"Ibu? Sejak kapan saya menganggap Anda adalah ibu saya? Anda tidak melahirkan saya dan Anda pun tidak pernah mengurus saya. Alasan apa mengharuskan saya memanggil Anda dengan sebutan Ibu?"
Brak. Davira meletakkan sendok dan garpu kasar. Kesabarannya sudah habis menghadapi ibu tirinya. Kenapa hidupnya jadi semakin rumit karena wanita itu? Davira benci jika ia harus pergi ke Kanada. Davira ingin tetap di sini. Menjalani kehidupan di sini.
"Dav, Davira!!" Panggil ibu tirinya. Davira tak peduli. "Anak itu semakin susah diatur."
-
Taman kota di malam hari terlihat sangat cantik. Air mancur yang berwarna-warni membuat pikiran Davira sedikit tenang. Dia duduk di bangku panjang sambil mendengarkan musik lewat iPod.
Sebetulnya, ada hal lain yang dia nantikan yaitu kedatangan seorang lelaki yang biasanya duduk di bangku taman juga. Lelaki itu biasanya datang pukul delapan malam. Kadang pukul jam sembilan malam.
"Dia datang." Gumam Davira. Davira menatap lelaki itu. Dia duduk di bangku yang letaknya tak jauh dari bangku yang Davira duduki.
Davira melihat lelaki itu diam menatap air mancur berwarna-warni. Sekarang lelaki itu melipat kedua tangannya. Sepertinya ada banyak hal yang ia pikirkan. Andai saja Davira punya keberanian untuk menyapa, sudah pasti dia akan memperkenalkan diri dan mengobrol guna mengusir rasa sepi.
Ini sudah bulan keempat Davira memperhatikan lelaki itu tiap malam. Tapi apa daya tak ada keberanian sedikitpun. Davira hanya bisa memandangnya dari bangku taman. Selalu begitu.
-
Diandra, ibu tiri Davira, puluhan kali mengirim pesan singkat kepada Davira. Namun tak satupun digubris oleh Davira. Davira muak jika ibu tirinya selalu mengatur kehidupan Davira. Davira ingin ke Jakarta. Dia ingin tenang. Dia ingin bertemu ayahnya. Terlebih dia punya kepentingan lain.
"Non, mau kemana?"
"Aku mau ke ketemu ayah."
"Tapi, Tuan kan ada di Jakarta. Jakarta dan Bandung itu cukup jauh, Non. Bibi jadi khawatir."
"Ya ampun, Bi. Aku udah biasa bolak-balik Jakarta-Bandung. Aku cuma pengen ketemu ayah karena udah tiga bulan ayah belum balik ke Bandung."
Davira tak peduli apa yang dikatakan Bibi. Percuma, Davira tak bisa dilarang. Dia ingin bertemu dengan ayahnya saat ini. Dia ingin cerita kalau ibu tirinya selalu memaksa untuk pergi ke Kanada. Ditambah ia ingin memastikan suatu hal penting kepada ayahnya.
"Nanti kalau Nyonya tanya saya gimana?"
"Bilang aja aku mau ketemu ayah."
Davira pamit pada asisten rumah tangganya. Asisten rumah tangganya tidak bisa menahannya. Tanpa pikir panjang Davira langsung naik taksi yang telah ia pesan untuk menuju Stasiun Bandung.
"Tujuan kemana, Kak?"
"Stasiun Bandung, Pak."
"Baik."
Taksi pun melaju. Meskipun rada cemas meninggalkan rumah tapi Davira senang karena akan bertemu dengan ayahnya di Jakarta.
"Aku harus cari tau siapa dia sebenarnya." Batin Davira sambil memegang nametag. Nametag yang tak sengaja ia temui di bangku yang pernah diduduki oleh lelaki itu.
[]
To be continued....
Komentar
Posting Komentar