Misteri (Short Story)

Malam yang sunyi. Udaranya begitu menusuk. Aku kedinginan. Yah, tak ada siapapun yang bisa diajak bicara. Hanya ada aku dan laptopku yang masih menyala. Skripsi ini begitu membuat kepalaku hampir pecah. Stres, tertekan, dan aku hampir gila. 


Obat, aku butuh obat penenang ketika diriku mulai tak stabil. Kulirik ponselku yang menyala, melihat grup kelompok bermain yang sibuk berdiskusi tentang hang out, holiday, staycation, dan flash sale. Gila, aku sungguh tidak sanggup. Lingkaran pertemanan ini semakin aneh atau mungkin aku yang memang sudah tidak cocok dengan mereka? Entah. 


Aku menarik nafasku. Kuambil air putih yang berada di meja kecil itu. Kutenggak  air putih dengan cepat. Tuhan, kapan aku bisa lulus seperti yang lain? Aku bosan jika ditanya soal wisuda. 


Kuputuskan untuk keluar rumah. Mencari udara segar. Skripsi, maaf, aku harus meninggalkanmu dulu. Karena hariku mulai gila lagi. Untunglah, ayahku mengirimkanku uang sehingga aku bisa membeli mie, beras, dan telur. Aku tidak ingin makan pakai nasi dan garam lagi. Jujur, uang saku yang ayah kirimkan sangatlah pas-pasan. Sungguh terjebak di kosan dengan keadaan homesick sangat menyedihkan. 


Kini aku berdiri di jembatan layang. Tidak, aku tidak akan bunuh diri. Tenang saja, aku hanya ingin melihat kendaraan yang berlalu lalang dari atas jembatan serta lampu kota yang kelihatannya cantik. Tak peduli berapa dinginnya udara malam ini. Bahkan parka yang kunenakan tak mampu membuat badanku hangat. 


"Sedang apa?" Tanya seorang lelaki yang tiba-tiba datang. Lelaki itu memang suka lewat jembatan layang ini. Biasanya dia memakai pakaian gelap. Sepertinya dia habis pulang kerja atau kuliah. Entahlah aku tidak tahu. Yang jelas aku sering bertemu dengannya di malam hari. 


"Gak ngapa-ngapain." Balasku singkat. 


"Hidup di kota bikin pusing, ya?"


"Dimana saja juga pusing."


Lelaki itu tertawa, "saya sering lihat kamu berdiri di sini. Hampir jam dua belas lagi. Ngapain?"


"Bukan urusan bapak!"


Lelaki itu tertawa lagi, "terlalu tua untuk dibilang bapak. Umur saya baru 24 tahun. Belum menikah juga."


"Oh, maaf."


Lelaki itu menjulurkan tangan. "Hiro." Katanya. "Tapi, saya bukan anjingnya Shincan lho, ya."


"Itu sih Shiro!"


Dia tertawa. Mencoba melucu rupanya. 


 "Gege," balasku tanpa menjabat tangannya.


"Tidak apa-apa, Gege, kalau kamu belom lulus. Nggak ada yang lagi berlomba. Jadi nggak perlu merasa ketinggalan." Ucap Hiro.


"Eh, darimana kamu tau?"


"Bahkan sekali melihat wajah kamu saya bisa lihat berapa kali revisi dan berapa footnote yang telah kamu tulis." Jawabnya sambil menyandarkan badan pada penyangga jembatan. 


"Jangan bilang temanmu satu persatu hilang juga?"


"Ya, mereka hilang."


"Nikmati prosesnya. Mungkin proses ini nggak akan kamu temukan dua kali di hidupmu. Mungkin sulit diterima, tapi, ya, kenyataan memang begitu. Jika suatu ujian datang padamu pertanda kamu mampu melewatinya. Tak peduli cepat atau lambat ujian berakhir, terus saja berusaha semampunya."


Aku menatap Hiro. Ada benarnya juga ucapannya. "Bapak, maaf, kamu pernah merasakan hal yang sama?"


"Iya, sekitar dua tahun lalu. Gila karena skripsi. Kurang tidur juga, ditambah harus minum obat penenang. Walau tertatih, semua bisa dilewati."


"Hidup ini tiada yang sempurna." Lanjutnya. "Nikmati prosesnya. Jalani dengan hati yang tabah. Tidak apa-apa mengeluh, berhenti sejenak, lalu bangkit lagi."


"Paling penting terimalah dirimu, dengan begitu kamu bisa menerima kenyataan. Tenang, nggak semua harus ada jawabannya sekarang."


Aku terdiam. Mencerna segala ucapan Hiro. Hiro benar, nikmati prosesnya. Ya, aku harus menikmati proses hidupku. Fokus pada perjalanku. 


"Sudah malam, Gege. Saya harus pulang." Kata Hiro. Dia memberikanku kartu nama. Di sana tertera namanya dan nomor telefon.


"Kabari saya saat kamu sidang dan wisuda. Saya akan jadi orang yang pertama hadir. Ge." Katanya sambil meletakkan topi yang ia kenakan di kepalaku. 


Hiro berjalan meninggalkanku. Aku hanya bengong mendengar ucapannya. Tanganku masih memegang kartu nama miliknya.


[]

Komentar

Postingan Populer