Teman Hatiku
Hari ini adalah hari libur. Hari ini juga seluruh umat muslim bahagia karena merayakan idulfitri. Tapi, aku masih saja sibuk dengan pekerjaanku. Tidak apa-apa, aku menikmatinya karena dengan pekerjaan itu kebutuhanku tercukupi.
Hari ini masih saja tentangnya. Seorang lelaki yang datang ke kehidupanku bukan secara kebetulan. Lelaki yang membuatku belajar untuk menurunkan ego, toleransi, dan kompromi. Yah, walaupun sesungguhnya aku menelan banyak rasa sakit karena mengorbankan ego milik sendiri itu tidak mudah tapi aku tidak ingin ada yang terluka. Aku ingin semua harmonis. Dan yang harus aku sadari bahwa mencintai sudah pasti berdampingan dengan rasa sakit. Tapi aku memilih bertahan karena dia layak. Layak diperjuangkan sedari dulu.
Di usia ini banyak sekali orang yang bertanya tentang hubunganku dengan dia. Kadang aku merasa terganggu dengan pertanyaan itu. Aku sangat menyayangi tak rela jika orang lain selepas bertanya selalu saja menghakimi dia sebagai sosok yang kurang tegas padahal bagiku tidak demikian. Aku yakin dia punya alasan kenapa aku dan dia bisa di tahap ini. Tahap di mana semua orang belum tentu mampu melaluinya. Orang-orang di sekelilingku memintaku agar dia memberiku kepastian. Kepastian apa yang diinginkan oleh mereka? Jelas-jelas aku tahu posisinya. Dia dalam keadaan 'terdesak' dan aku tak ingin semakin membebaninya. Aku ingin hadir sebagai seorang yang memberinya dukungan penuh agar dia tetap semangat menjalani hidupnya. Bukan datang sebagai seorang penuntut.
Caraku mencintai dia memang berbeda dengan yang lainnya. Aku tidak pernah menuntut dia menjadi apa yang kumau, aku juga tidak pernah marah jika dalam sehari dia hilang kabar. Sakit? Bohong kalau bilang tidak, tapi yang lebih penting bukanlah sakitku tapi keselamatan dia. Aku ingin dia aman. Bagiku cukup dia baik padaku dan yang menyakitkan bukanlah dia tapi harapanku sendiri. Maka itu dari dia aku belajar untuk tidak terlalu menaruh harap pada siapapun.
Suatu kebahagiaan buatku mengenal sosoknya. Sudah lama aku menantikan momen ini. Tuhan sangat baik memberiku kesempatan untuk bertemu dengannya karena aku jadi belajar untuk mengenal diriku dan belajar untuk memperlakukan orang lain dengan baik. Banyak teman-temanku yang bilang agar aku menyerah saja padanya. Tapi, aku tidak mau karena bisa mengobrol dengannya, bertukar kabar, bahkan sampai pergi bersama adalah kebahagiaan buatku. Rasanya seperti mimpi. Aku akan ingat di dalam momen itu di dalam ingatanku. Tujuh tahun lalu, aku sangat menantikan momen ini dan sekarang aku bisa merasakannya. Aku bersyukur.
Kasih, kuharap kau selalu berusaha sebaik mungkin. Bahagiakanlah orang tua selagi mereka masih hidup. Fokus pada kehidupanmu. Semangat bekerja. Banyak hal yang ingin kulakukan denganmu. Aku ingin jadi oasis di tengah kegersangan pikiranmu. Aku juga ingin jadi tempat bersandar dan tempat bercerita.
Kasih, terima kasih sudah berusaha. Terima kasih sudah bersikap baik padaku. Mari buat kenangan lebih banyak lagi.
Komentar
Posting Komentar