Koma
Ada ungkapan kalo buah jatuh nggak jauh dari pohon. Iya, ada benarnya, sih, ternyata karakter seseorang itu terbentuk karena lingkungan. Salah satunya lingkungan keluarga. Aku merasa bahwa karakter aku ini mirip banget dengan Ibu. Selama ini pola asuh ibu lebih baik daripada pola asuh Ayah meskipun kami tinggal dalam satu rumah.
Aku merasa kalau aku sebetulnya kurang bounding sama Ayahku karena beberapa cara pikirnya sangat berbeda dengan visi hidupku. Dan gapapa banget karena kami terlahir di jaman yang beda. Meskipun sempat ngalamin jatuh bangun juga untuk bisa bertahan di jalan milik sendiri.
Oke, mungkin orang lain menilaiku sebagai orang yang lambat berproses. Aku paham kok, meskipun aku udah berusaha semaksimal tetap aja di mata orang lain aku nggak ada apa-apanya. Kalau aku belum mencapai 'titik' yang mereka tetapkan, aku jadi ngerasa gagal dan gampang banget terguncang. Di situ, aku berusaha bertahun-tahun untuk mengendalikan diri dan bahkan bisa di titik ini pun berkat keinginan hidup dan memperbaiki segalanya. Karena buat apa aku mengejar sesuatu yang ditetapkan orang lain? Aku baru memulai bab kehidupan sedangkan mereka udah di pertengahan, ada pula yang udah di bab akhir. Justeru yang ada capek sendiri.
Nggak ada yang mau lahir menjadi manusia gagal. Semua ingin maju. Semua ingin mendapatkan apa yang mereka mau dan kesabaran serta ketekunan adalah kunci. Proses hidup pun nggak akan ada akhirnya. Hidup akan selalu berproses selama nafas masih bisa dihirup. Dan aku mulai berusaha untuk nggak mendengarkan kata orang lain kalo sekiranya itu nyakitin hati. Yah, fungsinya supaya aku tetap waras.
Berkaca pada pengalaman hidup. Ada niat untuk memperbaiki semuanya. Emang manusia gak sempurna termasuk pola asuh orang tua yang bawa dampak cukup besar dalam kehidupan pribadi. Tapi, mau gimana? Cuma diri sendiri yang bisa merubah semuanya jadi lebih baik. Berharap menjadi sosok yang lebih baik di masa depan. Tentunya dengan banyak belajar dari kesalahan di masa lalu. Cukup aku yang merasakan dan aku nggak pengen keturunanku merasakan kesakitan itu. Mereka pantas hidup bahagia. Layak dicintai dan tercukupi kebutuhannya.
Now I realize, kalo aku nggak bisa memilih dari keluarga mana aku dilahirkan tapi aku bisa berubah jadi lebih baik untuk melahirkan keturunan yang baik. Dan prinsip itu yang selalu aku pegang. Aku percaya pasti ada hikmah di balik kejadian yang Tuhan kasih karena semua yang terjadi atas keinginan-Nya. Cuma minta dikasih kekuatan untuk siap menghadapi badai lainnya. Aku yakin kalo aku bisa melaluinya bahkan kita semua pun pasti bisa.
I'm getting tired everyday. Sick. But I decide to stay alive, not to die. Aku sudah di titik ini, udah banyak hal yang udah dilewati. Entah berapa liter air mata yang udah dihabiskan. Aku juga gatau udah seberapa sering aku menyalurkan emosi dalam bentuk tulisan. Tulisanku adalah sumber kekuatan. Sebagai bukti bahwa dalam keadaan pahit masih bisa menulis dan berkarya. Tulisanku adalah hadiah buatku sendiri. Tulisanku bagai obat buat diriku sendiri.
Banyak hal yang belum aku lakuin sehingga aku memutuskan untuk tetap hidup. Hidupku di masa depan pasti indah. Aku percaya itu. Tuhan bersamaku. Terima kasih Tuhan, diriku, dan orang-orang baik yang datang di hidupku serta semua kebaikan yang aku dapat dalam hidup ini. Terima kasih.
Please, remember, diri kita ini lebih berharga dari tumpukan uang. Lebih berharga dan jutaan ton emas. Kita lebih berharga dari apapun yang ada di dunia ini. Jadi, tetaplah hidup untuk masa depan yang baik. Tetaplah hidup untuk cita-cita yang belum tercapai. Kita semua pantas bahagia.
Komentar
Posting Komentar