[3/3: FANFICTION] This Feeling
Motor Mark tepat berdiri di depan Mall. Mark tidak mau masuk ke dalam pusat perbelanjaan itu. Katanya ada urusan dengan teman-teman kampusnya.
"Serius lo gak mau temenin gue?" Tanyaku pada Mark. Dia menganggukan kepala.
Aku menghela nafas. "Kok gue jadi deg-degan gini sih?!" Gumamku.
"Sist, have fun. Kapan lagi jalan sama babang John. Temen-temen gua di SMA tuh yang cewek demen banget ngajak dia jalan, tapi gada satupun yang diladenin sama dia. I think lu spesial kak buat dia." Kata Mark. Dia memegang bahuku sambil tersenyum.
Sungguh kali ini Mark bukanlah adik laknat nan menyebalkan. Hari ini berubah jadi malaikat tapi pasti hitungan detik berubah jadi syaiton lagi.
"Yaudah yak, gua berangkat. Temen-temen gua udah pada nunggu. Bye, cantik!"
Aku menjambak rambut Mark, "yeuuu bilang gue cantik pasti nanti gamau jemput gue kan? Ngaku lo?!"
"Hehe, kan ada Bang Johnny. Minta anterin dia aja elah. Sama lu mah kak minta anterin keliling Jabodetabek juga kagak nolak dia."
"Yaudah hati-hati lo, mau nitip apa?"
"Apa aja deh yang penting mahal, ya. Daaah." Mark pun pergi meninggalkanku.
Aku masuk ke dalam pusat perbelanjaan. Di dekat pintu kaca ada seseorang yang sedang menunggu. Wajahnya sangatlah familiar. Jaket jeans, kaos hitam, sepatu hitam Converse, dan topi berwarna hitam. Ya, itu dia.
"Sorry ya, lama." Kataku.
Orang itu tersenyum, "nggak kok, aku juga baru sampai." Katanya.
"Masuk, yuk!" Katanya lagi.
Suasana begitu canggung. Sebetulnya ini bukan pertama kali aku pergi berdua dengan Johnny. Tapi hari ini aku merasa nervous. Aku takut berpenampilan buruk di depannya.
"Kamu mau ke mana?" Tanya Johnny sambil tersenyum.
"Emmm, pengen ke toko buku sih. Mau nemenin gak?"
Tanpa basa-basi lagi kami pun masuk ke dalam toko buku. Bagiku toko buku adalah surga dunia. Aku sangat mencintai benda bernama buku.
"Mau cari buku?"
Aku mengangguk, "pengen baca buku Tere Liye yang judulnya Hujan."
"Aku udah baca. Bagus kok ceritanya." Kata Johnny.
"Jangan spoiler ke aku, aku mau beli aja." Kataku sambil menutupi mulut Johnny yang hendak bercerita tentang novel Hujan. Aku pikir lelaki itu tidak tahu tentang novel itu ternyata bacaan kita sama.
"Kamu tau nggak?" Bisik Johnny.
"Apa?" Sahutku sambil membuka halaman buku yang sampulnya sudah terbuka.
"Aku suka sama perempuan yang gemar baca buku. Terlebih orang itu adalah kamu."
Wush, badanku rasanya ingin terbang ke angkasa raya. Bisa-bisanya dia bilang begitu?
-
Hari ini nampak sibuk. Event yang kami persiapkan dari jauh-jauh hari pun dimulai. Taeil yang paling sibuk. Meskipun dia ketua tapi dia yang paling banyak bekerja. Kadang dia terlihat nervous dan Yuta mencoba menenangkannya. Tentu dengan candaannya yang kadang sulit diterima akal sehat Taeil. Tahu sendiri selera humor Taeil sangatlah rendah.
"Udah gak usah dibawa ribet. Kita semua pasti bantuin lo kok." Kataku mencoba membuat Taeil rileks. Aku memberinya air mineral. Sementara Yuta memijit bahu Taeil.
"Hari ini gua siap jadi babunya Sultan Taeil." Kata Yuta. "Pengen nasdang gak lu?"
"Mana nafsu makan kalo nih acara belom kelar."
"Dah Yut, gak usah buang-buang duit. Anak konsumsi udah siapin buat makan siang." Kataku.
"Yeee siapa juga yang mau buang-buang duit. Gue mah nawarin aja, duitnya mah boleh gesek ATM Tuan Taeyong lah."
Sontak aku langsung menoyor kepala Yuta. "Sumpah lo tuh, Yut. Kesel banget gue ngomong sama lo!" Aku mengelus dada. Rada emosi juga dengan anak itu.
Acara pun selesai. Semua berjalan dengan lancar meskipun ada sedikit kendala karena pembicara terlalu banyak bicara dan membuat acara selesai tidak tepat waktu. Selebihnya semua berjalan dengan baik.
Selesai evaluasi, kami pun saling mengucapkan terima kasih. Tak lupa foto bersama untuk dokumentasi dan bukti bahwa acara telah terlaksana.
"Hidup Sultan Taeil!" Seru Yuta dan diikuti oleh rekan lainnya.
"Kelakuan temen lo bikin malu, Yong. Malu banget sama adek tingkat gue." Aku menggelengkan kepala.
Taeyong cuma geleng-geleng kepala. "Kebanyakan konsumsi obat cacing kali tuh bocah. By the way, lo haus gak? Pesen minum yuk, pengen banget kopi nih."
"Eh gila, lagi banyak duit lo? Ini kantanggal tua."
"Ada rejeki dari Abang gue. Mau pesen apa lo?"
"Biasa ajalah, gatau kalo anak-anak mah."
"Samain ajalah ya, males nanya-nanya gue ke Yuta. Taeil juga lagi capek banget tuh abis evaluasi mojok aja."
Sambil menunggu pesanan kami datang. Aku dan Taeyong saling bertukar cerita. Dia bercerita tentang kucing peliharaannya di rumah. Katanya dia punya peliharaan baru yaitu burung hantu. Ada-ada saja orang itu.
Setengah jam kami menunggu pesanan. Yuta masih saja mengobrol dengan adik tingkat. Biasalah pencitraan. Lagi usaha mencari pacar jadi biarkan saja dia dengan dunianya. Sedangkan Taeil sudah terlelap di bangku panjang depan fakultas.
"Atas nama Lee Taeyong?" Tanya si driver yang mengatar minuman.
Tunggu, suara itu kedengarannya sangat familiar di telinga.
"Iya, saya sendiri, Mas."
"Ini pesanannya, ya, Kak."
Taeyong langsung menyodorkan uang tersebut. "Kembalinya ambil aja, Mas. Thank you yak, Mas."
"Waduh, saya yang makasih, Kak. Makasih banyak, ya, Kak."
"Kayla, kamu Kayla kan?" Tanya si driver itu. Dia membuka maskernya. Benar saja wajah itu. Wajah orang yang sangat kukenal.
"Johnny, kamu?"
"Iya, ini aku, La. Kenapa?"
"Ngga apa-apa cuma kaget aja." Kataku. Speechless melihat Johnny sebagai driver. Dadaku tiba-tiba terasa sakit.
Johnny menatapku sendu. "Kenapa, La? Malu ya dekat sama orang yang kerjanya begini?"
"La, gue.." Ucap Taeyong.
"Ya, duluan aja, Yong." Balasku seolah paham maksud Taeyong yang ingin menjauh dariku dan Johnny. Kami berdua memang butuh ruang untuk bicara.
Aku menyeka air mataku. Sakit. Melihat itu Johnny langsung maju selangkah. "Kamu malu, ya, La?"
Aku menggeleng. "Bukan itu."
"Lalu apa? Kenapa menangis?"
"Aku terharu. Kamu bekerja apa aja tanpa pilih-pilih. Seberjuang itu untuk mendapatkan uang. Aku malah bangga sama kamu, John." Aku menepuk bahu Johnny.
Johnny memberiku sapu tangan. "Aduh, aku bingung nih harus gimana ngadepin perempuan nangis di depanku, La. Ya Tuhan, gak paham ini cara nenanginnya gimana?"
"Gak perlu repot-repot nenangin, aku terharu aja sama kamu. Kamu keren bisa kayak gini. Aku bangga sama kamu, John. Thank you karena kamu udah berusaha untuk memenuhi kebutuhan kamu. Makasih banyak, John."
Johnny tersenyum saat itu juga. "Thanks juga, La. Selain Tuhan dan Ibu, kamu adalah sumber kekuatanku. Terima kasih sudah ada. Terima kasih sudah berkenan untuk kenal Johhny yang banyak kurangnya ini."
[]
Komentar
Posting Komentar