Peneduh Jiwa (Short Story)

Aku melarikan diri dari kota. Pergi ke suatu tempat yang suasananya sejuk dan penuh pepohonan. Ya, rumah nenek. Rumah yang sudah lama tak disinggahi. Pemiliknya sudah meninggal enam bulan lalu. 

Mobil jeep merah menerobos jalanan puncak yang berliku. Aku bersandar pada kaca mobil. Kulihat tetesan air hujan dari dalam mobil. Dingin. Udara dingin membuatku merapatkan jaketku.

Hamparan perkebunan teh memanjakan mataku. Pemandangan yang tak biasa kulihat karena di kota tak ada yang seperti itu. Kota sangatlah padat dengan rumah dan bangunan pabrik yang selalu mengeluarkan asap hitam mengotori langit. Belum lagi bunyian klakson di kala macet pagi hari. Sangat merusak gendang telingaku. Dan tiap pagi ada saja berita tentang korupsi di koran yang selalu kubeli. Orang-orang kota sangat rakus. Bagai tikus yang kelaparan saat diberi umpan. 

"Sudah sampai, Mba." Kata supir travel. Memang hanya kami berdua di dalam mobil. Tidak ada orang lain. Aku tidak ingin mengajak siapapun pada perjalanan kali ini. 

Aku menggendong ranselku. Tak begitu berat karena aku hanya bawa pakaian sedikit. Di rumah nenek banyak sekali bajuku yang tertata di lemari putih. 

"Hai, Manis. Kamu tumbuh dengan baik, ya." Ucapku pada tanaman hias yang ada di pot berwarna putih. Itu tanaman favoritku. Lidah mertua namanya. 

Aku yakin supir itu mengumpat dalam hati karena aku seperti orang gila, bicara sendiri dengan tanaman. 

Ternyata hujan semakin deras. Jadi tak tega membiarkan supir itu langsung pergi begitu saja. 

"Masuk dulu aja, Mas. Hujan." Saranku sambil membuka pintu. 

Supir itu terdiam kemudian beberapa detik ia mengangguk.

Aku membuka pintu. Meletakkan tas di sofa. Kuhela nafasku, perasaan lega yang kurasa. Rumah nenek bagai obat dari permasalahan hidup. Seolah lupa banyak sekali beban di kota. 

"Adam Smith." Kata supir travel. Dia melihat buku yang tergeletak di meja. Buku itu punyaku. 

"Kenal?"

"Bapak ekonomi kan?"

"Belajar juga? " Aku menaikkan alis. 

"Cuma tau aja karena dia pernah ada di buku ekonomi SMA." Balasnya. "Saya boleh duduk, Mbak?"

"Silahkan, Mas." Kataku. "Mau minum apa? Saya gak punya air panas. Air putih aja, ya?"

Aku pun langsung meletakkan sebotol air mineral yang kuambil dari ranselku. 

"Thanks, Mba. Ngomong-ngomong Mbak tinggal di rumah sebesar ini sendirian?" 

Aku menggeleng. "Ini bukan rumah saya. Ini rumah almarhum nenek saya. Saya ke sini karena ingin tenang. Penat dengan suasana kota."

Supir travel itu menatapku. Tatapannya tajam. Kuharap dia tidak bisa membaca pikiranku.

"Penat dengan suasana kota atau mencoba lari dari masalah?" Kemudian dia langsung menutup mulutnya. "M-maaf."

Aku tersenyum kecut. Dugaanku salah. Dia pandai membaca isi pikiranku. Tanganku memutar tutup botol minuman dan menenggak air tersebut hingga menyisakan setengah botol. 

"Iya, Mas, kamu benar. Saya ke sini cuma lari dari masalah. Lari dari kenyataan bahwa saya seorang... "

"Seorang?"

"Pembunuh." Lanjutku. 

Pupil lelaki itu membesar. Pasti dia kaget karena saat ini sedang duduk bersama seorang pembunuh. Atau jangan-jangan dia takut padaku? Silahkan saja jika dia ingin pergi. 

"Pembunuh? Saya nggak percaya kalau mbak melakukan tindakan itu."

"Ya, di mata mereka saya adalah seorang pembunuh. "

"Mereka? Mereka siapa?" Lelaki itu bertanya. "

"Semua rekan kerja saya. Mereka percaya saya pembunuh karena saya menolak diperiksa oleh polisi saat kejadian bunuh diri salah satu rekan di rooftop kantor. Saya memang ada di TKP. Niatnya untuk menahannya tapi malah dijadikan tersangka." Ucapku panjang lebar. Saat itu juga air mataku perlahan menetes. Rasanya sungguh tidak adil. Hanya karena mereka melihatku berada di TKP, mereka langsung menuduhku membunuh salah satu rekan kerja. 

Aku ingat bagaimana mereka memperlakukanku dengan buruk. Saat itu juga mereka mengirimkanku pesan yang mengatakan bahwa aku seorang pembunuh. Itu membuatku sangat sakit. Aku terguncang. Dan aku putuskan untuk melarikan diri karena tidak siap menghadapi omongan mereka. 

"Kenapa mereka sejahat itu? Padahal ketika saya berhasil menjalankan project di kantor, mereka puji saya habis-habisan. Tapi sekarang keadaannya terbalik." Kataku sambil menangis. "Ini nggak adil kan?" Aku terisak sambil menyeka air mata sendiri. 

"Hidup tanpa kedua orang tua saja sudah membuatku tersiksa dan sekarang aku mengalami kejadian pahit ini. Apakah ini hukuman dunia buatku?" Batinku. 

Hujan begitu awet. Volumenya mengecil. Bunyi hujan sangat meneduhkan pikiran tapi sore ini tetap saja belum kutemukan ketenangan. Hidupku rasanya hampa. Tak bertujuan. Seolah jauh dari Allah. Apa iya aku benar-benar jauh dari Allah? Dan apa Allah sedang menghkumku atau menegurku lewat peristiwa ini? 

Lelaki itu keluar dari rumah nenek. Dia berjalan ke jeep merahnya. Mengambil sesuatu. Tak lama ia kembali. Menyodorkan goodie bag padaku.

"Saya rasa kamu harus kembali ke kota kalau bisa secepatnya. Kamu harus mau diperiksa polisi. Jangan melarikan diri. Katakan saja sejujurnya. Kamu tidak boleh lari dari masalah. Hidupmu nggak akan tenang jika kamu terus berlari. Masalah itu harus cepat diselesaikan karena kalau tidak akan membuatmu semakin terbebani."

"Sebentar lagi waktunya Ashar. Lebih baik sholat. Mungkin dengan ini permasalahan hidup kamu bisa selesai satu persatu. Berdoa kepada Allah. Maka kamu akan temukan ketenangan." Katanya mengeluarkan isian goodie bag, isinya perlengkapan sholat. 

"Perlengkapan sholat itu punya alhamarhum ibu saya. Sering saya bawa kemanapun. Mukenah itu sering dipinjam oleh penumpang saya, Mba. Saya senang jika benda itu bermanfaat."

Aku terdiam sejenak. Aku malu pada diriku sendiri, malu karena sering meninggalkan ibadah wajib. Aku hanya sholat saat di kantor lantaran tidak enak kalau tidak sholat. Tapi begitu di rumah aku meninggalkan kewajiban itu. Kadang aku berpikir ibadah sebagai formalitas saja. Tapi bagi yang beriman pasti tidak demikian. 

"Tapi kamu percaya kalau saya itu pembunuh?"

Lelaki itu menggeleng, "tidak. Saya nggak percaya. Saya yakin kamu orang baik."

Sayup kudengar suara adzan. Aku langsung menuju toilet untuk mengambil air wudhu. Aku pun mendirikan sholat. Pasrah atas segala keputusan Allah. Minta diberi petunjuk dan keselamatan. Sekarang aku percaya bahwa rahmat Allah itu dekat. 

Ternyata obat dari kegelisahan hidupku adalah Allah. Dekat dengan Allah. Selain itu aku juga perlu dukungan moril dari orang lain. Aku tidak bisa berjanji tapi aku ingin jadi lebih baik. 

Selesai sholat aku langsung ke ruang tengah. Kulihat lelaki itu sedang sholat di sana. Wajahnya begitu teduh. Bagaimana pun aku harus berterima kasih padanya. Berkatnya perasaanku jauh lebih baik dari sebelumnya. Dan ternyata hidayah bisa datang dari mana saja. Bahkan dari supir travel sekalipun yang kelihatannya usianya lebih muda dariku. 

Komentar

Postingan Populer