[2/3: FANFICTION] This Feeling

 ‌"Jadi tujuan lo ngajak ketemu gue dalam rangka apa?" Tanyaku pada Johnny yang kala itu duduk di depanku.

Johnny merapatkan bangkunya. Dia mengaduk cappucino dengan sedotan bambu miliknya. Oh, dia lelaki pecinta lingkungan. Bagus.

"Ya gapapa, cuma pengen ngobrol aja."

"Ngobrol doang? Apa lo nggak punya temen sampe ngajak gue?" Tanyaku sambil menaikkan alis. Duh, aku tidak bisa mengontrol nada bicaraku yang agak ketus.

"Yaudah lo mau ngomongin apaan?"

"Gimana kuliah lo?"

"Kuliah gue? So far, fine aja sih. Semester kemaren dapet nilai C. Dan semester ini berharap lebih baik. Gimana dengan lo?"

"Baik-baik aja sih, masih bisa handle urusan kuliah dan kerja. Meskipun keduanya melelahkan. Pengen udahan jadi pelatih tapi belom dapet kerjaan baru." Tuturnya sambil tersenyum kecut. Seolah menertawai nasibnya.

Aku mengangguk. Pasti berat juga jadi menjalankan dua tanggung jawab itu. Jadi pekerja dan mahasiswa. 

"Sorry, ya, jadi curcol. Tapi emang gue lagi butuh temen cerita sih. Habis kalo curhat sama temen gue jawabannya selalu satu yaitu 'sabar, ya' haha." Katanya.

"Oke, gue paham posisi lo kok, ya meskipun gue gatau sih keberadaan gue di sini bisa membantu atau nggak." Balasku.

Aku mengaduk minumanku lagi. Bingung harus bicara apa. 

"Udah cukup membantu kok and make me better."

Aku mengerutkan dahi, "maksud lo?"

"Eh, lo mau pesen minum lagi nggak?" Kata Johnny mengalihkan. Aku tidak tuli, ya. Aku dengar dia bicara apa barusan. Meskipun kedengarannya aneh di telingaku. 


-


Hari demi hari obrolanku dengan Johnny menjadi seru. Kami sering bertukar cerita meskipun awalnya aku ketus dan dia sangat tabah menghadapi sikapku. Ya, itu nilai plus buatnya. Dan aku suka karena dia bukan perokok. Jujur aku tidak suka cowok yang merokok. Ditambah dia pencinta lingkungan. Paket komplit, sih. Wanita mana yang bisa menolak pesona Johnny?

Aku suka saat dia membawa kantong kresek hitam hanya untuk membuang sampah permen atau tisu. Dia selalu membawa benda itu lantaran takut buat sampah sembarangan.

Aku juga suka dia yang tidak pernah meminta sedotan plastik kepada pelayan saat kami memesan minuman. Untuk urusan fisik, ya, okelah. Ditambah bentuk badannya proposional. Sangat huggable saat sedang boncengan di motor.

Tring!

Satu pesan masuk.

Tring!

Dua pesan masuk.

Dan tring!

Tiga pesan masuk.

Aku menggeser layar ponselku. Mendapati Johnny mengirimi pesan berkali-kali. Aku langsung mengaktifkan mode getar. Memilih untuk tidak membalasnya karena aku sedang kumpul dengan sobat proker-ku untuk event jurusan kami dua bulan mendatang.

"Kok gak dibales, La?" Tanya Taeil selaku ketua pelaksana.

"Hehe, gapapa kok. Sorry ya, jadi kebirisikan karena ponsel gue."

"It's okay, La. Gue lanjut ngejelasin, ya." Ucap Taeil yang tadi menjelaskan tentang apa jobdes para panitia pada acara mendatang.

Selesai rapat, aku pun tak langsung pulang melainkan kumpul dengan panitia satu divisi yang kebetulan anggotanya adalah teman dekatku. Tidak semua anggota sih, cuma teman nongkrongku saja. Rata-rata temanku cowok, maklum jurusanku adalah Teknik Informatika.

"Ponsel lu geter tuh, coba deh lu angkat dulu. Barangkali penting." Ucap Taeil.

"Hehe, nanti aja deh. Gue lagi belom fokus reply pesan orang. Gue matiin aja deh ponsel guenya." Kataku.

"Jiah nape lu? Punya cowok, ye?" Tanya Yuta sambil menyenggol lenganku.

"Apaan sih, Yut?"

"Gak biasanya ponsel lo ramean gitu." Katanya lagi.

"Se-krik itukah ponsel gue di mata lo, sobat?" Kataku membuat ketiga cowok yang kini duduk bersamaku terbahak. Ya, memang kemana-mana pasti dengan mereka. Maklum satu angkatan dan jurusan.

"Haha, kan biasanye yang ngeramein hape lu adalah kita-kita, La. Nah, kitanya aja di sini. Berarti kan lo ada sesuatu. Mark sih mana mungkin hubungin lo sampe kayak gitu." Ucap Yuta. Mulutnya mengunyah potongan roti bakar bertoping coklat-keju.

"Yeuu, dia mah adek gue yang super laknat." Sahutku. 

"Tau lo, dekat sama cowok gak cerita-cerita. Emangnya lagi dekat sama siapa sih?" Tanya Taeyong membuka suara. "Cerita dong,"

"Haha, dibilang dekat, ya, gue emang lagi sering komunikasi sama seniornya Mark."

"Siape?!!" Yuta melotot.

"Hadeh, kepo sekali ya anda."

"So? Kenapa lo seperti menghindar gitu?" Tanya Taeil. Kini dia bertopang dagu seolah siap mendengarkan ceritaku. Sudah lama kita tidak bicara soal hubungan asmara masing-masing. Yang aku tahu Taeil masih betah dengan status jomblonya. Yah, meskipun banyak adik tingkat atau teman satu angkatan yang mencoba dekat. Nampaknya dia tidak peduli. Memang anaknya se-cuek itu. Jujur cuma aku perempuan yang dekat dengan Taeil, kadang membuat gadis lain iri bahkan seringkali menjadi perantara mereka dalam mendekati Taeil. Sia-sia saja, Taeil tidak tertarik. Ya, aku sih senang-senang saja karena menjadi perantara mereka suka dikasih cokelat gratis atau ditraktr makan. Kadang juga dikasih saldo untuk naik ojek online.

Kata Taeil syaratnya menjadi pacarnya yang harus hafal surah An-Naba, penyayang kucing, baik, dan seorang wibu. Dan yang pasti gadis yang tidak melarangnya kalau sewaktu-waktu Taeil pergi ke FX Sudirman untuk menyaksikan gadis-gadis yang bernyanyi Heavy Rotation.

"Sebenarnya sih dibilang mengindar, ya, nggak. Gue belom siap hubungin dia kalo belom sampe rumah. And you know, gue lagi sama kalian. Kalo dia bales nanti yang ada gue fokus main ponsel."

"Ya, lo kabarin aja, La. Kalo lo lagi sama kita. Ye, nggak cuy?" Saran Yuta.

"Yoi," jawab Taeil dan Taeyong berbarengan. 

"Gue bersikap gini supaya dia gak bergantung ke gue dan gue juga gak ingin bergantung ke dia. Gue care sama dia, cuma cara gue, ya, begini. Gue takut kalo gue terlalu sering fast respon jadinya gue bergantung dan berharap lebih. Takutnya gue jadi mencari dia sewaktu-waktu dia lagi slow respon dan dia pun sebaliknya." Tukasku.

"Ya bener sih cara lo, La. Tapi baiknya dikabarin dulu aja gak sih? Biar dia gak khawatir juga. Dalam hubungan komunikasi itu penting. Apa salahnya sih bilang kalo lo abis rapat dan sekarang kumpul sama kita? Dia juga pasti ngertiin." Kata Taeil. Dia memang paling dewasa diantara yang lain. 

"Lo belom tau sih, La, gimana geregetnya nunggu kabar tuh. Pikiran overthinking kemana-kemana. Duh." Ucap Taeyong.

"Kayak lo udah pernah pacaran aje, Yong?" Sindir Yuta.

"Ya pernah sih walaupun cuma tiga minggu, abis itu diputusin. Auto sad boy, anjir. Makanya suka isi oprec biar ada kesibukan. Ya, biar cepet move on juga, sih."

"Gue kirain ikut oprec supaya bisa ketemu gebetan baru." Kata Taeil.

"Hmmm, ide bagus tuh." Balas Taeyong.

"Masalahnya ada yang mau sama lu kagak? Yhaaaaa." Ledek Yuta.

Aku tertawa bersamaan dengan Yuta dan Taeil. Padahal Taeyong good looking tapi masih saja disakiti. Sadis.

"Kabarin, kabarin. Ntar kagak gue anter pulang nih, yak." Ancam Yuta.

"Yeeeh, ngancem lo, Yut?!"

"Ya beneran, udah kabarin dulu aja. Hargai orang yang care sama lo, La. Besok kalo orangnya hilang aja nyesel lo. Di jaman sekarang orang peduli tuh susah dicari apalagi yang hatinya tulus." Ucap Yuta.

"Setuju," sambung Taeil. 

"Tumbenan ada benarnya lo, Yut." Sindir Taeyong.

"Gini-gini gue lebih berpengalaman dari elu, ya, Yong." Kata Yuta sambil menoyor kepala Taeyong pelan.

"Dahlah Yut, cari cewek sana!" Ledekku. 

"Ya masalahnya nih ada yang mau sama gue kagak? Boleh lah oprec pacar. Bismillah wanita soleha." Kata Yuta mengadahkan tangan seraya orang sedang berdoa.

"Heeuuu, ngaji dulu dah lo yang bener. Ngarep wanita soleha, nun mati ketemu alif aja gatau hukum bacaannya."

"Hmmmmm, kena lagi dah gua." Gumam Yuta. "Gih, buru kabarin, La. Hargain, La. Hargain."

"Iya, iya." Balasku sambil mengambil benda tipis itu. Mencoba mengabari Johnny.

Taeil benar dalam hubungan apapun komunikasi itu penting. Dan Yuta pun benar bahwa aku harus menghargai orang yang peduli padaku saat ini. Johnny, dia baik. Dia terlalu sabar untuk aku yang hanya sekali atau dua kali mengabarinya dalam sehari.

Sorry, John. Mulai sekarang aku akan jadi orang yang lebih baik dalam memperlakukanmu.

-

Maaf ya, aku sangat emosional menulis FF dan nunggu waktu yang tepat buat nge-publish. Aku harap ada pelajaran yang bisa diambil.


Thank you.



Komentar

Postingan Populer