Hilang Harapan

Hai, ini pukul tiga pagi. Aku terbangun dari tidurku. Sudah menjadi hal biasa terbangun tengah malam. Yah, aku memutuskan untuk menulis saja daripada tidak melakukan apapun.

Entah kenapa akhir-akhir ini aku merasa kalau aku hilang harapan pada manusia. Rasanya seperti aku tidak punya harapan kepada mereka sama sekali. Mungkin itu alasan kalau saat ini aku merasa baik-baik saja. Hidupku pun jadi lebih ringan untuk dijalani. Lebih tenang.

Aku baru mengerti bahwa hilangnya harapan pada manusia merupakan satu sumber mencapai kebahagiaan karena aku tidak menggantungkan diriku pada orang lain lagi. Meskipun aku tahu dalam hidup ini pasti kita tak lepas dari hubungan manusia. Hanya saja aku menjaga diriku untuk tidak berharap kepada mereka. Termasuk keluarga, pasangan, bahkan sahabat. Harapanku satu yaitu Tuhan.

Ngomong-ngomong soal hilang harapan ternyata ini ada dampaknya pada hubungan asmara. Waktu aku belum dewasa, aku marah ketika orang yang kusuka tidak membalas pesan-pesanku. Aku juga marah ketika mereka bertindak seenak hati mereka bahkan tak jarang aku menangis karena mereka. Kalau diingat, ya, lucu juga. Tapi semakin tambah usia, aku semakin sadar soal melepaskan. Dan menurutku ketika aku berusaha untuk mencintai (orang lain) maka aku belajar pula untuk ikhlas melepaskan. 

Melepaskan di sini dalam arti aku 'memberikan' kebebasan. Jadi aku tak perlu khawatir kalau sewaktu-waktu orang tersebut hilang tak ada kabar dalam beberapa hari. Mungkin yang hatinya belum siap pasti akan marah atau menangis. Awalnya aku juga begitu, merasa diabaikan dan tidak diprioritaskan. Tapi setelah dipikir, ya, buat apa aku selalu berpikiran negatif? Ketika aku mencintai maka aku harus bersedia kalau sewaktu-waktu orang yang kusuka bersikap tak sejalan dengan apa yang kumau karena kami punya kehidupan yang berbeda. Aku juga harus menahan ego agar tidak menyakiti banyak pihak. Aku harus sadar bahwa orang yang kusuka adalah milik-Nya jadi harus siap menerima apapun yang dilakukannya karena itu bukan kendaliku. Aku hanya berusaha menjadi yang terbaik versiku pada orang yang kucinta.

Bagiku mencintai cukuplah melihat dia bahagia dengan apa yang dijalaninya. Mendukung dia sebisaku. Yang paling penting tetap menjadi orang baik untuknya. Seperti "yasudah nikmati saja momen tersebut" , lalu ambil pembelajaran yang bisa diambil karena setiap momen pasti punya sisi positifnya. 

Bagiku mencintai bukanlah perihal aku mencintainya dan kami saling mencintai tetapi tentang pendewasaan yang didapat di dalamnya. Aku menghargai tiap momen yang Tuhan berikan. Aku bersyukur ketika orang yang dicintai adalah pasangan hidup selamanya di dunia maupun akhirat, tapi jika tidakpun tak mengapa. Yang penting aku tidak kehilangan cinta Tuhan karena itu yang aku butuhkan. Aku yakin saat kita melakukan hal yang terbaik untuk Tuhan maka Tuhan akan memberikan yang terbaik untuk kita. 

Rumusnya jika kita mencintai manusia lepaskanlah, jika dia benar untuk kita maka dia akan kembali pada kita apapun caranya. Berbeda saat kita mencintai Tuhan, ketika kita mencintai Tuhan, kita harus menjalankan perintah-Nya dan harus mendekatkan diri pada-Nya. Intinya, hidup ini jangan terlalu banyak berharap pada manusia karena hati manusia bisa berubah. Hari ini bilang A, besoknya bilang B. Kita juga kadang melakukan hal yang sama kan? Dan lagi, jadikanlah Tuhan tempat bersandar karena Dia tidak akan pernah mengecewakan kita. 

Komentar

Postingan Populer