Usai (Short Story)

"Gue gak ada tenaga buat marah-marah. Gue udah gak ada tenaga buat kecewa. Entah gue capek!" Ucap Hana di depan cermin. Dia sudah lelah dengan semua drama yang ada di hidupnya. Dia sudah lelah dengan sikap orang-orang padanya. 


Sudah, cukup. Hana lelah. Hana muak dengan semuanya.


Hujan kali ini turun sangat deras. Perasaan Hana sudah tak bisa digambarkan lagi. Dia sudah tidak bisa merasakan apapun di dirinya. Entah bagaimana menangis, kecewa, marah dan bahagia? Dia lupa rasanya. 


Hana adalah seorang korban ghosting dan silent treatment. Ghosting dan silent treatment membuat kepercayaan dirinya perlahan luntur. Merasa tidak dihargai. Parahnya merasa diabaikan. 


Hujan yang biasanya mendamaikan kini tak mampu membuat pikirannya tenang. Musik chill lofi juga tak berpengaruh apapun di dirinya saat ini. 


Hana duduk di tepi kasur. Menghela nafas panjang. Dia tak habis pikir lelaki yang ia percayai dan ia kenal dengan baik ternyata menghilang begitu saja. Mengabaikan dirinya. Mengabaikan segala pesannya. Hana merasa kalau dirinya tak dihargai. Apa dia tak layak dicintai hanya karena menurutnya tidak cantik? Apa yang salah dengan dirinya? 


Hana sudah berusaha membuka hati kepada lawan jenis namun yang ia dapat kecewa. Ditinggalkan lagi. Letak salahnya di mana? Hana tidak tahu karena orang itu pergi tanpa aba-aba. 


Biarlah karma akan bertemu pada lelaki itu nanti. Hana sudah tidak peduli. 


-


Esoknya Hana masuk ke kantor seperti biasa. Menjalani hari seolah semua baik-baik saja. Hana mencoba tenang meskipun banyak sekali pikiran di kepalanya. 


Salahku apa? Lagi-lagi pertanyaan itu muncul di kepalanya. 


Kenapa aku ditinggalkan? Dan pikiran-pikiran itu terus ada di kepalanya. 


"Han, lo kenapa?" Tanya Jojo yang merupakan rekan kerjanya. Jojo melihat  Hana seperti orang yang sedang linglung sampai-sampai dispenser yang Hana tekan meluap dari gelasnya. Hana tidak sadar. 


Jojo langsung meletakkan gelas itu. Dia memberikan Hana tisu karena flatshoes Hana basah karena air yang meleber ke mana-mana. Hana sedang tidak baik-baik saja. Jojo paham. 


"Lo ngga baik-baik aja deh, Han. Mending lo pulang aja, deh. Kerjaan lo gue yang handle sementara." Ucap Jojo. Dia memang rekan kerja yang baik. 


"Gak, Jo. Gue gapapa."


"Lagi mikirin something, ya? Cowok?" Jojo penasaran. 


Hana langsung menggeleng. "Mana ada cowok."


"Jangan bohong, Han. Jujur aja."


"Udah istirahat aja. Apa perlu kita ambil cuti supaya bisa lepasin beban lo itu? Gue sih mau aja." Lanjutnya. 


Hana mengerutkan dahi. Heran si Jojo lagi kenapa, deh?


"Apa yang lo rasain ketika seseorang nge-ghosting lo dan silent treatment tanpa alasan? Lebih tepatnya gue mikirin itu sekarang." Hana buka suara. 


Jojo langsung menatap Hana khawatir. Dia membawa Hana ke rooftop kantor. Sekarang mereka berada di atap. Atap memang tempat favorit mereka selain ruang kerja Jojo yang nyaman. 


Angin berhembus kencang. Hana diam. Menunggu jawaban Jojo. 


"Just let him go." Ucap Jojo kesal. Dia tak terima Hanan diperlakukan seperti itu. "Udah berapa lama kejadiannya?"


"Sebulan, Jo. Gue selalu berpikir salah gue apa. Sampai detik ini orang itu gak ada kabar. Gue coba menghubungi tapi gak direspon. Reply story gak ada tanggapan juga. Apa gue terlalu jelek, ya?"


"Nggak. Lo nggak jelek! Orang itu tidak bisa menghargai lo, Han. Kalo dia menghargai pasti sebisanya ngabarin. Ini udah sebulan lho. Apalagi yang harus ditunggu?"


"Tapi, Jo, gue belum bisa terima." Kata Hana dengan suara lemah. Dadanya sakit. 


"Terima kenyataan, Han. Kadang orang yang baik buat kita belum tentu baik menurut Tuhan. Mungkin ini cara Tuhan supaya lo dijauhkan dari orang yang salah." Ucap Jojo bijak. Jojo paham perasaan Hana. Jojo pernah merasakan hal serupa. Kenangan terburuk Jojo selain putus cinta adalah di-ghosting


"Kalo komunikasi nggak lancar apa yang perlu dilanjutin, Han?"


"Tapi Jo, gue... "


"Nggak harus sekarang lo sembuh, Han. Terima kenyataan bahwa emang lo diperlakukan seperti ini. Kalau sedih, ya, gapapa. Kecewa juga gapapa. Sambil menyibukkan diri nanti lo akan terbiasa dengan semuanya."


"Ini menyakitkan banget, Jo. Gue jadi overthinking. Salah gue apa dan di mana."


"Iya, Han. Terima dulu sakitnya. Gapapa.  Jangan mengelak kalo emang terluka. Wajar itu."


Hana memegang dadanya. Sakit. Patah hati itu menyakitkan sekali, ya. Hana tak yakin bisa fokus kerja kalau perasaannya begini. 


Jojo melirik Hana. Jojo tahu kalau Hana sedang kecewa. Dia sedih, terluka, dan merasa tak dihargai. Namun di balik tatapan Jojo tersirat perasaan suka yang mendalam kepada Hana sejak lama. Andai Hana tahu bahwa selama ini ada sosok yang amat mencintai dia. Sosok yang selalu memperhatikannya dan senantiasa berdoa untuk kebaikan hidupnya. 


Jojo sedih jika perasaannya tak terbalas tapi lebih sedih melihat Hana diperlakukan seperti itu oleh orang lain. Sakit hati Jojo melihat gadis yang dicintainya sedih. Pasti Hana perlu waktu untuk membuka hati untuk orang lain lagi. 


"Jo, lo selalu baik sama gue dari awal. Gue ngerasa ini titik terendah gue dan selalu ada. Ya Tuhan, gue berharap kalau lo dapat pasangan yang baik, Jo."


Jojo menatap Hana. Dia tersenyum dalam hati. "Iya, Han. Gue begini karena gue teman lo sejak lama. Kita kenal udah lima tahun. Banyak hal yang udah kita lewatin. Gue nggak mau Hana sedih sendirian. Gue kan ingin berguna dalam kehidupan lo, Han."


"Ah, rasanya gak adil kalo gue sedih lo selalu ada tapi kalo lo sedih gue gatau. Gue gatau harus dengan cara apa gue berterima kasih." Hana menyeka air matanya. Haru karena sikap Jojo tapi juga kecewa karena perasaannya diabaikan oleh pria yang meng-ghosting-nya.


"It's okay, Han. Gue begini karena gue menyukainya."


"Menyukai?" Hana menaikkan alis. 


"Ya, gue suka menjadi sahabat Hana." Kata Jojo. Padahal kalau bisa lebih Jojo ingin hubungan selain sahabat. Teman hidup mungkin. Usia mereka juga sudah cukup matang. Dari segi finansial, ya, cukup stabil. Jojo merupakan cowok mapan. Tidak akan Hana kelaparan jika menikah dengannya. 


Jojo juga pria yang bertanggung jawab. Dia tinggal bersama ibunya. Ayahnya meninggal sejak usianya 15 tahun. Dia adalah tulang punggung. Anaknya tidak neko-neko.  Dia gemar membaca buku dan menanam tanaman hias.


Hana tersenyum. "Thanks, Jo. Semoga cepat ketemu jodohnya, ya. Lo baik banget."


"Semoga jodohnya itu adalah elo, Han." Batin Jojo. Baginya ucapan itu adalah doa. Berharap suatu hari jadi nyata. 


[]

Komentar

Postingan Populer