MERELAKAN [2/2] #FINAL

Acara gathering perusahaan akan diadakan di ballroom hotel besok. Semua orang di dalam ballroom tampak sibuk mempersiapkan acara. Jadi dalam acara ini ada panitia bertanggung jawab atas penyelenggaraan acara ini. 


"Li, kamar kita di lantai berapa?" Tanya Afkar. Afkar merupakan senior Ali. 


"Di lantai tiga, Bang."


"Gua belom masukin tas. Tadi langsung kemari."


"Yaudah, Bang. Bareng ajalah yok!" Ajak Ali. Mereka pun pergi ke kamar mereka. 


Saat sedang menekan tombol lift. Ali berpapasan dengan seorang gadis. Gadis berambut pendek yang memakai sweater berwarna cokelat. Dari sorot matanya tampak familiar. 


"Masa iya sih itu dia?" Batin Ali saat dia, Afkar, dan gadis itu memasuki lift.


Gadis itu memakai masker sehingga Ali tak bisa melihat wajah gadis itu dengan jelas. Ditambah gadis itu sibuk bermain ponsel. 


Lift tiba di lantai tiga. Ternyata lantai kamar mereka sama. Kamar Ali dengan gadis itu beda tiga pintu saja. 


"Li, lo kenapa? Kesambet?" Tanya Afkar yang heran melihat temannya melamun dari tadi. 


"Ah, ngga, Bang. Ayo, Bang, masuk!" Kata Ali memegang gagang pintu kamar. Wajahnya masih memperhatikan gadis yang baru saja masuk ke kamar yang ada di ujung sana. 


-


"Perasaan hari cepat banget deh, udah acara gathering aja." Keluh Yuna yang sedang bercermin. 


"Belom juga jalan-jalan." Keluhnya. 


Hari ini adalah hari terakhirnya di Jakarta. Dini hari ia akan pulang ke Surabaya. Dia harus kembali pada kehidupannya yaitu kerja, kerja, dan kerja.


Ia memoles bibirnya dengan lipcream berwarna peach. Ya, sempurna! 


Selesai bersolek, ia pun berjalan menuju ballroom. Hanya dia perwakilan kantor cabang Surabaya. Sial, harus bicara apa ini untuk sambutan? Kepala Yuna pun menjadi pening. 


Di ballroom sudah ramai sekali. Ada banyak orang berpakaian rapi. Jadi dresscode-nya adalah putih-navy. Atasan putih bawahan navy. 


Yuna duduk di depan meja bundar, meja itu sudah terisi snack dan minuman. Ia duduk sendiri saja. Tak ada teman sini. Berharap segera mendapatkan teman. 


"Hai, boleh gabung?" Kata seorang perempuan yang rambutnya dikuncir. 


Yuna mengangguk, "silahkan, Kak."


"Viola dari cabang Jakarta Utara."


"Saya Yuna dari kantor cabang Surabaya."


"Sendiri?"


"Iya, sendiri. Kakak?"


"Aku sama temeku, temen-temenku beberapa jadi panitia."


Acara pun dimulai. Satu-satu perwakilan cabang memperkenalkan diri dan memberikan sambutan singkat. Kini giliran Yuna. Yuna memberikan sambutan singkatnya. 


Saat Yuna memberikan sambutan, seorang lelaki yang tadinya memotret sekeliling pun menghentikan aktivitasnya. Matanya tertuju pada Yuna. Dia takjub bukan main. Tidak, dia sedang bermimpi. Gadis itu ada di sini, di ballroom hotel ini. Itu tandanya dia dan Yuna satu kantor hanya saja beda cabang. 


"Eh, kok bengong sih?" Tegur Afkar. Aneh dari kemarin Ali banyak melamun. Sepertinya terjadi sesuatu pada Ali. 


Ali mengambil gambar Yuna sebanyak mungkin. Dia tidak ingin melewatkan momen ini. 


Orang-orang di sekeliling sibuk menyantap hidangan yang tersedia. Yuna dan Viola hanya minum air putih dan makan buah potong. Mereka sudah akrab. 


"Yuna, mau aku kenalin sama temen dari divisiku ngga?"


Yuna mengangguk antusias. "Boleh, Kak."


Viola menghampiri kedua rekannya. Ia membawa kedua orang tersebut ke meja Yuna. 


"Ini mereka." Kata Viola. 


Ada dua orang lelaki yang berdiri di depan Yuna. Yang satu bernama Afkar dan yang satu bernama........ Ali? 


"Ali?" Ketika lelaki menyodorkan tangannya pada Yuna. 


Tidak mungkin. Dia pasti bukan Ali yang Yuna kenal kan? Dia pasti bukan Ali yang pernah meninggalkan Yuna tanpa sebab. Dia bukan Ali yang itu. 


"Bang, Mbak. Bisa tinggalin gue sama Yuna nggak?"


"Eh kenapa?" Tanya Viola. 


"Ini urusan kita berdua." Kata Ali. 


Viola menggaruk kepalanya tak mengerti. Afkar membawa Viola untuk menjauh dari Ali dan Yuna. 


"Kita pernah kenal sebelumnya?" Tanya Yuna memastikan.


"Ini gue Ali, Yuna. Ali si brengsek yang pernah hindarin lo tanpa sebab."


Deg, jantung Yuna berdegup kencang. Kepalanya menjadi pening lagi. Yuna menghela nafas panjang. Tak percaya dengan semua kenyataan ini. Ali berdiri di depannya? Takdir apa yang membuatnya bertemu Ali? 


"Oh," balas Yuna tidak tahu harus berkomentar apa. "Kelihatannya lo sehat, Li."


"Lo apa kabar?"


"Baik, Li." Jawab Yuna. Tiba-tiba saja kenangan dirinya tentang Ali bermunculan di kepala. Dia ingat bagaimana Ali pertama kali bertemu Ali. Dia juga ingat bagaimana Yuna sangat berusaha keras mendekati Ali. Dia ingat sama mereka pergi bersama. 


Yuna ingat saat dia galau memilih kado ulang tahun untuk Ali. Secinta itu dia pada Ali kala itu. 


Tak hanya itu, Yuna juga ingat betapa cemasnya dia saat Ali mulai jarang menghubunginya. Yuna ingat Ali mulai menghilang ditelan bumi. Hal itu yang menyebabkan Yuna mencari pekerjaan baru di Surabaya.


Saat Ali meninggalkannya, Yuna tak bisa berbuat apapun selain meratapi kesedihan. Beberapa kali ia pergi ke psikolog untuk menceritakan apa yang dirasakan. Yuna tak nyaman bercerita dengan orang lain. 


"Yun, maaf."


"Maaf untuk apa, Li?"


"Kesalahan gue di masa lalu. Gue nyadar gue salah banget ke elo." Kata Ali menyesal. 


"Udah, Li. Itu udah jadi masa lalu." Kata Yuna santai menanggapi. Hal itu  membuat Ali bingung. Apakah Yuna sudah tidak menginginkannya lagi? Padahal Ali sangat menginginkannya. Yuna sudah berubah kah? 


Ali mengusap tengkuknya. Yuna diam seribu bahasa. 


"Yun, kita bisa nggak kayak dulu lagi?"


"Maksudnya kayak dulu lagi tuh gimana, ya, Li? Gue nggak ngerti."


"Iya, Yun. Gue baru sadar kalo gue beneran suka Yuna. Mungkin ini kedengarannya basi."


Yuna melipat tangannya. Ia menatap Ali yang terang-terangan menyatakan rasa sukanya ke Yuna. 


"Kalo perlu gue nyatain perasaan gue di depan banyak orang juga gak masalah." Kata Ali. 


Yuna tersenyum sambil mengetuk-ngetuk gelas bening dengan telunjuknya. Kedengarannya lucu ketika Ali memintanya seperti dulu. 


"Buat apa Li mau ke depan? Yang ada orang-orang malah ngetawain lo." Balas Yuna. 


"Yun, please. Gak ada kesempatan buat gue?" Ali memohon. "Maafin gue, Yun."


"Gue waktu itu menghindar karena banyak kerjaan. Gue gak bisa kontrol diri gue, Yun. Sorry lo jadi kena imbasnya."


"Ya, sama, Li. Sekarang kita bernaung di perusahaan yang sama. Beban kerja kita sama. Sebetulnya gue udah maafin lo kok, Li. Bahkan sebelum lo minta maaf ke gue."


"Terus kita gimana? Gue gak masalah kalo harus LDR kok, Yun. Gue akan berusaha jadi Ali yang lebih baik dari sebelumnya."


"Gue memang maafin lo, tapi bukan berarti kita bisa seperti dulu, Li. Sorry, sekarang ini gue cuma mau mencintai diri gue sendiri dan berdamai sama diri gue. Gue harap lo temukan gadis yang tepat ya, Li. Terima kasih atas semuanya, Li." Ucap Yuna. Perasaannya kini sudah tidak sesakit dulu. Yuna sudah belajar merelakan. 


"Selamat malam, Li." Pamit Yuna. 


Ali mengejar Yuna. Hal itu membuat orang-orang disekitar menatap mereka termasuk Afkar dan Viola. Viola yakin ada hubungan diantara juniornya dengan Yuna. 


"Yun," Ali memegang lengan Yuna. 


Yuna tersenyum singkat pada Ali. "Sampai jumpa, Li. Malam ini gue harus balik ke Surabaya."


"Yuna, thanks." Ucap Ali pelan dan dibalas senyuman oleh Yuna. Hati Ali sakit sekali. Ini pasti yang dirasakan Yuna pada tiga tahun lalu. 


Ali menyesal telah menyia-nyiakan Yuna. Kalau Yuna itu orang lain bisa saja Ali habis dimaki atau disumpah serapah. Tapi, Yuna tidak. Yuna gadis berbeda. Malah gadis itu berterima kasih padanya. 


Ali menatap Yuna yang berjalan menjauhinya. Dia menemui seseorang di sana. Lalu meninggalkan ballroom hotel sendirian. Dan Ali hanya bisa menatapnya. 


Sekarang Ali sadar bahwa Yuna tak menginginkannya lagi. Yuna sudah punya kehidupannya sendiri. Sedangkan Ali harus belajar menata hatinya untuk ikhlas menerima kenyataan. 


[]

Komentar

Postingan Populer