Kamu Harus Sembuh (Short Story)

"Eh, kemaren aku lihat dia di poli jiwa." Kata Sasha memulai pergibahan. Dia selalu menjadi orang yang paling kompor diantara teman-teman gibahnya. Padahal yang dibahas nggak penting. Lebih banyak dosanya ketimbang pahalanya. 


"Kayaknya sih ya, dia punya gangguan mental gitu gak sih?" Balas Ira. 


"Aku juga ngerasanya gitu. Padahal kalau stres ya tinggal banyakin ibadah. Kurasa dia itu hidupnya jauh dari Tuhan." Kini Pita bersuara. 


"Iya, dia tuh kayak gak pernah posting quotes agama gitu." Ucap Sasha. "Jadi kayak gak punya reminder gitu kali, ya."


"Kasian banget ya, dia tuh kayak gak punya kehidupan nyata apa gimana sih? Mana belom nikah lagi udah usia segitu." Tukas Ira sambil melipat tangannya. 


"Iya, ya, dia tuh kayak ngumpetin kehidupan nyatanya gitu, ya? Aish, sok misterius banget!" Cibir Pita.


"Iya bener. Udah dewasa tapi masih suka korea-korea gitu. Aku sih malu, ya. Pelepasan stresnya nggak banget deh!" Kata Pita. 


"Hahahaha. Tuh orang nggak jelas banget hidupnya. Udah belom nikah, penyembah oppa, dan kena gangguan mental lagi. Freak!" Sasha bergidik. 


Gelak tawa senior cewek di kantor yang sedang membicarakan Jane. Jane tidak membalas ucapan mereka. Sudah sering juga dirinya dibicarakan oleh tiga orang itu. Jangankan dirinya, atasannya saja sering dibicarakan oleh mereka. 


Daripada menghabiskan waktu mendengar ocehan mereka lebih baik Jane kembali bekerja. Lagipula kalaupun Jane punya masalah dengan mentalnya pun tidak ada urusannya dengan para senior cewek itu. 


"Dunia udah gila." Batin Jane. 


-


Malam itu gerimis. Jane merapikan mejanya. Dia hendak pulang. Sebelum pulang ia mengecek lacinya barangkali ada barang tertinggal. 


Aman. Tidak ada barang yang tertinggal. Jane pun berjalan menuju lift.  Dia ingin pulang cepat. Dia ingin istirahat. 


"Jane, ini punya kamu?" Tanya seseorang yang tiba-tiba masuk ke dalam lift. Pintu masih setengah terbuka. 


Jane melihat amplop berlogo rumah sakit yang kemarin ia kunjungi. Dia langsung meraih amplop itu dengan cepat. 


"Terima kasih, Kak."


"Iya, sama-sama. Saya nemuin di atas CPU. Kamu beneran sehat, Jane?"


Jane menganggukkan kepalanya. "Saya sehat, Kak." Jawab Jane. Dia tidak ingin menjelaskan apa yang terjadi padanya belakangan ini. 


Orang itu menatap Jane khawatir. "Kamu pulang naik apa?"


"Ojek online, Kak."


"Ini udah malem banget. Apa nggak takut? Lagipula ini masih gerimis. Bareng aja udah."


"Nggak, Kak. Udah biasa."


"Saya antar kamu pulang, ya."


Jane memicingkan matanya. Dia menolak. "Ngga usah, Kak. Saya ngga mau ngerepotin."


"Gak ngerepotin kok. Sekalian aja." Kata orang itu. 


"Terima kasih." Balas Jane.


Tanpa Jane sadari, orang itu memperhatikan Jane, lebih tepatnya bagian pergelangan tangan. Di pergelangan tangan Jane ditemukan beberapa sayatan. Orang itu berpikir sepertinya ada hal yang tidak beres dengan Jane. Untuk apa dia melukai dirinya sendiri? 


"Sampai jumpa Kak Gusti." Ucap Jane berdiri di dekat pintu mobil.


"Iya, Jane. Besok kamu berangkat naik apa?"


"Ojek online lagi, Kak. Kenapa?"


"Besok saya jemput,  ya. Sampai jumpa dan selamat malam."


Belum sempat berucap apapun, Gusti sudah pergi dengan mobilnya. Jane masih berdiri jadi bingung. Tidak biasanya Gusti bersikap begitu. 


-


Tin.. Tin.. 


Bunyi klakson mobil Gusti membuat Jane mempercepat langkah kakinya. Buru-buru ia menutup pagar rumahnya. 


Gusti yang duduk di dalam mobil melambaikan tangan padanya. Dia bisa melihat Gusti dari kaca mobil yang setengah terbuka. 


"Pagi, Kak." Sapa Jane. Dia masuk ke dalam mobil dan memakai safety belt. 


"Kamu bawa bekal hari ini?"


"Duh, nggak kepikiran, Kak. Paling nanti makan siang di kantin aja."


Gusti menyodorkan goodie bag pada Jane. "Bekal buat kamu. Masakan saya. Maaf kalo kurang enak. Saya masih belajar masak."


"Eh, jadi double ngerepotin, Kak." Kata Jane tak enak hati. Gusti sangat baik padanya. 


"Gak kok, nyantai aja."


"Terima kasih, Kak."


"Kamu tuh suka sekali ya ucap terima kasih untuk hal-hal kecil?" Tanya Gusti sambil tersenyum. 


"Bagi orang lain mungkin kecil tapi kebaikan orang lain kepada saya itu sangat menyentuh hati saya. Makanya saya suka ucap terima kasih, Kak."


-


Pemandangan yang baru bagi orang-orang kantor yaitu kebersamaan Gusti dan Jane. Biasanya mereka tidak pernah sedekat itu. Kedatangan mereka pagi ini disambut oleh gibahan Sasha CS. 


"Wah, gila tuh si Jane beraninya deketin Mas Gusti. Penjilat banget tuh orang!" Ujar Sasha tak terima. Sudah lama dia ingin mendekati Gusti tapi selalu gagal. 


"Emang tuh anak satu semakin bertingkah aja. Kasih pelajaran aja. Muak banget lihatnya." Kata Ira memasang wajah sebal. Kedekatan Jane dan Gusti membuat Ira iri dengki. Dia takut Jane naik jabatan. Dia tidak ikhlas kalau posisinya sama dengan Jane. Susah payah Ira naik jabatan. Tidak mau kalah saing dengan anak baru lulus. 


Pita menatap Gusti dan Jane penuh amarah. "Gak paham lagi sama tuh junior satu. Bener-bener cari muka!"


"Selamat pagi." Sapa Gusti pada Sasha CS.


"Pagi semua." Gantian Jane menyapa mereka. 


Mereka hanya tersenyum palsu dan mengucapkan sapaan yang sama. 


-


"Halo," sapa Gusti. Tiba-tiba dia datang ke pantry. Di sana ada Jane yang sedang menikmati makan siangnya. 


"Oh, hai, Kak."


"Enak gak?"


"Enak kok chicken teriyaki-nya. Tutorial di mana nih?" Tanya Jane berusaha akrab. Dia tidak enak karena Gusti selalu bersikap baik padanya.


"Makasih." Balas Gusti senang. "Saya belajar lewat youtube."


"Wih, keren banget!"


Mereka pun makan siang bersama di pantry. Biasanya Jane makan sendirian di kantin. Di kantor dia tidak punya teman. Memang di kantor staff-nya sedikit dan mereka selalu berkelompok.


"Eh, gimana kabar keluarga kamu?"


"Ayah atau Ibu?"


"Bedanya apa?"


"Mereka nggak tinggal serumah. Sudah punya keluarga masing-masing." Jawab Jane sambil menguyah irisan chicken teriyaki itu. 


Gusti jadi tak enak hati bertanya demikian. "Sorry, tapi mereka sehatkan?"


"Sehat. Sepertinya mereka enjoy dengan kehidupan mereka, Kak." Kata Jane padahal dia menahan sakit melihat keluarganya berpisah. Tapi apa boleh buat? Marah pun tidak bisa mengasilkan apapun. 


"Keluarga Kak Gusti gimana?"


"Ayah saya sehat. Dia lagi menikmati masa pensiunnya. Mau ketemu emang?"


Jane tertawa. Gusti senang melihat tawanya. Berharap beban di hidup Jane sedikit berkurang. 


"Boleh. Kapan?"


"Eh, serius? Pasti dia seneng banget nih kalo saya bawa teman. Kalau hari ini ketemu ayah saya gimana? Sekalian makan malam. Hari ini kan pulang cepat."


"Oke, Kak."


Mareka pun melanjutkan makan mereka dan mengobrol sebentar. Sampai pada akhirnya Gusti ingin bertanya sesuatu yang membuatnya penasaran pada Jane. 


"Jane, kenapa kamu melukai diri kamu sendiri?"


Jane menatap pergelangannya. Percuma pakai kemeja panjang. Sayatan di pergelangannya tetap terlihat. 


"Ehmm, saya pikir tindakan menyayat diri sendiri baik buat saya ketika saya cemas, stres, dan merasa tidak stabil. Sampai pada akhirnya saya datang ke psikolog untuk berkonsultasi." Jane mulai bercerita. 


"Tapi kakak jangan takut, saya nggak gila. Psikolog itu bilang, saya harus bahagia. Terus dia bilang, saya harus bisa mengontrol apapun yang bisa saya kontrol termasuk pemikiran saya dan sikap saya. Katanya, saya nggak boleh menyayat diri saya lagi. Saya nggak boleh menyakiti diri saya."


"Saya harus berubah karena hanya diri saya sendiri yang bisa merubah kebiasaan buruk ini. Saya berharap saya bisa menerima diri saya dan mencintai diri saya." Lanjutnya. Suara Jane berubah menjadi lirih. Matanya berkaca-kaca.


Gusti yang mendengar itu langsung menatap dalam Jane. "Saya nggak tahu sesulit apa beban hidup kamu. Tapi kamu nggak sendirian Jane. Kamu punya saya sebagai teman kamu. Mulai sekarang kita berteman, ya? Bukan dalam urusan kerja aja tapi sebagai teman berbagi."


Jane menatap Gusti bingung. "Kakak mau berteman sama saya?"


"Why not?"


"Nanti sebelum ke rumah kakak, saya pengen teraktir kakak patbingsu."


"Eh?"


"Sebagai tanda jadi pertemanan kita."


Gusti tersenyum. Dia menepuk bahu Jane dengan kedua tangannya. "Terima kasih sudah bertahan hidup. Kamu lebih kuat dari yang kamu bayangkan, Jane."

[]

Komentar

Postingan Populer