Layak Bahagia dan Dicintai (Short Story)



Gadis itu selalu sendiri. Dia duduk di bangku panjang dekat tanaman bougenville besar yang tengah bermekaran. Aku melihatnya sedang membaca buku. Dia suka menghabiskan waktu di tempat itu. Kadang dia duduk sambil memotret sekitar dengan ponselnya. Kadang dia duduk sambil membaca buku. 


Hari ini dia mengenakan kemeja putih. Bawaannya celana kulot berwarna krem. Tak lupa tas totebag. Tampilannya sangat sederhana. Aku menyukainya. Dia terlihat cantik dengan gayanya sendiri. 


Kulihat dia selalu sendiri. Gadis itu jarang mengobrol dengan orang lain. Anaknya juga jarang tersenyum. Apa yang sedang dia pikirkan, ya?


Aku masih memperhatikannya dari balik tembok. Kulihat dia menyeka air matanya. Eh, dia menangis? Apa yang terjadi padanya? 


Dengan langkah penuh takut, aku menghampirinya. Aku berjalan selangkah demi selangkah. Kini aku tiba di hadapannya. Menyodorkan tisu padanya. Perasaanku sungguh tak karuan. 


Dia menatapku lalu bangkit tanpa mengambil lembaran tisu yang telah kubawa untuknya. Dia berjalan cepat meninggalkanku sendirian. 


Ada yang salah denganku, ya? Kenapa dia pergi? 

***


Esoknya aku datang ke kampus lebih awal. Aku melihat gadis itu turun bus kota yang berhenti di seberang sana. Dia berjalan di jembatan layang menuju area kampus. 


Hari ini dia mengenakan kemeja navy panjang yang digulung hingga lengan. Ada yang beda, lipstick-nya kini lebih kalem. Warnanya tidak cerah seperti kemarin. Aku melihatnya yang sedang berjalan sambil memegang buku. Langkahnya santai. Telinganya disumbat earphone putih. Rambutnya dikuncir. Anak rambutnya tertiup angin. 


"Selamat pagi." Sapanya begitu jalan di dekatku. 


"Eh, dia berbicara padaku?" Batinku. "Bagaimana bisa?" Aku setengah percaya. 


Dia berjalan menuju kelas. Hari ini kami satu kelas. Ada mata kuliah yang sama dengannya. Aku duduk di bangku depan sedangkan dia di bangku belakang.


Dua jam berlalu, mata kuliah pun usai. Aku merapikan buku dengan cepat. Lalu keluar kelas bersamaan dengan mahasiswa lainnya. 


Namun saat berjalan di koridor. Aku melihatnya sedang berdiri dengan seorang lelaki. Dia menarik lengan pria itu seolah ingin berbicara lebih banyak. Entah apa yang mereka bicarakan. Anehnya lelaki itu enggan mendengar si gadis bicara. 


Lelaki itu berjalan dan si gadis mencoba menahannya namun tetap saja lelaki itu pergi dengan wajah yang sulit dijelaskan. Dan untuk kedua kalinya aku melihat gadis itu menangis lagi. Dia bersandar pada tembok. Menyeka air matanya lagi. 


Ya Tuhan, hatiku seperti disayat. Menyakitkan sekali melihat pemandangan seperti itu. 


"Apa yang terjadi?" Tanyaku. Gadis itu menggeleng. Aku tak paham arti gelengan itu. 


Dia menyeka air matanya. Setiap dia menyeka air mata. Hatiku menjadi sakit. Aku tahu bahwa aku terlalu ikut campur saat berkata apa yang terjadi padanya. 


"Tolong tinggalkan saya sendiri." Katanya. 


***


Eren, salah satu teman kampusku mengajakku ke suatu klub malam. Sebetulnya aku tidak suka ke tempat semacam ini karena tempatnya remang-remang. Sound music di tempat ini juga terlalu keras. Bisa-bisa gendang telingaku rusak. Pokoknya aku tidak suka. 


"Mending kita keluar aja deh, Ren. Gue nggak suka tempat kayak gini."


"Duh, temenin gue doang. Lu mah cemilin kacang atom aja seperti biasa."


Aku berdesis, "yaudah ah gue cabut. Bisa sesek nafas kalo kelamaan di sini." Kataku melihat di sekitar banyak orang yang bebas merokok. 


Aku tak peduli pendapat Eren. Dia meneriaki namaku dia kali tapi aku abaikan panggilannya.


Aku keluar dari klub itu. Kunaiki motorku lalu berjalan-jalan sendirian. Aku bingung harus kemana malam ini. Kunci kosan ada di Eren pula. 


"Keira!" Panggilku begitu aku mendaratkan motorku di salah satu supermarket. Niatku ingin beli air mineral. Aku melihat gadis itu baru saja keluar dari supermarket. 


Keira menoleh ke arahku. Dia menatapku bingung. Kini aku berani memanggil namanya. 


Keira melepas earphone-nya, "ada apa?" Katanya. Matanya masih sembab. Aku bisa melihatnya. 


"Lo baik-baik aja, Keira?" Tanyaku khawatir. Hatiku berdebar. 


Keira mengangguk. "Kenapa saya ketemu kamu terus, ya? Kamu ini ada di mana-mana."


Aku tersenyum kecil. "Nggak gitu, Keira."


"Soal tadi yang di kampus, sorry ya."


"Iya, harusnya gue yang minta maaf, Kei. Oh, ya, rumah lo deket sini?"


"Mau mampir?" Tawar Keira. Bagai lampu hijau buatku. Ternyata Keira tidak sejutek yang kupikirkan. Dia agak dingin sih. 


"Emang gapapa?"


"Ya, gapapa sih asal jangan kelamaan. Soalnya kan 1x24 jam tamu wajib lapor."


Aku terbahak. Seru juga bicara dengannya. "Eh naik aja, Kei." Tawarku. 


"Kamu gak jadi ke supermarket dulu?


"Sampe lupa. Jadi ini mau beli air mineral sama cemilan. Lo tunggu sini bentar, ya."


Tak butuh waktu lama, aku pun keluar dari supermarket dengan membawa totebag berisi snack dan air mineral. 


Awalnya Keira diam. Menatap motorku. Motorku V-Xion, motor jadul bekas pensiunan ayah. Ini pun diangkut dari Semarang ke Jakarta. 


Setibanya di rumah Keira. Aku disuguhkan teh hangat dan cookies yang dia beli di supermarket. Padahal tadi aku sudah membeli banyak snack. Tapi dia tak menyentuhnya sama sekali. 


Ngomong-ngomong rumah Keira ini sangat keren. Rumahnya ala bangunan kolonial. Kanopinya lebar. Seperti bangunan yang sudah lama dibangun tapi masih terawat dengan baik. 


"Tinggal sendiri, Kei?"


"Untuk saat ini iya, Ibu kerja di luar kota."


Aku mengangguk. Tidak berani bertanya hal yang pribadi cukup jauh. "Ngomong-ngomong rumahnya ala bangunan Belanda gitu, Kei. Cakep!"


"Ini rumah tua. Peninggalan Mbah Buyut. Rumah kamu di mana?"


"Rumah gue sih di Semarang, kalo di sini ngekos bareng Eren. Kenal Eren nggak?"


"Gak terlalu kenal, cuma pernah sekelas sama dia sih di mata kuliah Ilmu Komunikasi. Jauh dari sini kosannya?"


"Nggak terlalu sih." Balasku. "Gue minum ya tehnya."


"Silahkan."


Malam ini Keira tampak natural. Rambutnya dikuncir. Dia memakai piyama berwarna biru dilapis dengan cardigan rajut berwarna hitam. 


"Eh, mata kuliah Pancasila kan ada tugas kelompok. Mau gak sekelompok sama gue?"


"Boleh, kebetulan saya gatau mau kelompokan sama siapa."


"Yaudah ngerjain di mana?" Tanyaku antusias. Senang satu kelompok dengan Keira. Keira bukan anak yang ambisius di kelas tapi jika ditanya dosen dia bisa menjawab. 


"Di perpustakaan fakultas aja deh. Deal, ya?" 


"Deal." Kataku mantap. "Eh, makasih udah ngajak gue mampir ke rumah lo."


"Santai, Andra. Ini juga pertama kali teman kampus main ke sini."


Semenjak hari itu aku jadi dekat dengan Keira. Sebetulnya aku menyukai Keira di tahun pertama tapi aku tidak mengharapkan hal yang lebih padanya. Aku hanya ingin Keira menikmati masa-masa kuliah dengan penuh kegembiraan meskipun kadang kami dilanda stres karena tugas. 


Saat ini, aku jarang melihat Keira duduk sendiri dekat tanaman bougenville, tapi kami berdua. Kadang duduk di sana sambil membaca buku. Jika istirahat kami lebih sering menghabiskan waktu di kantin. Kalau ada jam kosong, kami pergi pusat perbelanjaan kota yang letaknya tak jauh dari kampus. Hanya untuk makan es krim saja. 


Lelaki yang waktu itu bersama Keira sudah dekat dengan gadis lain. Ternyata Keira adalah korban ghosting. Waktu itu dia minta kejelasan atas hubungan mereka. Tapi lelaki itu enggan menjelaskan apapun. Mungkin itu alasan Keira agak menjaga jarak dengan orang lain.


Kuharap siapapun lelaki yang menjadi pilihan Keira di masa depan. Semoga dia adalah lelaki yang baik karena Keira pantas dicintai dan bahagia. Dia adalah gadis yang baik. 

[]

Komentar

Postingan Populer