MERELAKAN [1/2]

"Haha, lo pikir melupakan segampang itu, sob?" Ucap seorang lelaki pada temannya. Kemudian ia menyesap secangkir teh hangat yang disuguhkan oleh temannya itu. Iya, hari ini dia berkunjung ke rumah seorang teman lama. Salah satu teman kuliahnya yang sudah lama tak ia temui. 


"Ya, jangan dilupakan tapi direlakan." Balas temannya. Namanya Dave. 


Jauh-jauh Ali datang dari Jakarta ke Karawang hanya untuk meminta saran Dave. Dan Dave hanya memberi saran bahwa Ali harus merelakan bukan melupakan masa lalunya. 


Ali, seorang lelaki berusia 27 tahun. Usianya sudah dewasa. Di usia ke-27 ini, ia mengalami quarter life crisis tentang percintaan. Iya, Ali belum bisa move on dari perempuan yang amat sangat berharga dalam hidupnya. Ali baru sadar kalau orang itu sangat berharga ketika orang itu benar-benar pergi dari hidupnya. Mungkin ini yang dinamakan karma atau bisa juga cinta datang terlambat. 


-


3 tahun lalu..... 


Ali sedang berada di kantornya. Hari ini pekerjannya menumpuk. Ada dokumen yang harus ia selesaikan sebelum ia serahkan kepada atasannya. 


"Gue lagi berantem nih sama cowok gue. Abisannya dia gak ada kabar dari kemaren." Curhat seorang rekan kerja Ali tiba-tiba. Namanya Kak Asyi.


Ali yang mendengar itu langsung menoleh. "Lah tumben. Lagi sibuk kali."


"Ya, sih, tapi biasanya gak gini deh."


"Udah, Kak. Everything's gonna be alright. Jangan kebanyakan nething." Saran Ali. Kemudian rekan kerjanya mengangguk. Dia kembali mengerjakan pekerjaannya. 


Selesai dengan pekerjaannya. Ali pun hendak pulang namun seorang satpam menahannya. 


"Mas Ali."


"Ya, Pak? Ada apa?"


"Ini ada paket, Mas. Buat masnya."


Ali berpikir sejenak. Paket? Perasaan Ali tidak memesan barang lewat situs e-commerce tapi kenapa ada paket, ya? Ali heran sendiri. Apa mungkin paket itu salah alamat? 


Ali meraih paket yang diberikan satpam. Ia membaca label penerima. Ya, benar, itu namanya. Kemudian ia membaca label pengirimnya. Yang dia dapati adalah nama seseorang yang ia kenal. Paket itu dari seorang gadis bernama Yuna. 


"Yuna?" Batin Ali. "Eh, Yuna kirim paket ke kantor?"


Sudah dua bulan Ali tidak mengabari Yuna. Ali tidak tahu bagaimana kabar Yuna. Yuna juga jarang mengumbar kehidupannya di sosial media. Pernah sesekali Yuna mengunggah foto pribadinya di Instagram. Kemudian ia menghapusnya. Akun Yuna saat ini nol postingan. Tidak ada profile picture pula. Apakah Yuna sedang stres saat ini? Entah.


Ali tidak tahu apa yang terjadi pada Yuna belakangan ini. Kadang dia merasa bersalah karena menarik diri dari Yuna tanpa kejelasan. Tapi, ya, Ali memang sedang ingin mencintai diri sendiri dulu. Tidak ingin didekati Yuna. Meskipun ini kedengarannya jahat bagi Yuna. Jahat karena tindakan Ali tidak bertanggung jawab. Jika ia ingin menyelesaikan hubungan dengan Yuna. Harusnya ada komunikasi bukan melarikan diri. 


Setibanya di rumah Ali membuka paket itu. Ternyata paket itu adalah hadiah ulang tahun untuk Ali. Isinya sweater dan figura yang bertuliskan kata-kata semangat. Ali jadi tak tega. Tapi, Ali tetap pada pendiriannya. Ia tak ingin berhubungan dengan Yuna lagi. 

Flashback end. 

-


Seorang gadis sedang merapikan berkas-berkasnya. Tak terasa sudah tiga tahun berlalu. Ya, Yuna sudah melewati masa sakitnya saat mencintai seorang pria bernama Ali. Yuna baru sadar kalau dirinya cinta sendirian. Ali memang tidak akan pernah mencintai Yuna sampai kapanpun. Sekeras apapun Yuna mencoba semua akan sia-sia. Jadi, buat apa buang-buang waktu untuk orang yang tidak menghargai usahanya? 


Awalnya sulit diterima bahwasannya Yuna mengalami love by one side tapi sekarang Yuna sudah menerima semuanya. Mungkin Ali bukanlah orang baik untuknya. Lebih tepatnya bukan jodoh. 


"Yun, Kak Fera mau ngomong sama kamu tuh." Kata Sheila. Rekan kerja Yuna. Dia melihat Yuna sedang sibuk dengan laptopnya. Yuna kan hardworker. Katanya dengan bekerja ia bisa membeli makanan enak. Termasuk makanan enak untuk kucingnya. 


"Duh, kenapa, ya? Kayaknya gue gak ngelakuin kesalahan, deh."


"Udah temuin aja dulu, barangkali ada hal yang penting yang mau dia sampaikan."


Dengan hati yang gusar, Yuna pun menemui seniornya. Dia sebetulnya agak takut dengan Kak Fera. Kak Fera itu senior yang paling jutek di kantor.


"Permisi, Kak." Kata Yuna. 


"Duduk." Balas Kak Fera. Dia membetulkan kacamatanya. Kemudian dia menatap berkas-berkas yang entah isinya apa. 


"Kamu besok ke Jakarta, ya?"


"Jakarta, Kak?"


"Ngapain?"


"Ya gapapa, saya cuma minta kamu liburan aja ke Jakarta. Belakangan ini kamu sudah kerja terlalu keras. Kamu juga gak pernah ambil cuti."


"Tapi, kerjaan saya gimana, Kak?"


"Tinggal aja dulu."


Yuna menaikkan alisnya. "Eh, Kak. Serius?!"


Kak Fera mengangguk. Wajahnya tampak serius. Memang orang itu jarang tersenyum. 


"Tapi kamu nanti tolong hadir ke acara kantor, ya. Gathering-nya diadain di hotel yang sama dengan tempat yang sudah saya booking untuk kamu. Cuma gathering aja sih terus makan-makan di hari terakhir kamu cuti. Saya nggak bisa datang kesana."


"Yah, sama aja dong gue kerja?!" Batin Yuna. Tapi, tak apalah selama uang transportasi dan biaya penginapan ditanggung kantor. 


-


Jakarta pagi ini sangat cerah. Yuna menginjakkan kakinya di kota ini lagi setelah bertahun-tahun dia tak pernah singgah ke sini. Jakarta memberi Yuna kenangan pahit. Tapi, dia ke sini bukan untuk mengingat masa itu. Dia hanya ingin melegakan pikiran dan ikut gathering dari kantor. 


Yuna tiba di penginapan yang telah dipesan atasannya. Hotel bintang empat di bilangan Jakarta Selatan. Ngomong-ngomong gathering akan diadakan di ballroom hotel. 


"Hah," Yuna merebahkan dirinya di kasur empuk. Lelah sekali perjalanan dari Surabaya-Jakarta. 


Dia berharap bisa tidur dengan tenang malam ini. 


-


Malam itu Ali sedang duduk di pinggir pantai. Angin sepoi-sepoi menyentuh wajahnya. Pantainya memang tak secantik dulu. Tapi, Ali suka ke sini. Tempat ini mengingatkannya pada masa kecil. Ayahnya suka mengajaknya ke sini walaupun cuma duduk di pantai sambil makan kentang goreng. 


Ali meneguk minuman kaleng. Mengacak rambutnya frustasi. Hari-harinya begitu berat. Harinya selalu diliputi rasa bersalah. Dosa apa yang telah dia buat kepada Yuna? Sampai Ali selalu memikirkan kesalahannya sepanjang hari. 


Ali berharap suatu hari bisa bertemu Yuna. Dia ingin minta maaf. Dia ingin jujur atas perasaannya. Dia benar mencintai Yuna kali ini meskipun dia tidak tahu keberadaan Yuna di mana sekarang. 


[]

Komentar

Postingan Populer