Pertemuan Penuh Makna (Short Story)

Kala duduk di bangku Transjakarta. Bangku favoritnya adalah bangku belakang. Kebetulan dia dapat Transjakarta yang sepi. Jadi dia tak perlu merasakan berdesakan di dalam. 


"Ocean Waves?" Tanya orang yang tiba-tiba duduk di samping Kala. Orang itu baru saja masuk ke dalam Transjakarta yang Kala tumpangi. 


"Eh?" Kala mendongak. Melepaskan earphone-nya. 


"Itu bukannya buku bahasa Jepang, ya?"


"Iya," balas Kala. "Saya sendiri nggak terlalu ngerti artinya apa. Saya cuma baca hiragana-nya aja dan kebetulan buku ini gambar-gambarnya lucu."


"Beli di mana Mbak bukunya?" Tanya orang itu penasaran. Orang itu penggemar anime. 


"Di Amazon."


"Duh, pasti harganya lumayan banget, ya? By the way, Mbaknya suka Ocean Waves juga?"


Kala mengangguk. "Suka tapi saya bukan anak-anak wibu gitu sih."


Orang yang duduk di sebelah Kala tersenyum singkat. "Saya juga. Tapi kalau ada festival Jepang gitu mbaknya suka datang nggak?"


"Beberapa kali sih, emang kenapa?"


"Di kampus saya lagi ngadain matsuri. Kalau mbaknya berkenan datang. Silahkan saja, Mbak." Kata orang itu memberikan selebaran pada Kala. 


Kala membaca selebaran itu. Menarik. 


"Makasih, ya."


"Ada bagi-bagi dorayaki gratis lho, Mbak. Jangan sampe ketinggalan."


Kala tersenyum. Baru kali ini ada orang asing yang ramah padanya. Kala memang jarang banyak bicara. Tapi kelihatannya orang ini seru. 


"Bintang tamunya Shoujo Complex nih?"


"Lah, mbaknya tau?"


"Cuma tau aja sih karena sepupu suka mereka."


-


Hari ini Kala datang ke festival Jepang yang ada di salah satu kampus bilangan Jakarta Timur. Yang hebat dari festival ini yaitu tidak dikenakan harga masuk. 


Kala melihat ke sekitar, banyak sekali orang yang datang bersama teman-temannya. Ada juga anak-anak sekolah yang nekat datang kemari padahal masih pakai seragam. Acaranya terbuka untuk umum. 


"Hai," sapa seseorang ketika Kala sedang melihat pernak-pernik yang dijual di sana. 


"Eh, kamu?" Ucap Kala. "Panitia, ya?"


Orang itu mengangguk, "hehe, iya, nih, Mbak. Eh, mbaknya sendirian? Sepupunya nggak diajak?"


"Iya, sepupu saya nggak ikut. Dia sekolah."


"Kenalin nama saya Caka, Mbak."


"Kala." Kala menjabat tangan Caka. "Caka, berarti kamu ambil jurusan Sastra Jepang?"


"Lebih tepatnya sih Pendidikan Bahasa Jepang, Mbak. Di sini belum tersedia jurusan Sastra Jepang."


Kala tersenyum tipis. "Mau jadi guru?"


"Belum tau, Mbak." Caka menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bingung jika ditanya pertanyaan macam itu. Dia sendiri tidak tahu kedepannya ingin mengambil langkah apa. 


"Saya juga gatau waktu itu mau jadi apa setelah lulus. Kebetulan saya fresh graduate."


"Jadi ngikutin alur aja gitu?" Gantian Caka bertanya.


"Iya gitu, tapi sebetulnya sih penting punya goals dalam hidup kamu. Saya cuma ngurangin ambisi dalam hidup dan nyoba kesempatan yang ada. Kebetulan ada senior yang nawarin kerjaan. Yaudah saya coba aja." Lanjut Kala bercerita. 


"Mbaknya hebat, ya. Duh, saya harus perbanyak koneksi nih biar rada gampang cari kerja."


"Hmmm, saya juga gatau Mbak setelah lulus mau jadi apa. Sebetulnya masuk jurusan ini juga karena coba-coba. Saya nggak mau gapyear kala itu."


"Yang penting masuk PTN?" Balas Kala bisa menebak. Caka itu mirip dirinya di masa lalu. 


"Iya, gitu deh, Mbak." Kata Caka malu. "Kalau masuk PTN biaya kuliah rada ringan, Mbak. Kalo PTS lumayan mahal juga. Kalo kuliah terlalu mahal nanti malah mikirin bayarannya gimana." Caka terkekeh. 


"Kamu semester berapa, Caka?"


"Semester tujuh."


"Semangat skripsi!" Ucap Kala dan dibalas senyuman oleh Caka. Kala yakin Caka bisa lulus tepat waktu. Dilihat dari wajahnya, dia itu adalah orang yang pintar. 


Sambil menemani Kala melihat sekeliling, Caka pun memotret keadaan sekitar. Dia masuk ke Divisi Dokumentasi dalam acara ini. Setelah acara ini berakhir, tugas Caka adalah membuat buletin, laporan, dan mading. 


"Eh, Mbak, udah nyobain free dorayaki-nya belom?"


"Udah kehabisan. Tadi stand-nya rame banget."


"Yah, sayang banget, ya. Padahal saya ikut bikin adonannya."


Kala tertawa kecil. "Sorry, next time deh. Eh, kita ke sana yuk. Ada yang jual takoyaki tuh!"


Kala dan Caka mampir ke stand takoyaki. Memesan takoyaki berisi gurita. Sebetulnya ada banyak varian tapi Kala mau coba yang isinya gurita. 


"Biar saya aja Mbak yang bayar." 


Akhirnya Kala duduk di taman kampus. Caka datang membawa dua botol air mineral. Kelihatannya dia kelelahan. Semalam Caka kurang tidur karena harus mempersiapkan acara. 


"Caka kamu gak dicariin temen kamu?"


"Saya udah izin, Mbak. Masing-masing dari kita punya istirahat 30 menit. Gantian. Saya juga semalam nginep di sini."


"Hebat, ya, kamu. Waktu saya kuliah, saya nggak pernah ikut kepanitiaan."


"Masa sih?"


"Saya mahasiswa kupu-kupu. Kuliah pulang, kuliah-pulang." Balas Kala sambil mengepakan tangannya ala kupu-kupu terbang. Hal itu membuat Caka tertawa. 


"Mbaknya kerja kala itu?"


"Hmmm, sibuk part time aja waktu semester enam. Jadi asisten editor buku. Hitung-hitung bisa jajan pake uang sendiri dan bantu-bantu orang tua untuk bayar semester."


"Keren, keren."


"Kamu bisa membagi waktu kuliah dan organisasi, Caka?"


"Sepintar-pintarnya ngatur waktu, Mbak. Nilai, ya, aman dah karena kalau nggak aman bisa kena semprot emak."


"Hahaha, bener juga."


Kala mengunyah takoyakinya perlahan. Begitupun Caka. Melihat bibir Kala di penuhi saus Caka langsung mengambil tisu dan menyerahkan pada Kala. Paham maksud Caka, Kala pun langsung membersihkan bibirnya. 


"Caka, kamu mau nggak jadi guru privat saya dan beberapa teman kantor? Kita tuh lagi pada belajar bahasa Jepang. Minimal punya sertifikat N3 di kantor."


"Eh? Tapi, saya nggak terlalu jago banget. Saya rekomendasikan ke teman lain aja, ya?"


"Jangan, kamu aja yang jadi gurunya. Kamu udah punya sertifikat level berapa?"


"Saya udah N1."


"Gila, encer banget otak kamu. Kamu ada kerjaan lain, ya?"


"Ngajar les anak SD sampai SMA aja paling, Mbak. Ngajar privat."


"Tuh kan kamu pasti jago deh. Udah deh, ngajarin saya sama temen kantor. Lumayan bayarannya."


Caka membetulkan kacamatanya. Salah tingkah. "Duh, biasa aja, Mbak. Kita ketemuan di mana untuk sesi belajarnya? Seminggu berapa kali?"


"Di rumah saya boleh. Seminggu dua kali hari Sabtu dan Minggu. Untuk DP, bisa kan saya bayar sekarang?"


"Jangan ada DP, Mbak. Saya kan belom kerja masa sudah dapat uang? Saya nggak pernah minta DP selama ngajar privat."


"Ya, gapapa. Sebagai tanda jadi kita. Kamu ketik nomor rekening kamu di sini." Kala menyodorkan HP-nya.


"Sudah, Mbak."


"Oke, mohon bantuannya, Caka sensei." Kata Kala sambil menunduk. 


Caka yang mendengar itu jadi malu sendiri. "Haha, apaan sih, Mbak? Sensei darimana?"


"Minggu depan kamu mulai jadi sensei saya lho. Hahaha."


"Senang bertemu dengan Mbak Kala. Mohon bantuannya, ya." 

[]

Komentar

Postingan Populer