[Fanfiction] Jumpa (One shoot)


Hari ini hari libur. Kamu tidak punya rencana lain selain keluar rumah. Biasanya kamu marathon nonton drama atau mencuci pakaianmu. Tapi hari ini berbeda, kamu memilih jalan-jalan ke suatu tempat yang dulu kamu kunjungi sewaktu kecil. Taman yang letaknya di belakang komplek. Letaknya satu kilometer dari rumah. 


Sore hari di taman dipenuhi anak-anak yang sedang bermain bola. Kamu mengambil gambar mereka dengan toycam-mu yang sudah diisi roll film. Sebetulnya kamu enggan menggunakan benda ini untuk mengambil gambar tapi sayang jika benda itu terlalu lama didiamkan di kamarmu. 


Satu, dua, dan tiga. Kamu mengambil gambar mereka. Tiba-tiba saja kamu ingat masa kecilmu yang kamu habiskan di taman ini. Seperti nostalgia.  Kenangan masa lalu tampak jelas tapi kamu tak bisa kembali ke masa itu lagi. 


Kamu yang sekarang dihadapkan permasalahan yang lebih rumit. Setelah lulus kamu dihadapkan masalah mencari kerja. Kamu juga harus bekerja untuk membiayai kebutuhanmu sendiri.  Belum lagi pertanyaan kurang sopan seperti kapan menikah. Tak hanya itu saja, kamu pun harus memikirkan strategi untuk mengatur finansialmu. Ah, begitulah kehidupan yang kamu jalani sekarang. 


Kini kamu berdiri di depan pohon besar. Menatap pohon itu. Kamu ingat dulu kamu pernah duduk di sana sambil menggambar seorang lelaki. Lelaki yang dulunya banyak disukai oleh teman-teman kecilmu. Ah, sudah lama sekali. Gambarnya sudah hilang entah kemana namun kamu masih ingat jelas pria kecil itu. 


"Hai, Friz." Sapa seseorang yang tiba-tiba muncul di hadapanmu. Hal itu membuatmu kaget setengah mati. Siapa, ya, orang itu? Kok bisa tahu namamu? 


Kamu mengernyitkan dahi. "Kamu siapa?"


Orang itu mengulurkan tangannya. "Bilal, inget gak? Kita pernah main benteng bareng. Masa lupa?"


Bilal, ya? Eh, si Bilal yang itu? Dia tinggi sekali berbeda dengan Bilal kecil. 


"Bilal?" Kamu setengah percaya. Bilal yang dewasa sangat berbeda dengan Bilal kecil. Bilal kecil dulu tingginya lebih pendek darimu sekarang malah kebalikan. 


Kamu takjub melihat perubahan Bilal. Sudah lama sekali kamu tak berjumpa dengan Bilal. Bilal juga sudah lama pindah dari komplek. Rumah yang dulu ditempati keluarga Bilal kini ditempati oleh tantenya. 


"Apa kabar, Friz?" 


"Kabar baik, Bilal. Lo sendiri?"


"Alhamdulillah, sehat."


Kamu bingung ingin bicara apalagi pada Bilal. Padahal dulu kamu sangat akrab dengan Bilal, bahkan kamu sering menceritakan tentang Bilal kecil di buku harianmu. 


"Udah lama banget ya gak ketemu lo, Friz." Kata Bilal. 


Kamu menatap Bilal. Masih takjub. Seperti mimpi. "Iya, gue juga udah lama gak liat lo. Kita juga gak berteman lagi di Facebook."


"Haha sekarang mah mainnya pada Instagram gak sih?"


"Eh, iya, juga ya. Tapi lo punya akun Instagram?"


"Gak punya, Friz. Emang lo ada?"


Kamu nyengir. "Nggak punya juga."


Lalu Bila tersenyum. "Bisa sama gitu, ya. Eh, ngomong-ngomong gimana kabar orang tua lo? Ayah dan Ibu sehat?"


"Alhamdulillah mereka sehat. Orang tua lo gimana? Ayah lo masih suka koleksi tanaman hias nggak atau burung kicau mania?"


Bilal tertawa. Bilal senang kamu masih ingat tentang keluarganya. Kamu pun tersenyum kecil. Ingatanmu bagus. Kamu menyimpan kenangan masa kecil dengan baik. 


"Ayah gue sehat. Dia masih suka tuh koleksi burung bahkan sampe diikutin ke turnamen tuh burung." Bila tertawa riang. 


"Kalau Ibu kurang sehat, beliau pensiun dini. Kondisinya gak memungkinan buat dia kerja."


"Ibu lo sakit apa?"


"Maag udah kronis."


"Salam ya buat Ibu, semoga dia lekas sembuh." Katamu prihatin. Sekarang kamu jadi memikirkan wajah Ibunya Bilal. Sudah lama kamu tak melihatnya. 


"Lo sibuk apa sekarang, Friz? Masih suka gambar?"


"Gue udah lama sih gak buat gambar lagi. Sekarang sibuk di sekolah aja."


"Di sekolah? Lo ngajar?"


Kamu mengangguk. "Iya, ngajar anak SMA. Gue guru Sejarah."


Bilal bertepuk tangan. Mengatakan bahwa kamu hebat. Sungguh tidak ada yang pernah berkata demikian. Banyak orang lain memandang pekerjaanmu sebelah mata karena salary-nya tidak sebesar mereka yang bekerja di startup. 


"Gila, inget gak sih dulu Ibu gue suka do'ain lo jadi guru? Eh ternyata do'a Ibu gue terkabul."


"Haha, itu juga gue asal pilih jurusan karena bingung. Berhubung diterima yaudah dijalanin aja. Kalo lo sendiri sibuk apa?"


"Tapi lo hebat, menjadi guru kan perlu kesabaran ekstra. Apalagi yang lo hadapin anak SMA. Tau sendiri kan anak SMA tuh, ya, nakal-nakal banget. Ada murid yang ngerokok, tawuran, dan lain-lain. Makanan hari-hari nyokap pas guru BK banget tuh!" Kata Bilal. 


"Gue sekarang kerja di perusahaan swasta. Yah, bukan perusahaan besar gitu sih. Bagian desain grafis." Lanjutnya. 


Kini gantian kamu yang bertepuk tangan. Kamu ingat dulu Bilal tidak bisa menggambar. Tapi sekarang malah pekerjaannya berkaitan dengan hal itu. Bilal pasti susah payah mencari passion-nya. 


"Kadang gue pengen deh kerja di kantor. Seru kali ya pakai nametag lucu gitu." Katamu polos. Bilal yang mendengar itu langsung menatapmu. Keinginanmu baginya sangatlah sesederhana. Baginya kamu tidak berubah. Masih kamu yang dulu. Bilal bersyukur tidak kehilangan sosok kamu sewaktu kecil bahkan saat dewasa. 


"Kalo cuma pakai nametag aja mah sini gue bikinin. Mau model kayak apa?"


"Ya ampun, Bilal. Gue mah cuma pengen aja. Tapi nggak mungkin kan gue kerja di kantor. Gue udah berada di jalan ini. Tanggung kalau berhenti di tengah jalan."


Bilal mengangguk setuju. "Lo harus semangat, ya. Kejar apa yang lo mau. Di usia ini emang kadang bingung sih maunya apa."


"Makasih, ya. Eh, iya, tujuan lo ke sini apa Bilal?"


"Mencari sesuatu sih."


"Kayak apa?"


"Ketemu lo, Friz. Jujur saat gue pindah dari komplek ini ke kota yang sekarang gue tinggali rasanya berat banget. Bahkan gue berpikir, gue bisa nggak ya ketemu lo lagi. Bagi gue Frizzy adalah sahabat baik. Lo ngajarin gue gambar meskipun gambar gue jelek. Di situ gue semangat untuk bisa menggambar dengan baik. Saat SMK gue ambil jurusan desain grafis dan kuliah pun demikian. Gue sampai di tahap ini berkat Frizzy juga. Mungkin kalau gak ketemu lo, gue bingung mau jadi apa." Ucap Bilal panjang lebar. 


Bagi Bilal kamu sangatlah berarti. Bahkan kamu sendiri tidak menyadarinya. Yang kamu tahu kamu hanyalah manusia biasa. Kamu juga tidak pernah menganggap diri kamu keren. 


"Bil, terima kasih. Kata-kata lo sangat menguatkan gue." Katamu terharu. 


Diam-diam kamu mengambil gambar Bilal saat dia sedang menatap ke arah lain. 



"Tetap menjadi Frizzy yang seperti ini, ya." Bilal menepuk bahumu. Kalau saja kamu tahu bahwa di lubuk hati Bilal terdalam, dia menyimpan namamu di hatinya sejak dulu hingga sekarang. 


Semoga kelak kamu menyadari perasaan Bilal. 


[]


Komentar

Postingan Populer