[FAN FICTION] Seperti Air (One Shoot)

Disa menenggelamkan wajahnya di meja. Dia lelah. Jam istirahat belum habis. Dia masih bermalas-malasan di kantin sehabis menghabiskan satu porsi ketoprak pedas guna mengusir kepalanya yang pening. 


Si penjaga kantin mengambil piring kotor yang Disa gunakan. Dia bahkan tak sadar kalau si penjaga kantin barusan mengambil piring kotor itu sanking pusing kepalanya memikirkan hidupnya. 


Hidupnya tampak rumit. Dia tinggal bersama keluarganya. Keluarganya lengkap. Ada ayah, ibu, dan dua orang kakak. Tapi Disa tak suka tinggal dengan ayah. Dia benci dengan ayahnya. Ayahnya selalu seenaknya sendiri dan semua orang kena imbas atas perilaku ayahnya. 


Ayahnya pembohong ulung. Dia juga suka berhutang. Hari-hari Disa memikirkan bagaimana caranya bisa membayar hutang-hutang orang tuanya yang begitu banyak. Gaji Disa tak seberapa dan dia harus membayar hutang orang tuanya. Ayahnya tak mau tahu. Disa benci dengan keadaan ini.


"Dis, masuk yuk, bentar lagi ada kelas." Ajak Kun. Teman sekelas Disa. Mereka sama-sama dari kelas ekonomi menengah bawah. Kun kuliah di tempat ini juga karena beasiswa. Sama seperti Disa. 


"Eh, jam berapa ini?"


"Jam satu. Bengong aja lo daritadi."


"Astaga. Ayo, cepat. Nanti dosennya marah-marah lagi."


Seusai membayar makanannya Disa pun pergi ke kelas bersama Kun. Kun paham kalau Disa banyak melamun pertanda dia sedang memikirkan sesuatu. Pasti hutang orang tuanya lagi. Kun tidak bisa berbuat banyak. Hidupnya juga dalam kesulitan. Ayahnya pergi dengan wanita lain sehingga Kun harus bekerja untuk membatu perekonomian keluarga. Jadi, Kun ini kerja sambil kuliah. 


Mereka pun masuk ke dalam kelas. Disa membuka bindernya begitupun Kun. Mereka duduk bersebelahan. 


Kun menatap flatshoes Disa yang sudah usang. Warnanya pudar. Dia jadi miris melihat itu. 


"Eh, Toko Beauty lagi ada diskon sepatu tau!" Ucap seorang teman sekelas yang duduk di depan Disa dan Kun. 


"Kita ke sana yuk, shopping gitu. Gue baru dapet uang bulanan nih dari bokap." Kata orang di depan mereka. Itu Audry. Cewek yang kaya raya di kampus. Ayahnya adalah pengusaha batu bara. 


"Sip, uang jajan gue juga turun nih. Nyokap habis transfer." Kata Gladys. Gladys juga orang berada. Ibunya punya hotel bintang yang menyebar di seluruh negeri ini. 


Mendengar itu Disa langsung melirik flatshoes-nya. Sudah tak layak pakai. Kun ikut memperhatikan. Hatinya jadi sedih melihat sepatu Disa yang sudah mengelupas. Sepertinya Disa harus beli yang baru. 


-


"Dasar anak gatau diri! Ayah tuh punya utang gara-gara kamu! Gara-gara biayain kuliah kamu tuh." Ucap ayah membentak Disa. Usaha ayah memang sedang pailit. Tidak seramai tahun lalu. Mungkin sebentar lagi gulung tikar. 


Disa menahan tangisnya. Dia tidak ingin menangis dan terlihat lemah di hadapan ayahnya. Ya, ayahnya selalu menyalahkan Disa. Disa selalu menjadi sasaran empuk kemarahan ayahnya. Disa berpikir bahwa dirinya adalah beban keluarga. Selalu membuat keluarganya susah. Padahal kuliah juga karena beasiswa. Tapi Disa lagi yang disalahkan. 

 

"Mau kemana kamu? Anak sialan!" Ayahnya murka. 


Disa langsung keluar dari rumah. Dia menaiki sepeda gunungnya. Mengayuh sepeda dengan sekuat tenaga. Dia tak tahan lagi dengan semuanya. Hidupnya kacau. Semuanya berantakan. Dia lelah dengan semuanya. 


Kapan hutang-hutang ayahnya lunas? Kapan dia bisa hidup tenang tanpa ucapan kasar ayahnya? 


Disa sampai di jembatan sepi. Jembatan itu jarang dilewati orang karena berada di puncak. Paling-paling dilewati oleh para petani teh jika jalanan utama ditutup. 


Disa menyeka air matanya yang jatuh perlahan. Sungguh, dia tak ingin menangis. Tapi air matanya sulit dibendung. Perkataan ayah dan sumpah serapah yang keluar dari mulut ayah sangat menyakitkan. Ayahnya mungkin lupa kalau Disa juga manusia yang punya perasaan. 


Seseorang membanting sepedanya. Disa langsung menoleh. Dia tahu lelaki itu pasti datang. Lelaki itu selalu datang kemari kalau Disa tidak mengangkat telfonnya. 


"Gue tau." Katanya. Menebak alasan Disa kemari. 


Disa mengangguk. Memegang tali jembatan. Menangis sesegukan. Menatap hamparan kebun teh yang memenangkan tapi tetap saja pemandangan indah di sini tak bisa mendamaikan hatinya. Percuma hati Disa sudah hancur. Kecewa pada ayahnya. 


"Hati itu kayak air, ya. Kadang dia bisa tenang dan jernih. Kadang juga dia bisa suram dan kotor. Ya nggak sih?" Ucap Kun memecah keheningan setelah sepuluh menit tak ada obrolan diantara keduanya. 


"Tapi, kalau air di jaga dengan baik maka ia akan tetap bersih dan jernih. Begitupun sebaliknya, kalau dibiarkan kotor maka airnya akan suram. Boro-boro mau dimanfaatkan airnya kalau udah suram mah."


"Terus kenapa?"


"Ya, gapapa, sih. Cuma lihat persamaan air dan hati manusia aja."


"Dis, mungkin sekarang hidup lo kayak gini tapi apapun keadaannya jangan biarkan hati lo kotor. Tetap jernihkan hati kayak air di bawah jembatan ini nih. Airnya selalu bersih kan? Bahkan airnya bisa dimanfaatkan oleh petani sini buat nyiram kebunnya. Jadi penting banget Disa menjaga hati."


"Tapi, gue nggak bisa berhati jernih kalau ada di dekat bokap gue, Kun. Gue nggak bisa. Dia selalu membuat gue kesal. Gue marah diperlakukan seperti itu. Mana ada orang yang betah hidup sama orang kasar kayak dia? Kalau gak belain anak, nyokap pasti udah pergi." Kata Disa dengan suara parau. 


"Ya, gue ngerti. Tapi sejeleknya dia. Dia adalah orang tua lo. Kalo dia marah tinggal lo diemin aja. Biarkan dia marah-marah. Jangan dibales udah. Toh, nanti akan berhenti sendiri."


"Orang kayak bokap lo sebenarnya itu adalah orang yang lemah. Dia lemah karena nggak bisa tahan amarah. Orang yang kuat kan orang yang bisa menahan amarahnya. Seperti itu kan agama yang lo anut mengajarkan? Lanjut Kun. Dia banyak baca literasi agama yang dianut Disa. 


Disa mengangguk. "Terus gue harus gimana?"


Kun menatap Disa. Dia memegang bahu Disa. "Lo cukup menjalani hidup lo, Dis. Sikap bokap lo gak bisa lo kontrol dan yaudah biarkan. Lo gak bisa kontrol sikap orang terhadap lo tapi lo bisa kontrol sikap lo kepada orang lain.  Ya, lo jangan bersikap sama dengan bokap lo. Gak ada bedanya kalian."


"Kalo bokap lo marah cukup lo tutup telinga lo dengan musik. Kunci kamar lalu tidur." Kata Kun. "Gue melakukan hal itu waktu bokap marah ke gue."


"Iya, juga, ya. Eh, gak harus berhenti kuliah kan?"


"Nggak perlu, udah semester 6. Lagian beasiswa lo full. Ongkos juga kan lo hasilnya kerja part time."


Kun menggambarkan lambang air pergelangan tangan Disa. "Ini simbol air. Air itu bagi gue simbol ketenangan. Jadi kalo kenapa-kenapa ingat aja air. Dengan begitu lo juga bisa ingat gue, Dis. Ingat gue sebagai sahabat lo."


"Terima kasih, Kun."


Kun mengambil kotak yang entah isinya apa dari sepedanya. Baguslah kotaknya tidak rusak karena tadi Kun membanting sepedanya begitu melihat Disa menangis. 


"Maaf, gue cuma bisa kasih itu di hari ulang tahun lo." Kata Kun menyodorkan kotak itu. 


"Ulang tahun?" Disa berpikir.  Dia bahkan tak ingat ulang tahunnya sendiri.


Disa langsung membuka kotak itu. Isinya sepasang flatshoes dari Toko Beauty. Toko yang menjual sepatu wanita terbaik di kota. 


"Ini mahal, Kun." Kata Disa. 


"Ya tapi tidak semahal persahabatan kita, Disa. Selamat ulang tahun. Semoga  selalu menjadi Disa yang dewasa dan bahagia."


Disa tertegun menatap Kun. Lelaki itu hatinya baik. Beruntung Disa memiliki sahabat seperti Kun. 


"Makasih, Kun."


Kun mendirikan sepedanya. "Ayo, Dis kita cabut dari sini! Sebentar lagi hujan. Di rumah, nyokap gue udah masak makanan banyak untuk perayaan Imlek. Ya kali lo nggak mau coba."


Kedatangan Kun membuat perasaan Disa jadi lebih baik. "Eh, ada si Dong Shiceng?"


Kun mengangguk. "Ada, Xiao Jun juga ada kok. Bahkan Wong Yukhei."


"Eh, cowok semua? Ngga ada perempuan kah?"


"Ada adik gue si Ningning baru balik dia dari asrama."


"Asik. Bisa dong request lagu-lagu OST Meteor Garden. Kalian kan jago nyanyi?"


"Siap, bosku!" Kata Kun mengacungkan jempol. Kemudian mereka menumpangi sepeda masing-masing menuju kediaman Kun yang sedang merayakan perayaan Imlek. 


[]

Komentar

Postingan Populer