Utuh
Sejak dewasa, aku sering berseberangan jalan pikiran dengan Ayah. Beliau adalah sosok yang baik hati, namun seringkali impulsif. Berbeda denganku yang lebih suka mengkritisi langkah hidup dan berpikir jangka panjang.
Saat ini, aku memilih bertahan di pekerjaanku karena ada tanggung jawab besar di pundakku seperti biaya rumah, listrik, dan air yang kini menjadi tanggung jawabku sepenuhnya karena Ayah tak lagi mampu mencukupi kebutuhan kami. Ayah ingin aku jadi PNS, dia memintaku meninggalkan profesi guru yang saat ini kujalani. Namun bagiku, sertifikasi guru yang sudah kuraih adalah aset berharga untuk menabung demi masa depanku.
Kami hidup di era yang berbeda. Ayah tumbuh di masa ekonomi keluarga yang lebih mapan, mungkin itu juga yang membuatnya tidak mengenal proses panjang untuk meraih sukses sementara aku berjuang di saat kondisi tak lagi sama. Pelajaran terbesar yang kupetik dari beliau adalah: ambisi tanpa perhitungan panjang hanya akan membawa ketidakpastian. Ayah terlalu menggebu-gebu dan minim memperhatikan dampak atas keputusan yang dibuat.
Bagiku, berbakti bukan berarti kepatuhan buta. Membantu finansial dan mendoakan keselamatan mereka adalah caraku berbakti tanpa harus kehilangan jati diri. Aku bukan tidak mau mendengar arahan orang tua, aku hanya sedang mempertimbangkan setiap langkah agar tidak terjatuh di lubang yang sama karena aku mengenal diriku, kebutuhanku, dan apa yang kuimpikan dalam hidup (termasuk karir). Aku butuh didukung, bukan sekadar didikte. Aku hanya ingin menjadi manusia utuh. Semoga Ayah bisa mengerti.
Komentar
Posting Komentar