Inner Peace

Menulis itu sederhana namun bermakna dalam. Sejak membiasakan diri untuk menulis, rasanya aku punya tempat ternyaman untuk bercerita tanpa harus menyakiti siapapun. Aku punya kebebasan untuk menyuarakan isi pikiranku yang rumit. Yah, kadang isi pikiranku memang harus bermuara ke tempat yang semestinya.

Belakangan aku merasa bahwa aku semakin percaya diri dalam banyak hal. Bahkan saat berfoto sendiri rasanya aku nyaman dengan diriku, nyaman pula dengan pakaian yang kugunakan. Kurasa itu tidak terjadi begitu saja tetapi lewat penerimaan diri. Hal itu memerlukan proses yang panjang sampai di tahap bahwa aku menerima apa adanya diriku. 

Ah, ya. Hari ini aku akan menulis hal random tentang apa yang aku lalui dan yang aku rasakan. Di tahun 2026, aku sudah melakukan pencapaian yaitu mengikuti seminar proposal. Rasanya cepat sekali, padahal tahun 2024, aku baru daftar menjadi mahasiswa baru. Aku bangga pada diriku yang mampu membiayai pendidikan sendiri. Di tempat kerja, beberapa teman lelaki mengambil S2. Hal itu yang memotivasiku untuk kuliah lagi. 

Bagiku, single era adalah waktu terbaik untuk berinvestasi pada diri sendiri. Kuliah lagi bukan sekadar pilihan, tapi bentuk aktualisasi diri. Meskipun kutemukan kendala seperti jadwal kuliah yang berbenturan dengan jadwal di tempat kerja, tetapi aku berusaha untuk mengatur waktuku. Aku berusaha untuk konsisten. Perasaan membayar kuliah sendiri ini membuatku lebih bertanggungjawab. 

Selama menjadi mahasiswa S2, ada hal baik yang aku dapat. Aku semakin mengerti cara menyusun laporan ilmiah. Di sini aku harus gerak cepat, karena waktu kami lebih singkat dibandingkan S1. Aku merasa tak nyaman ketika mendapatkan tugas kelompok bersama teman yang kurang peka. Hal itu membuatku layaknya superhero yang harus back up tugas kelompok ini. Aku tidak bisa mengontrol sikap orang lain. Syukurlah, fase itu telah berakhir. Kini aku akan fokus pada penelitianku. Aku percaya semua akan terasa mudah.

Aku banyak melakukan kegiatan positif,  bukan hanya untuk mendapatkan jodoh yang baik melainkan untuk kenyamanan diriku. Kurasa, perlahan wishlist-ku tercapai karena mukjizat dari Allah. Semua terjadi karena kehendak Allah. Aku sangat percaya bahwa dalam hidup ini ada Allah yang mengatur, jadi kupasrahkan semua hidupku di tangan-Nya. Dialah yang paling tahu mana yang terbaik untukku.

Sekarang aku merasa bahwa energi positif selalu datang padaku. Aku akan mendengarkan suara hatiku. Aku tidak mau menganggap diriku ini tidak punya sesuatu yang dibanggakan. Aku cukup bangga dengan diriku sendiri. Aku merayakan kelebihan dan kekurangan yang kupunya.

Ternyata hidup akan terasa lebih nikmat ketika kita sering bersyukur. Rasa syukur itu harus dipupuk tiap hari. Ketika aku mulai bersyukur dan menerima diriku seutuhnya, maka orang akan melihat cahayaku, cahaya yang ada di dalam diriku terpancar dari raut wajah yang tenang, tidak terburu-buru. Hal itu aku sebut dengan inner peace (kedamaian di dalam jiwaku). 

Jadi, mulailah untuk bersyukur dan menerima diri kita. Kita Istimewa!

Komentar