The Wind Blows

Aku selesai dengan pekerjaanku. Berpamitan kepada rekan kerjaku. Hari ini aku menolak tawaran mereka untuk ke salah satu restoran Jepang yang baru saja dibuka, lokasinya memang tak jauh dari tempat kerja.

Sebetulnya aku tak enak menolak tawaran itu, terlebih posisiku adalah pemagang di kantor itu. Dan lagi yang mengajak pergi ke restoran itu adalah atasanku. Tapi, tak ada pilihan lain. Aku punya urusan pribadi yang mengharuskanku pulang. Lagipula urusan pekerjaan kantor sudah selesai.

Aku menuruni anak tangga dengan cepat. Keluar dari area kantor dengan langkah terburu-buru. Melambaikan tangan pada taksi. Lalu segera masuk ke dalam taksi. Tentu saja duduk di bangku belakang. Tak lupa sambil melihat keadaan jalan raya lewat jendela mobil.

"Tujuan ke mana, Nona?"

"Perbukitan Palmvile."

"Bukankah perbukitan itu adalah Tempat Pemakaman Umum?"

Aku mengangguk. Menatap si supir dari kaca. "Iya, betul. Itu adalah makam."

"Hari sudah menjelang malam, Nona. Apa Nona tidak takut? Atau mau saya temani?"

Aku menggeleng pelan, "tidak perlu, Pak. Saya bisa sendiri. Saya ingin ke makam seseorang. Di daerah sana juga ada penginapan."

"Oh, ya, baiklah, Nona." 

Tak ada perbicangan antara aku dan supir itu. Yang ada hanya nyanyian dari lagu lawas seperti lagu- lagu milik Air Supply yang menemani perjalanan ini. 

Setibanya di lokasi, aku pun segera turun. Tentu saja tidak lupa tuk membayar bills dan tips. 

"Nona yakin mau sendirian saja?" Tanya supir itu.

Aku tersenyum kecil. "Tentu saja, Pak. Tidak ada yang perlu ditakutkan."

"Tapi kan bukit ini a..angker, Nona."

"Setan-setan itu tidak akan berani membunuh saya. Saya bawa botol cairan bubuk merica. Jika mereka berani, semprotkan saja cairannya atau lempar saja mereka pakai high heels milik saya."

Supir itu terkekeh. "Baiklah, Nona. Saya permisi. Hati-hati, Nona." Supir itu melambaikan tangan dan menutup kaca mobil.

Aku sudah hafal di mana makam itu. Makam yang biasa kudatangi pada tanggal 14. Selama tiga tahun berturut-turut. Aku lupa membawa bunga. Aku hanya membawa sebatang cokelat favoritnya.

"Hai, Bu. Bagaimana kabarmu?" Tanyaku. Aku memegang batu nisan itu. Membaca nama itu lagi. Aku tidak bisa menangis lagi karena tidak ada gunanya. Aku menangis pun, Ibu tidak akan kembali hidup kan? Hanya memohon supaya Ibuku masuk surga. Di surga dia bisa minta apa saja yang di mau. Termasuk kucing berbulu tebal. Hewan favoritnya.

"Kabarku baik, Bu. Sekarang ini aku adalah pekerja. Kau tak perlu tahu bagiannya apa yang penting gajiku cukup untuk membelikan si Katty makan. Dia betul-betul kucing gembul yang suka makan." Kataku.

"Maaf, aku tidak membawa bunga anggrek. Tapi aku bawa cokelat batang. Kau suka kan?" Aku meletakkan cokelat itu di samping batu nisannya.

"Ngomong-ngomong Bu, tetangga kita yang julid itu sudah pindah. Dia sudah tidak tinggal di depan rumah kita lagi. Syukurlah, jadi aku tidak perlu mendengarkan ocehannya lagi. Aku muak ketika dia mengatakan aku perawan tua."

"Kau bicara dengan siapa?" Tanya seseorang membuatku mendongak. Hari mulai gelap tapi mataku masih bisa menangkap wajah yang saat ini menatapku balik.

"Kau buta, ya? Tentu saja dengan mendiang Ibuku."

"Memang kuburan bisa diajak bicara?"

"Bodoh!" Kesalku. Siapa sih orang ini? Datang-datang membuatku emosi. "Kau siapa?"

"Seharusnya aku yang bertanya padamu, untuk apa datang ke tempat kami jam segini?"

Aku mengerutkan dahi. "Tempatmu? Sejak kapan bukit ini jadi hak milikmu? Ini kan tempat umum."

"Terserah kau sajalah, Nona. Lebih baik kau pulang. Binatang buas segera datang dan hantu di malam hari akan berkeliaran. Kau tidak takut?"

Orang itu sudah gila. Siapa dia menyuruhku pulang? Sekalipun aku mati karena dimakan hewan buas juga bukan urusannya. Dasar, lelaki cerewet!

"Kau saja yang pulang. Wajahmu pucat. Kelihatannya kurang darah. Berhentilah menatapku dengan tatapan begitu." Aku bangkit. Merapikan bajuku.

"Hati-hati, bukit ini gelap." Katanya.

Namun saat aku ingin membalas ucapannya, orang itu sudah tidak ada. Dia betul-betul menghilang. Padahal tadi aku melihatnya berdiri di dekatku. Ke mana perginya dia? Dia hilang bagaikan angin yang berlalu.

"Hei, kemana kau? Sungguh jangan main-main denganku."

Aku memegang tengkukku. Perasaanku jadi tak enak. Kulitku terasa dingin. Oke, tarik nafas. Jangan panik. Jadi, tadi itu aku berbicara dengan siapa? 

Manusia pucat itu? Jangan-jangan dia adalah....

Komentar

Postingan Populer