Melepaskan

Emily. Gadis itu selalu duduk di bangku paling pojok dekat dengan jendela perpustakaan lantai enam. Dia selalu sendiri, tak pernah membawa teman satu pun. Padahal kalau di kelas, dia punya banyak teman. Dia juga supel dan mudah diajak bicara. Tapi, sepertinya jika berdiam di perpustakaan, Emily menjadi sosok yang berbeda.

Emily sibuk membalikkan lembaran buku. Aku tidak tahu buku apa yang dia baca, tapi kurasa itu bukanlah suatu novel melainkan notebook yang kelihatannya sangat antik. Buat apa dia membaca notebook sampai serius begitu?

Di lantai ini hanya ada empat orang yaitu aku, Emily, penjaga perpustakaan, dan satu orang yang sedang sibuk dengan laptopnya.

Aku menatap Emily lagi, dia menyeka air matanya. Sebelumnya dia belum menangis dan sekarang dia menangis tanpa suara. Emily, ada apa?

Tak bisa membiarkannya semakin sedih. Aku coba untuk menghampiri. Siapa tahu dia dalam masalah besar dan barangkali aku bisa membantunya. 

"Emmy, kamu kenapa?" Tanyaku pelan. Emily menggeleng menyeka air matanya. Ya, hanya aku yang memanggilnya dengan sebutan Emmy.

"Tidak, Ka, aku tidak apa-apa." Kini dia bersuara. Nafasnya seperti tercekat. Sepertinya butuh usaha untuk mengeluarkan suara.

"Kamu temanku, ceritakan saja. Mungkin aku bisa membantumu walaupun sedikit." Aku menawarkan diri. 

"Ka, tidak, aku sungguh tidak apa-apa." Katanya. Air matanya semakin berlinang.  Sungguh hatiku jadi ngilu. Bisa-bisanya Emily sedih begitu. Aku tidak pernah melihat dia seperti itu. 

"Kamu kenapa-kenapa, Em? Ceritakanlah. Dadamu semakin sakit, Em, jika tidak menceritakan apa yang kamu rasakan."

"Ka, apakah aku layak untuk disukai orang lain?" Tanya Emily. Untuk pertama kalinya dia bertanya padaku tidak seputar urusan kampus.

Aku mengangguk. "Tentu saja, kamu adalah gadis yang baik. Aku yakin ada orang yang menyukaimu karena sikapmu itu."

"Tapi, mengapa orang yang menyukaiku tak kunjung datang padaku? Aku menantinya sejak lama. Aku ingin melihatnya, Ka. Sungguh sakit sekali. Aku menunggu ribuan hari untuk bertemu dengannya lagi. Aku tidak tahu harus kemana. Aku kehabisan cara. Rasanya waktuku habis untuk menangisi orang itu tapi bodohnya aku selalu melakukan hal yang sama." Emily menunduk. Air matanya jatuh. Aku semakin tidak tega melihatnya. Ternyata dia punya sisi rapuh. Emily tidak baik-baik saja.

"Kamu tidak bodoh, Em. Itu manusiawi. Mencintai orang lain adalah hal yang wajar pun merindukan orang lain. Aku mengerti apa yang kamu rasakan."

Emily menyeka air matanya lagi dan lagi. Hatiku jadi teriris. Sakit sekali. Aku paham apa yang dia rasakan. 

"Aku seperti orang bodoh, aku mencari kabarnya lewat forlap Dikti. Cuma itu satu-satunya cara agar aku tahu kalau dia sudah lulus atau belum. Cuma itu satu-satunya cara agar aku tahu mata kuliah apa yang ia ambil di kampus. Sungguh, Ka, aku tidak mengerti dengan diriku sendiri." Emily menangis. 

"Boleh aku tanya sesuatu?"

Emily mengangguk. "Apa itu, Ka?"

"Apakah kamu bahagia jika begitu?"

"Tentu, Ka. Aku bahagia. Aku tidak punya cara lagi untuk mengungkapkan perasaanku selain menulis cerita fiksi dan curahan hati di dalam buku jurnalku tentangnya. Hanya itu yang bisa dilakukan saat ini, Alika."

"Em, aku bahagia melihatmu terbuka padaku. Aku juga turut bahagia karena ternyata di dalam dirimu masih ada cinta untuk orang lain, apalagi sedalam itu. Tapi, pikirkan juga tentang dirimu. Pikirkan tentang kebahagiaanmu. Kau tidak bisa menggantungkan harapan ke orang lain. Hal itu membuatmu kecewa semakin banyak." Kataku panjang lebar.

"Apakah aku harus berhenti?"

"Lepaskan saja supaya hatimu lega. Jika dia baik maka dia akan kembali dengan cara yang baik."

"Jadi menurutmu mencintai yang baik itu seperti apa, Ka?"

"Cinta yang membuatmu menjadi orang yang lebih baik. Cinta yang membuat senantiasa berdoa yang terbaik untuknya. Bukankah kamu turut bahagia jika orang itu mendapatkan bahagianya juga?"

Emily menghela nafas berat, "apa aku bisa, ya se-legowo itu, Alika?"

"Harus bisa, Em. Bagiku puncak tertinggi mencintai adalah melepaskan."

Em, kau harus belajar melepaskan. Aku pun belajar melepaskan. Memang sakit tapi itu lebih baik daripada terlalu berharap pada manusia. Terlalu berharap itu sumber dari rasa kecewa, bukan?

Hidup ini sudah cukup pelik jangan biarkan dirimu terbelenggu dalam rasa kecewa lebih dalam. Itu pesanku, termasuk pengingat kepada diri sendiri.

Tuhan, jangan biarkan kami mencintai apapun melebihi rasa cinta kami pada-Mu.

Komentar

Postingan Populer