[ONE SHOT: FANFICTION] Yang Hilang Kembali Pulang
Ara mengikat rambutnya dengan rapi. Berkaca di cermin besar kamar mandi. Melihat lingkar matanya semakin jelas. Pertanda akhir-akhir ini kurang tidur. Iya, dia merasa begitu. Akhir-akhir ini perasannya tak menentu. Dia tahu penyebabnya apa tapi dia berusaha baik-baik saja.
Ara menuruni tangga darurat. Malas antre di depan lift. Hitung-hitung olahraga. Cukup melelahkan karena ada ratusan anak tangga yang ia lalui. Yang benar saja dari lantai sepuluh ke lantai satu. Kakinya serasa mau lepas.
Sore itu tampak mendung. Angin yang cukup kencang membuat Ara cukup takut. Lihatlah tempat ini sudah dipenuhi oleh ojek payung.
Ara mengambil poselnya dari saku. Melihat chatroom namun kembali menggeser touchscreen dengan cepat. Kosong. Tak ada kabar. Pesan miliknya belum dibaca. Bersamaan dengan itu, dadanya terasa sakit. Sesak. Tak tergambarkan lagi.
Tanpa sadar air matanya jatuh hanya karena menunggu kabar dari seseorang yang baginya penting. Kemana perginya orang itu, ya? Ara hanya berdialog dengan diri sendiri. Mencoba yakin bahwa hal buruk tidak akan terjadi.
"Ara," panggil seseorang. Ara mendongak begitu di depannya ada seorang lelaki yang sedang menatapnya.
"Eh, Renjun." Ara mundur selangkah. Iya, itu Renjun teman sekelas Ara yang bicaranya sedikit.
Untuk pertama kalinya Renjun memanggil Ara. Wah, ajaib. Biasanya di kelas Renjun tidak pernah mengajak Ara bicara.
Hujan pun turun, mereka terjebak hujan. Ara tidak bawa payung begitupun Renjun. Anehnya ojek payung yang tadi Ara lihat kini tak terlihat. Kemana perginya mereka?
"Hujan, Ra. Gak mungkin diterobos deh. Bisa basah bajunya."
"Iya padahal pengen sewa ojek payung kok mendadak mereka pada bubar, ya?" Balas Ara.
Mereka berdiri di depan Gedung X. Gedung X merupakan gedung untuk program Pascasarjana. Ya, Ara merupakan mahasiswa aktif S2 jurusan Manajemen Sumber Daya.
"Lo kenal sama Jeno, Ra?"
"Jeno?"
"Iya Lee Jeno. Seumuran sama kita kok."
"Oh, iya, iya. Dia crush gue. Kenapa tuh? Kenal Jeno juga?"
Renjun mengangguk. "Iya, dia sahabat gue. Waktu SMA kita suka main bareng. Dia kan sekolah di SMA Mutiara Kasih. Sama kayak gue."
"Apa iya? Kenapa Jeno gak pernah cerita ke gue ya kalo punya sahabat di kampus ini? Mana jurusannya sama lagi kayak gue dan sekelas pula."
Renjun mengangkat bahu sambil memasang wajah pasrah. "By the way, Jeno gimana kabarnya?"
"Lho, kok nanya gue? Lo kan sahabatnya. Gue aja gata----"
ARA POV
"ARA, ARA!" Teriak seseorang berlari ke arah Gedung X sambil membawa payung berwarna ungu. Aku mengedipkan mata dua kali.
Lee Jeno? Itu dia? Demi apa?
Aku menepuk pipiku dua kali. Mencubitnya berkali-kali. Sumpah, bukan mimpi! Jeno datang menjemputku setelah dua hari tidak ada kabar? Apa anak itu waras atau hilang kewarasan? Seumur-umur tak pernah menjemputku paling hanya memesankan ojek online saja. Sesibuk itu memang Tuan Muda Jeno.
"Jemput kok gak bilang-bilang, Jen?"
"Biar suprise sih, sorry hilang kabar. Kerjaanku lagi numpuk banget. Aku sampe takut nengok WhatsApp sanking banyaknya kerjaanku."
Aku bernafas lega. Jadi selama ini dia tak ada kabar karena urusan kerja? Kenapa tidak berterus terang saja? Aku kan jadi khawatir dan berpikir yang tidak-tidak tentangnya.
"Jen, kamu kenal Renjun yang ini kan?" Aku menunjuk Renjun yang berdiri beberapa jengkal dariku.
Jeno diam. Dia menatap Renjun datar meskipun Renjun tersenyum ramah padanya. Dia itu kenapa sih? Apa tidak bisa tidak memasang wajah seperti itu kepada orang lain? Aku kan jadi tidak enak hati pada Renjun.
"Yuk, kita pulang!" Kata Jeno menarik lenganku. Dia tidak berpendapat tentang Renjun sedikitpun. Aneh, katanya Renjun kenal Jeno? Tapi kok Jeno bersikap kurang menyenangkan begitu?
"Jen!" Kataku.
"Ayo, Ara! Hujan semakin deras. Nanti kamu sakit. Besok kan harus kuliah."
"Iya, iya." Balasku. "Renjun, gue duluan ya. See ya,"
Aku pun pergi meninggalkan Renjun yang masih berdiri di depan Gedung X. Kini aku dan Jeno berjalan menuju parkiran dengan payung yang terbuka lebar.
Hari ini Jeno tampan. Dia memakai kemeja putih dan celana bahan abu. Sepertinya ada meeting dengan client. Biasanya juga kerja hanya memakai kaos dan celana jeans saja.
"Kamu gak kenal Renjun?"
"Kenapa emang?"
"Ya nanya aja."
"Dia mantan sahabatku." Ucap Jeno.
"Kok mantan Jen?"
"Iya, aku bilang dia mantan sahabatku karena dulu dia jadian sama mantan pacarku. Aku masih belom bisa maafin dia. Makanya aku takut kamu dekat dengan dia, Ra."
Deg, jantungku. Jeno bisa cemburu juga?
"Mantan kamu yang sudah almarhumah kah, Jen? Maaf."
Jeno mengangguk, "iya."
"Tapi, Jen. Itu kan sudah jadi masa lalu. Kenapa kamu gak maafin dia? Lagipula kamu kan sama aku bukan sama orang di masa lalu. Fyi, itu pertama kalinya aku ngobrol sama Renjun kok." Aku menjelaskan.
Jeno memegang tanganku. Tangan kanannya memegang payung. "Ra, melupakan kejadian itu gak gampang buatku. Aku pasti maafin dia, tapi gak sekarang, Ra. Aku butuh waktu."
"Sampai?"
"Sampai aku sembuh. Sampai aku bisa percaya sama dia lagi. Semua butuh waktu."
"Oh, ya, tapi memaafkan itu penting, Jen."
"Aku tau. Aku cuma butuh waktu aja. And I'm so sorry. Aku juga banyak dosa ke kamu. Sering hilang gak ada kabar akhir-akhir ini. Tapi percaya Ra, aku mengindar bukan karena gak care. Cuma kadang butuh waktu untuk healing dari kerjaan aku yang berat."
Aku mengangguk. "Iya lain kali kasih aku aba-aba, ya. Aku kan nungguin kabar kamu. By the way, terima kasih udah bertahan sampai sejauh ini, Jeno. Kamu keren."
Jeno tersenyum. "Thank you, Ra."
•••
Komentar
Posting Komentar