Storm in My Heart

“Bisa ceritakan pada saya, apa yang terjadi?” tanyaku pada seorang wanita yang sebulan ini rutin mendatangiku. Tatapan wanita itu kosong. Lingkar di bawah matanya menandakan bahwa dia kurang tidur. Dia menitihkan air mata tanpa bersuara. Entah cerita apa yang ia bawa hari ini.

“Dok, bagaimana kalau semua yang saya miliki akan hilang? Saya belum siap kehilangan semuanya.” ucapnya. Kini bola matanya menatapku. Dia meminta jawaban. Aku tahu wanita itu sedang tidak baik-baik saja. Hal itu yang membuatnya datang kesini meminta pertolongan.

Aku menghela napasku. Pasien kali ini memang punya masalah yang berat. Namanya Airen, dia adalah seorang aktris berusia 35 tahun. Dia punya masalah yang cukup serius tentang kehidupannya. Dia bercerai dengan suaminya karena suaminya berselingkuh, dia juga punya hubungan yang tak harmonis dengan ayahnya, ayahnya hanya datang padanya untuk meminta uang, dan nasib karirnya tidak sebagus dulu. Tak ada tawaran main film sebagai pemeran utama seperti saat dia belia. Ditambah kemunculan aktris muda yang membuat kepopulerannya semakin meredup.

“Bagaimana jika semua orang meninggalkan saya, Dok?” dia bertanya padaku. Dia menangis. Khawatir akan kegelisahannya. Takut orang-orang takkan mencintainya lagi.

“Semua akan baik-baik saja, Nyoya. Tak perlu banyak memikirkan hal yang belum terjadi. Just let it flow, enjoy your beautiful life.” balasku mencoba menenangkan.

***

Aku selesai dengan pekerjaanku. Sebelum beranjak pergi, kupadamkan lampu ruangan. Aku ingat hari ini punya janji. Aku harus datang ke acara press conference suatu film baru. Di mana Airen menjadi salah satu pemerannya meskipun dia bukan pemeran utama. Rasanya grogi sekali. Untuk datang ke acara itu, aku rela membeli kemeja baru.

“Pak, bisa dipercepat?” kataku pada driver ojek online yang kutumpangi. Si driver pun mengiyakan. Aku berharap bisa tiba tepat waktu. Aku tak ingin mengecewakan Airen.

Aku tiba di suatu hotel mewah. Acara press conference akan diadakan di ballroom hotel. Lihatlah, karpet merah sudah digelar. Bangku-bangku sudah tertata rapi. Poster film ada di mana-mana. Untuk pertama kalinya aku diundang seorang aktris untuk menghadiri press conference film barunya yang akan tayang di bioskop. Padahal aku bukan orang penting.

Para wartawan mengangkat kamera mereka begitu para artis melintasi karpet merah. Riuh tepuk tangan cukup memekakkan telingaku. Tiba saat Airen datang, dia melambaikan tangan ke arah kamera. Dia mengenakan lipstick nude dan riasan tak terlalu mencolok. Menarik. Berbeda dengan artis muda lainnya yang gemar mengenakan riasan korean look. Airen punya aura yang berbeda. Aku menyukainya.

Aku duduk di bangku yang masih kosong. Mereka para pemain film memperkenalkan diri satu persatu. Ada beberapa bintang senior, ada pula bintang baru. Tapi menurutku wajah Airen paling menawan. Dia tidak mengikuti gaya siapapun di tengah para artis muda mengikuti korean style. Airen seperti barbie hidup. Dia cantik.

Namun ada hal yang membuatku sakit hati pada acara press conference ini. Tak satupun jurnalis bertanya pada Airen. Airen seperti pelengkap saja di sana. Tidak berbicara sedikitpun. Mereka juga tak memberi Airen kesempatan bicara selain sesi perkenalan diri. Semua fokus pada artis baru bernama Narsha. Aku ingat teman kantorku banyak yang menyukai Narsha. Dia memang cantik tapi aku tak berniat untuk daftar menjadi klub penggemar Narsha.

Airen menatapku dari kejauhan. Raut wajahnya penuh amarah. Aku memberi aba-aba agar Airen bisa mengendalikan emosinya. Aku takut Airen meledak, aku takut dia melakukan hal yang tak terduga di sini. Aku tak ingin hal itu terjadi.

***

Aku datang ke apartemen Airen, apartemennya tampak kacau. Pecahan beling di mana-mana. Aku berjalan hati-hati sambil menatap keadaan sekitar. Tiga puluh menit yang lalu Airen meneleponku, dia memintaku untuk datang. Kurasa Airen sedang tak stabil. Dia belum bisa mengontrol emosinya dengan baik.

Airen bersandar di pagar balkon sambil menghisap putung rokok. Hal yang ia lakukan saat stres adalah merokok. Kadang aku kasihan padanya. Merokok bukanlah pelepasan stres yang baik.

“Dok, sepertinya saya enggak punya harapan hidup lagi.” kata Airen sedih.

Dia menangis. “Semua orang tak menganggap saya penting.” katanya. Dia menghisap rokok itu dan asapnya melayang di udara. Seolah beban di pundaknya hilang bersamaan dengan asap rokok. Airen yang malang. Ucapan itu sangat menyakitkan bagiku. Dia putus asa.

“Nyonya jangan berkata begitu. Nyonya punya harapan. Harapan itu yang membuat Nyonya hidup.”

“Persetan dengan harapan!” Airen semakin menangis. “Semua orang pergi. Mantan suami saya selingkuh, ibu meninggal dunia, dan ayah pergi entah ke mana. Dia hanya datang saat butuh uang. Dan teman-teman saya menjauhi saya karena saya tidak jaya seperti dulu. Apakah itu yang Dokter sebut dengan harapan?”

Aku menepuk bahunya. Berusaha menenangkannya. Airen sering merasa kacau saat malam hari. Kadang aku takut dia melakukan hal yang di luar nalar. Aku takut dia mengakhiri hidupnya ketika ia sedang kalut. Aku juga takut dia mengonsumsi obat penenang terlalu banyak atau mungkin menggores pergelangan tangan dengan benda tajm seperti yang pernah ia lakukan sebelum bertemu denganku.

Aku memeluk Airen. Dia menangis. Tangisnya sangat menyakitkan. “Adakah orang yang mencintai saya, Dok?”

“Saya,” balasku. “Saya mencintai Nyonya Airen. Saya ingin Nyonya hidup bahagia.”

Airen melepas pelukannya. Dia menangis. Bulir air mata itu jatuh. Lihatlah pergelangan tangan Airen banyak sekali goresan. Aku mengambil bolpoin yang ada di saku. Aku meraih pergelangan tangannya. Hatiku sakit melihat Airen kacau begini.

“Jangan lakukan ini lagi, jika kau ingin melukai pergelangan tangan ini sama halnya kau menyakiti dirimu sendiri. Jika kau tidak mencintai diri sendiri. Bagaimana bisa kau mencintai orang lain? Jangan meminta dicintai sementara kau tak mencintai dirimu. Sekarang, jika kau sedih ingatlah kau masih punya cinta. Cinta yang berasal dari dirimu sendiri.” ujarku sambil menggambar love di pergelangan tangannya dengan bolpoin.

Airen mundur perlahan, “Dokter Jazza, anda tidak bisa melakukan ini. Carilah wanita yang baik, wanita yang bisa mencintai anda. Anda baik, anda punya karir yang bagus. Hiduplah dengan baik, Dok. Jangan mencintai wanita yang berantakan seperti saya.”

“Saya paham, mana mungkin seorang bintang seperti Nyonya bisa mencintai saya.” balasku. “Maafkan saya karena terlalu lancang mencintai Nyonya.”

Airen berteriak. Tangisnya pecah. Mungkin ini tangisan terakhir yang kudengar darinya. Ya, aku memang mencintai Airen tapi perasaan ini tak bisa diteruskan. Sekeras apapun aku berusaha Airen takkan pernah melirikku. Pasti dia menyukai lelaki yang lebih mapan dan lebih dewasa daripada aku. Kuharap Airen bisa memiliki kehidupan yang lebih baik. Begitu pun aku, semoga aku bisa bahagia dengan pilihanku di masa depan meskipun itu bukan Airen.

***

Mataku menangkap puluhan manusia berbaju hitam. Mereka datang berbondong-bondong sambil membawa karangan bunga. Tak hentinya kudengar tangisan dari orang-orang sekitar. Apakah ada hal yang lebih menyakitkan ketika mendengar orang yang kau cintai meninggal dunia karena overdosis obat penenang? Air mataku jatuh tak bisa dibendung, bahkan bernapas pun rasanya sulit. 

Rintik hujan tak menyurutkan niat orang-orang untuk hadir ke sesi pemakaman. Jika dia masih hidup pasti dia senang karena dia selalu bertanya, “kalau aku mati. Adakah orang yang akan datang?”

Tak terasa sudah enam tahun tak bertemu Airen dan kini kutahu keadaannya. Dia sudah pergi. Dia meninggalkanku. Dia meninggalkan semuanya. Aku menyesal karena tak menemani Airen di masa sulitnya, waktu itu aku pergi untuk melupakan perasaanku padanya. Ya, kini aku masih sendiri. Hidup sebatang kara di negara tetangga. Fokus bekerja sampai kadang merasa sangat kelelahan. Sekarang aku datang ke sini hanya untuk Airen. Meskipun Airen tak melihatnya.

Sekarang giliranku, aku meletakkan bunga gerbera di batu nisannya. Dia suka bunga gerbera daripada bunga mawar putih. “Selamat jalan, Nyonya Airen. Kuharap kau bahagia di kehidupan lain. Di sana tiada yang menyakitimu. Di sana kau tidak akan merasakan kesepian karena Tuhan senantiasa memelukmu.” batinku bersuara.

Komentar

Postingan Populer