Di Balik Lukisan Tembok Berlin
“Apa yang kau lukis?” tanya Max padaku. Matanya menatap lukisanku seolah mencari makna dari lukisan itu.
“Tembok Berlin." jawabku
pelan. Tanganku sibuk melukis di atas kanvas. Hari ini aku ada kelas melukis.
Percayalah, hanya aku murid yang paling tua usianya. Biasanya murid Max adalah
anak-anak sekolah.
Ya, katakanlah aku mencari kesibukan. Jadi sepulang kerja
aku tak langsung pulang melainkan ikut kelas melukis dengan Max. Max adalah
guru pelukis. Usianya tak jauh dariku.
“Kenapa harus Tembok Berlin?”
“Tembok Berlin mengingatkanku
tentang kebebasan setelah kesedihan. Adanya tembok itu membuat keluarga di sana
terpisah satu sama lain. Ada juga peristiwa penembakan saat orang-orang
melarikan diri dari tembok itu. Tapi setelah temboknya runtuh, orang-orang
merasa bebas. Mereka bisa bertemu lagi dengan teman, keluarga, dan sanak
saudara mereka. Ya, itu yang ingin aku sampaikan lewat lukisanku. Kebebasan
dari rasa sedih. Runtuhnya Tembok Berlin dikenal sebagai Hari Kebebasan
Sedunia.”
“Liz, Kau baik-baik saja?” Tanya Max. Max menatapku
hangat. Aku suka cara Max menatapku. Tatapannya memancarkan kepedulian yang
mendalam.
“Aku
hanya ingin bebas, Max. Bebas dari kesedihan yang ada di dalam diriku sejak
lama. Belajar melepaskan sesuatu yang
tak mungkin kugenggam.”
***
Aku melintasi jalanan kota. Menutupi kepalaku dengan
telapak tangan. Kulihat payung berwarna-warni menghiasi jalanan. Ya, hari ini
Hamburg diguyur hujan dan aku tak membawa payung. Aku
berjalan secepat mungkin agar tiba di salah satu restoran Jerman langgananku.
Setibanya di sana, aku langsung menghampiri pria berkemeja cokelat yang duduk di meja nomor 07. Aku langsung memeluknya, menyalurkan rasa rinduku padanya. Sudah dua minggu kami tak bertemu, sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
Pria itu menarik bangku, mempersilakan duduk. “Silakan
duduk, Nona Lizzy.”
candanya. Dia selalu melakukan
hal-hal yang membuatku senang berada di dekatnya.
“Danke [1], Josh. Sudah lama menunggu?”
“Nein [2],"
balas Josh. Sepertinya Josh sudah terbiasa dengan keterlambatanku. Dia selalu
datang lebih awal. “Kau kehujanan?” dia bertanya.
“Iya,
aku tidak bawa payung.”
“Astaga,
Liz. Selama apapun aku akan menunggu.
Kau bisa kesini bila hujannya reda.”
“Keine sorge [3], Josh.” balasku.
Waitress
datang menghampiri kami, dia memberikan kami menu. Aku dan Josh memesan menu yang sama yaitu maultaschen[4]
dan bienenstich[5]
sebagai hidangan penutup.
“Kau bilang ada yang ingin kau bicarakan?” tanyaku pada Josh. Josh
mengangguk, wajahnya seperti orang kebingungan. Ada apa dengannya?
Dia
kembali menatapku. Membelai rambutku dengan jemarinya. Ya, aku merindukan semua sikap Josh. Tak bisa kubayangkan
bila kami akan berpisah suatu hari, meskipun aku tahu tiap pertemuan pasti ada
perpisahan. Siap mencintai maka siap kehilangan. Konsekuensi yang harus
diterima.
Aku menyukai Josh sejak aku duduk di bangku SMA. Josh
yang duduk di bangku belakang. Bicaranya sedikit. Tak terlalu menonjol di
kelas. Tapi Josh, dia memiliki selera musik yang sama denganku. Obrolan kami
nyambung sehingga aku nyaman di dekatnya. Josh sederhana, aku menyukainya.
“Ja [6], aku harus pindah ke negara lain.”
“Wohin?[7]”
Josh mengangguk. Dia menunduk, mungkin tak ingin melihat
ekspresi sedihku.
“Madrid.
Aku harus pindah untuk urusan kerja.” balas Josh.
Kemudian dia mengenggam tanganku. "Kau setuju dengan LDR?"
“LDR?
Apakah kita benar-benar in relationship?" ucapku. Mendadak aku menjadi sedih. Sedih karena Josh tak pernah
menyatakan perasaannya. Selama ini kita bersikap seperti sepasang kekasih. Tapi
tak ada status yang jelas. Dan sekarang kami harus dipisahkan oleh jarak?
Apakah LDR benar-benar worth it untuk dijalani?
***
Hari ini hari minggu. Aku libur kerja. Kuputuskan untuk
pergi keluar rumah guna menghibur diri. Tinggal sendiri di Hamburg bukanlah hal
yang mudah, apalagi aku bukan penduduk asli ini. Aku harus mengurus semuanya
sendiri. Kadang aku merasa terlalu independen padahal aku butuh seseorang. Aku
butuh afeksi dan motivasi dari orang lain.Aku ingin hidupku sedikit lebih
berwarna.
Siang ini Hamburg sangat panas tapi tak mengurungkan
niatku untuk bepergian. Aku berhenti di salah satu pameran lukisan. Hari ini
ada pameran lukisan? Max tidak mengatakan apapun padaku. Biasanya dia sangat
informatif soal pameran. Biasanya kami pergi berdua untuk menikmati pameran
lukisan di Hamburg, Berlin, Leipzig atau bahkan kota lain di Jerman. Ah, ya,
aku lupa. Aku mengabaikan pesannya dan aku tidak hadir di kelasnya selama dua
minggu.
“Max?” Aku kaget melihat Max
berdiri di dekat pintu. Dia memakai jas rapi. Setelan itu sangat cocok
untuknya. Ya, kuakui dia cukup tampan.
“Oh, hei, Liz.” sapa Max. Ternyata dia adalah panitia dalam pameran lukisan ini. Aku bisa tahu karena dia mengenakan nametag.
Max mengajakku berkeliling, kami melihat lukisan-lukisan terbaik yang memanjakan mata. Aku tidak terlalu mengerti soal seni. Sesekali Max menerangkan dan aku mendengarkan setiap ucapannya. Aku menghargai setiap penjelasan Max. Max menjalankan tugasnya dengan baik.
“Bagaimana perasaanmu, Liz?” Max
bertanya, nada bicaranya penuh keraguan.
“Perasaanku? Kenapa aku bertanya
soal perasaanku? Kenapa tidak kabarku?” balasku sambil tersenyum. Kami berjalan
beriringan. Pindah dari satu tempat ke tempat lain.
Max menggaruk kepalanya bingung. “Ya, karena perasaanmu ada kaitannya dengan kabarmu. Jadi
aku ingin to the point saja. Sudah dua minggu aku tak bisa menghubungimu
dan kau tak ikut kelas melukis. Apa ada masalah? Aku khawatir, Liz.”
Aku membuka tasku. Dua minggu lalu aku mendapatkan
undangan, aku masih menyimpannya di tas. Aku memberikan Max undangan itu. Itu
bukan undangan pameran melainkan undangan pernikahan. Dahi Max berkerut,
mungkin dia bertanya apa maksudnya.
“Kau ingin aku datang ke
pernikahanmu?” Max bertanya. Dia melihat undangan itu.
Membolak-balik undangannya. Meyakini apa yang ia lihat. “Tapi, sepertinya bukan
kau yang menikah, Liz? Di sini tertera
Josh dan Katherine. Mereka sahabatmu?”
“Jika kau tanya perasaanku. Itu
jawabannya. Itu jawaban atas perasaanku yang lama kusimpan sendirian. Harapanku
sudah hilang, Max. Josh adalah orang yang kucintai tapi dia akan menikah dengan
orang lain. Tapi aku merasa bebas. Bebas seperti
runtuhnya Tembok Berlin yang membuat rakyat Jerman bersorak-sorai. Aku ingin menangis juga bersorak atas apa yang aku alami.”
Air mataku jatuh. Aku tak bisa menahannya. Max
langsung memelukku. Max tidak bertanya apapun lagi. Dia hanya mendengar isak
tangisku. Betapa bodohnya aku. Apa yang aku tangisi? Haruskah aku menangisi
Josh yang akan menikah dengan gadis di Madrid atau aku menangisi diriku yang
belajar melepaskan Josh?
Andai Max tahu, alasan aku datang ke kelas melukisnya
adalah untuk melupakan Josh. Ya, aku mencari kesibukan. Sibuk adalah satu cara
untuk move on. Aku kecewa tapi aku tak bisa berbuat apapun. Aku
mencintai orang yang salah. Pernikahan Josh adalah jawaban dari rasa gundahku
selama ini.
“Es tut mier Leid [8], sudah bertanya soal perasaanmu. Kau jadi sedih atas
pertanyaanku.” Max menyeka air mataku dengan jemarinya.
Aku menggeleng. Ini bukan salahnya. “Bukan, ini bukan salahmu.” balasku. Aku malu menangis di
hadapan Max. Aku benci ketika orang lain melihat kelemahanku.
Max terus menatapku. Bola matanya biru, sebiru langit di
Hamburg kala musim panas. Bola mata seperti Max jarang dimiliki oleh orang
lain. Bolehkah sekali ini aku bersandar padanya? Aku butuh seseorang untuk
menenangkanku.
Max menggengam tanganku. Dia membawaku ke tempat lain. Di
sana aku bisa melihat lukisan lain. Ada satu lukisan yang tak asing bagiku.
Lukisan tentang bangunan besar, ada helikopter di atasnya. Helikopter itu
menurunkan makanan tapi hanya untuk orang-orang yang ada di sisi kanan
sedangkan mereka yang ada di sisi kiri menangis kelaparan bahkan berusaha untuk
meruntuhkan tembok.
“Max, itu lukisanku?" tanyaku
sambil menyeka air mata. Aku memandangi lukisanku. Lukisan Tembok Berlin yang
pernah kubuat.
“Ya, aku mendaftarkan lukisanmu di
pameran ini. Maaf, tak sempat mengabari. Aku ingin orang lain menikmati
kebebasan yang sama denganmu dan aku ingin mereka belajar mengikhlaskan masa
lalu. Bukankah kau bilang bahwa peristiwa Tembok Berlin mengajarkan kita untuk
melepaskan? Melepaskan sesuatu yang sudah menjadi bagian dari masa lalu karena
Tembok Berlin adalah bagian sejarah rakyat Jerman yang tak bisa diubah.”
“Masa lalu atau sejarah itu takkan bisa berubah Liz, sekeras apapun kita mencobanya. Sama halnya saat kau memutuskan untuk membenci Josh, itu tidak akan membuat masa lalumu dengannya berubah. Tapi kau bisa menjadi orang yang lebih baik dan lebih bahagia di masa depan” ujar Max panjang lebar. Genggaman tangannya semakin erat.
Mulai sekarang aku akan belajar melepaskan sesuatu yang tidak baik untukku. Aku ingin jiwaku bebas dan bahagia. Aku tidak bisa terbelenggu pada masa lalu karena itu bisa menghambat langkahku. Untuk Max, aku sangat berterima kasih karena selalu menjadi rumah untukku bersandar.
“Du bedeutest mir so viel[9], Liz”
Komentar
Posting Komentar