Kebahagiaan Untuk Raisa

     “Aku tuh capek, Di. Capek!” keluh Risa pada lelaki yang ada di hadapannya. Lelaki itu diam seribu bahasa. Raisa benar-benar lelah dengan sikap lelaki itu yang tidak peka. Entah kapan lelaki itu bisa peka pada kesalahannya. Lelaki itu selalu mengulangi kesalahannya.

”Sekarang kamu diem kan? Gamau minta maaf? Kamu lho yang salah! Aku bicara sama kamu bukan sebagai Raisa tapi sebagai rekan kerja kamu. Aku tuh capek, Di. Aku beneran capek sama semuanya!”

Adi, lelaki itu diam seribu bahasa. Tidak tahu harus memulainya darimana. Adi sadar dia sering melakukan kesalahan pada Raisa. Raisa selalu memaafkannya, namun Adi selalu mengulanginya lagi. Raisa benar-benar marah, meskipun saat marah tak pernah keluar bentakan atau umpatan tapi Adi yakin seribu persen kalau gadis itu kecewa padanya.

"Percuma ngomong sama kamu. Sama aja kayak ngomong sama batu!"

Raisa merapikan barang-barangnya, ia memasukkan barang-barangnya ke dalam tas. Dia harus pergi dari tempat ini. Dia tak bisa membiarkan dirinya berada di situasi yang membuatnya tak nyaman. Tanpa mengucapkan pamit, Raisa pergi meninggalkan Adi yang masih duduk di bangku kafetaria.

Raisa membuka pintu kaca, dia berjalan tanpa menoleh ke arah Adi yang masih duduk di sana dengan perasaan bersalahnya. Adi masih terdiam di sana. Memikirkan bagaimana hubungannya dengan Raisa. Raisa adalah atasannya. Raisa juga teman yang baik baginya. Raisa selalu membantu Adi dalam pekerjaan. Adi sadar memang dia tidak tahu diri, dia selalu membuat Raisa kecewa padanya.

***

Esoknya Raisa masuk ke kantor seperti biasa. Dia menjalani kehidupan kantor seperti biasa meskipun ada kecewa saat berpapasan dengan Adi. Mereka tak saling menyapa seperti biasanya. Adi menatap Raisa dengan penuh rasa bersalah. Bibirnya kelu untuk minta maaf. Pikirnya Raisa sudah lelah menghadapinya. Raisa tak mau bicara padanya lagi. Mungkin itu adalah hal yang tepat bagi Raisa karena dengan begitu Raisa tak merasa tersakiti.

Raisa mengerjakan pekerjaannya seperti biasa, meskipun dadanya sesak. Adi sudah gila! Lelaki itu benar-benar tak menghubunginya. Minimal minta maaf atau bertanya sesuatu padanya.

Masih terekam jelas di benak Raisa, saat Adi melakukan kesalahan pada pekerjaannya dan di situ Raisa membela Adi di depan seniornya agar Adi tetap aman di kantor. Hari itu adalah hari yang sangat membuat mental Raisa lelah. Seniornya marah besar karena Adi mengerjakan project-nya telat, lantaran dia lupa sehingga client marah besar.

Raisa yang sedang mengerjakan sesuatu di laptop pun langsung menarik napas panjang, mengingat dirinya rela membela Adi. Tapi bagaimana balasan Adi? Maaf dan terima kasih pun tak ada. Hal itu membuat Raisa marah seolah pembelaan yang Raisa lakukan tak dihargai.

Mata Raisa mulai berkaca-kaca. Hari ini dia tidak ingin menangis. Dia ingin menjalani kehidupan normal hari ini tanpa emosi negatif.

    ”Are you okay?” tanya seorang rekan bernama Fero yang menghampiri meja kerja Raisa. Dia sudah mengetuk pintu ruangan Raisa namun tak dijawab oleh Raisa.

    ”Ya, I’m totally fine.” jawab Raisa sambil menyeka air matanya yang mulai berjatuhan mengenai pipi. Dia tak bisa menahannya. Raisa sedih, marah, dan kecewa. Semua perasaan kini menjadi satu. Sesakit dan sekecewa itu.

Fero meletakkan minuman yang ia bawa di meja Raisa. Dia berjongkok di depan Raisa. Menyaksikan gadis itu menangis di hadapannya. Fero yang peka memberikan gadis itu tisu. Fero tidak tahu apa penyebab Raisa menangis. Pertama kalinya melihat Raisa sesedih itu.

        Fero tak berkomentar apapun, ia hanya memperhatikan Raisa. Mendengarkan suara tangis Raisa. Dia sama sekali tak keberatan menemani gadis itu menangis. Raisa menyeka air matanya lagi dan lagi. Wajahnya menunduk. Tak berani menatap Fero. Dia malu, ini adalah titik terlemahnya. Raisa sebetulnya tak suka menangis di depan orang lain tapi pertahanannya runtuh mengingat sikap Adi yang membuatnya sakit hati.

”I’m not fine, Fer.” kata Raisa, dia sesegukan. ”Gue selalu peduli dia, tapi balasan dia apa? Ga ada! Dia selalu ingkar janji! Dia gak bilang makasih atau maaf ketika gue ngebela dia di depan Pak Heru. Gak sekali atau dua kali.”

Fero mengangguk, dia paham perasaan Raisa. Dia juga paham orang yang Raisa maksud.

”Apa gue terlalu baik jadi orang sehingga orang gatau terima kasih dan menganggap kebaikan gue ini hal yang biasa?”

Fero bangkit, dia memegang bahu Raisa seolah menguatkan. Tak ada yang bisa dia lakukan selain menemani dan mendengarkan. Wanita yang sedih hanya butuh didengarkan bukan dikomentari. Ada perasaan sedih yang menjalar di dada Fero mengetahui rekan kerjanya diperlakukan tidak baik. Bagi Fero, Raisa memang labil, cerewet, dan sensitif tapi dia memiliki hati yang tulus dan lembut. Fero tahu itu karena Raisa adalah rekan kerja pertamanya, mereka juga sering melakukan banyak hal bersama.

”Do you love him?” kata-kata itu keluar dari mulut Fero. Ya, akhirnya lelaki itu mengatakan secara to the point.

Raisa menggeleng, dia tidak tahu dengan perasaannya sendiri. Perasaan apa ini? Raisa sangat peduli pada Adi bahkan saat mengalami kesulitan, Raisa siap pasang badan. Raisa selalu melakukan yang terbaik. Namun kebaikan itu tak ada artinya bagi Adi. Raisa selalu menganggap Adi penting tapi Adi? Apakah Adi pernah berpikir demikian? 

”Gue gatau.” balas Raisa, kali ini dia mendongak. Menatap mata Fero. Dia memberanikan diri meskipun keadaannya sedang tak stabil hari ini.

”Nanti pulang gue anter ya,”

No, gue bawa kendaraan.”

“Bisa dititip di kantor kok. OB jaga selama 24 jam, Sa.”

”Tapi besok ke kantor gimana?”

Fero menyeka air mata itu. ”Gue jemput, tiap hari kalo lo mau. Yaudah diminum matcha latte-nya. Nangis tuh banyak ngeluarin energi tau. Udah bisa ditinggal?”

Raisa mengangguk. Fero benar menangis memang mengeluarkan banyak energi. Raisa merasa rugi karena energinya habis karena seseorang yang tak pernah menghargai dirinya juga kebaikannya. Menyebalkan! Berharap dirinya bisa lekas membaik. Ah, ada matcha latte! Itu minuman favoritnya. Fero memang paling paham tentangnya.

            “Fer,” panggil Raisa canggung.

            Yes I am. Ada apa?”

            “Can I do something?”

            “Lo mau apa?”

            Tanpa basa-basi Raisa langsung memeluk Fero. Wangi Fero yang khas menyeruak ke hidung Raisa. Wangi yang ia sukai. Wangi itu tak pernah berubah sejak pertama mereka menjadi pelamar di kantor ini. Sama halnya seperti sikap Fero yang konsisten, dia selalu baik. Fero tak pernah membuat Raisa bingung akan kebaikannya. Fero menerima pelukan itu. Pelukan seorang sahabat. Jujur baru kali ini dia dipeluk oleh seorang perempuan selain ibu dan adik perempuannya.

”Lain kali kalau ada apa-apa cerita, ya. Jangan diem aja.” kata Fero.

            ”Iya,”

***

Enam bulan kemudian.

            ”Sa, tunggu!” ucap seseorang, suara yang tak asing bagi Raisa. Orang itu menatap Raisa dengan penuh rasa bersalah. Raisa mundur perlahan. Dia menunduk tak ingin menatap wajah itu lagi. Entahlah, Raisa hanya ingin menghindarinya karena orang itu membuatnya tak nyaman.

            Sekarang mereka bertemu bukan di kantor, melainkan di kafetaria yang baru saja opening. Raisa ingin mencoba matcha latte yang katanya enak.

            Sorry, soal kejadian waktu itu, ya.”

            Raisa tersenyum seadanya. “Gapapa kok.”

            “Ehm, aku juga mau bahas soal hubungan kita. Hubungan yang mungkin bikin kamu bingung karena aku selalu kasih mix signal. Aku ingin memperjelas semuanya. Sebenarnya aku suka sama kamu. Tapi aku bingung karena kamu atasanku di kantor. Kamu adalah seniorku, aku takut orang lain beranggapan bahwa aku ngedeketin kamu hanya untuk urusan kerja. Jujur aku gak ada maksud seperti itu. Memang aku senang dan menghargai ketika kamu handle pekerjaanku. Ketika kamu membela aku di depan Pak Heru. Aku makasih banget.”

            ”Terus kesimpulannya?” tegas Raisa.

            I like you, bukan sebagai kamu atasanku tapi as human being. Aku mau kamu jadi orang yang berharga buatku.” tutur Adi.

            Raisa diam. Terlambat, semuanya sudah terlambat. Raisa melirik jari manisnya yang sudah dihiasi oleh cincin permata. Cincin itu pemberian dari seseorang yang saat ini berharga buatnya. Sejujurnya Raisa menghargai keberanian Adi.

            Sorry, Di.”

            “Kenapa?”

            “Sayang,” teriak seseorang memanggil Raisa. Lelaki itu menghampiri Raisa. “Aku cari kamu kemana-mana, ternyata kamu di sini.”

            Deg, jantung Adi berdebar kencang. Sayang? Adi tak menyangka bahwa teman kantor yang beda divisi itu adalah kekasih Raisa. Adi melihat cincin di jari manis Raisa, kemudian matanya tertuju pada cincin di jari manis lelaki itu. Adi tahu jawabannya sekarang. Raisa tak perlu menjelaskan apapun padanya.

            ”Eh, Adi. Ada lo di sini? Makasih ya udah temenin Raisa. Ke sini sama siapa, Di?” tanya Fero ramah. Fero menggenggam tangan Raisa erat. Dia tak ingin menyembunyikan pada Adi bahwa gadis yang ada di sampingnya adalah kekasinya. Sebentar lagi mereka akan melangsungkan pernikahan.

            ”Sendiri aja Mas. By the way, selamat atas pertunangannya Mas. Gue harap kalian bahagia selalu, ya. Makasih selama ini udah jaga Raisa.”

            ”Oh, Raisa udah cerita kalau kami tunangan?”

            Adi mengangguk padahal Raisa belum cerita. Adi tak ingin tahu lebih dalam. Baginya mengetahui Raisa sudah bertunangan sudah membuat luka di hatinya. Dia tak ingin menambah luka yang baru. Apakah ini karma baginya? Karena dulu Adi yang pergi meninggalkan Raisa dengan penuh kebingungan. Adi terlalu pengecut untuk mengatakan kesalahan dan rasa yang ia miliki.

            ”Makasih do’anya, ya, Di. Oh, iya, soal pertunangan kami bisa di keep silent aja kan? Rencananya kami emang bakal terang-terangan kalau sebar undangan. Pertunangan kami juga kemaren private. Cuma acara keluarga aja.”

            ”Siap, Mas.” Adi hormat ala komandan. Suaranya bergetar. Sakit sekali. Dia menatap wajah Raisa yang serba salah.

            Fero memeluk bahu Raisa. “Kami duluan ya, Di.”

            ”Iya, kami duluan ya, Di.” ucap Raisa sungkan. Namun tak bisa dipungkiri, mata Raisa penuh rasa bahagia karena ada seseorang yang sangat berharga buatnya. Calon imam yang akan menjadi pemimpin di keluarga kecilnya nanti.

            Mereka berjalan meninggalkan Adi. Adi menatap nanar dua sejoli itu. Hatinya sakit tak tergambarkan. Hatinya hancur porak poranda. Andai saat itu ia berani menjelaskan pasti kejadiannya tidak akan seperti ini. Sekarang yang tersisa hanyalah penyesalan. Ternyata kehadiran seseorang sangatlah berarti ketika dia sudah tak bersama kita lagi.

***

Komentar

Postingan Populer