Saya Pantas Mendapatkan Hal Baik

“Kapan-kapan kita makan di warteg yuk!” kata seseorang melalui chat. Membaca chat itu rasanya saya agak sedih. Kenapa saya sedih? Karena saya tidak pernah janjian dengan orang lain ke warteg, betul-betul ke warteg hanya untuk makan di tempat. Bukan karena ‘sok kaya’ tapi rasanya ada sesuatu di dalam diri saya yang menolak akan hal itu.

Di kantor saya terbiasa makan warteg dan saya beberapa kali menyuruh OB untuk membelikan saya sebungkus nasi warteg yang isinya ayam serundeng, tumis, dan menu protein lainnya. Tidak ada yang salah dengan warteg karena warteg menyediakan makanan sehat dan bergizi. Hal yang jadi permasalahan adalah ajakan seorang pria yang mengajak saya makan di warteg, direncanakan pula. Saya paham warteg itu bersih, bahkan banyak warteg yang memiliki kursi dan meja sendiri layaknya tempat nongkrong. Namun ada keraguan di dalam diri saya untuk mengenal lebih jauh orang tersebut. Apakah saya tak layak diajak makan ke tempat yang lebih baik? Sementara saya investasi ke diri saya sendiri untuk makan makanan enak. Dari sekian banyak tempat makan, kenapa harus warteg? Saya sanggup membayar bills saya jika itu memberatkannya atau bahkan saya bisa membayar semua bills-nya. It’s okay makan di warteg kalau dalam konteks tak ada pilihan lain (saat bepergian) karena itu tempat makan terdekat, tapi bila direncanakan seperti itu? Apakah itu cara menguji saya agar mau menerima seseorang apa adanya? Jawabannya saya tidak bisa. Saya menetapkan standar yang tinggi pada diri saya dan saya tidak akan menurunkannya.

Saya paham esensi makan adalah kenyang, tapi ada hal yang harus diperhatikan. Kalau kamu ingin menarik perhatian seorang wanita yang dia adalah pemimpin di suatu kantor pantaskah kamu mengajaknya makan di warteg untuk bertemu? Bahkan tak pernah terpikirkan oleh saya pergi ke warteg untuk meet up bersama teman-teman lama saya karena saya menghargai waktu dan usaha mereka bertemu dengan saya. Ada tempat makan yang seporsi seharga 50.000-100.000 kok, jika hal itu sangat memberatkan, bukankah lebih baik fokus bekerja dan menata keuangan dengan baik? Bukankah lebih baik fokus pada kebahagiaan diri sendiri? Saya tidak ingin menjadi beban untuk orang lain dan saya juga tak ingin punya beban pikiran untuk membersamai pria yang sedang berjuang. Terasa sangat egois ketika kamu belum matang secara finansial namun berusaha mendekati perempuan. Saya bukan matrealis tapi realistis. 

Ini bukan soal ‘sok’ tapi tentang bagaimana cara seorang memperlakukan orang lain. Dari pengalaman ini, saya belajar bahwa saya amat sangat pantas dan layak pergi ke tempat makan yang menurut saya pantas untuk dating karena saya memperlakukan diri saya dengan amat baik. Saya mampu membayar seporsi sushi, ramen, dan makanan unik lainnya. Kenapa saya harus membiarkan hal yang bare minimum masuk begitu saja? Memang benar harus bersama dengan yang setara atau mungkin pria yang lebih tinggi agar saling menghargai. Agar hal yang saya katakan tak menyakiti atau memberatkan. 

Komentar

Postingan Populer