Dark Feminine Energy
Hai, apa kabar? Udah lama banget ya, aku enggak nulis di blog-ku yang satu ini. Tentunya ada banyak banget cerita yang ingin aku bagikan di blog ini. Semoga apa yang aku ceritakan nanti bisa menambah pandangan baru buat kalian.
Oke, aku mengawali
cerita ini dari ceritaku sendiri yang di mana saat ini aku memang lagi dekat
dengan seorang pria, kita sudah pernah bertemu sebelumnya tapi bukan dalam hal dating.
Kami bertemu karena dia merupakan sales yang menawarkan jasa ke tempat aku
bekerja. Awalnya sih,
semua berjalan dengan baik dan enggak ada sesuatu yang salah. Ya, aku juga
menganggapnya dia adalah seorang teman yang baik karena enggak mudah bagiku
untuk dekat dengan seseorang. Kedekatanku dengannya tidak kuanggap sebagai finish, di mana aku
akan memutuskan bersama dia karena dalam hidup ini. Big no! Aku mengambil banyak pertimbangan
untuk dekat dengan laki-laki. Jadi, dalam urusan PDKT ini aku sangat selektif
agar aku bisa berpikir logis.
Sudah seminggu aku dekat dengan pria
ini. Sejujurnya ada hal yang buatku sedikit tak nyaman. Pertama, dia sering
mengajakku untuk video call dan meminta pap. Aku sendiri sangat tidak berkenan
dimintai pap oleh seseorang yang bukan pacarku karena aku punya batasan diri. Aku
tidak bisa memberikan perilaku layaknya pacar kepada seorang laki-laki yang
baru kukenal. Ditambah dia juga beberapa kali minta video call, hal ini cukup
membuat aku risih karena aku tidak suka video call. Aku lebih suka call, itupun
terbatas. Mungkin orang lain menganggap pemikiranku ini terlalu kaku, mungkin
saja orang lain menganggap aku sebagai perempuan yang aneh. Namun hal yang aku
yakini, itu adalah prinsip aku agar aku tetap pada batasan diriku.
Tidak cuma itu saja, dia juga pernah bercanda tentang minta masakin dan minta belikan sesuatu. Aku tahu mungkin niatnya hanya bercanda namun pria gentleman tidak harusnya mengatakan seperti itu. Itu menimbulkan pandangan yang lain tentangnya dalam pikiranku. Rasanya aku ingin menghentikan semuanya. Apalagi dia sering bercanda tentang nikah dan mahar. Duh, aku sangat bingung untuk menanggapinya. Apakah lucu bercanda begitu?
Dia pernah bilang, ”aku nitip dong air, beliin air kan aku udah jemput kamu”, katanya begitu tahu kalau aku akan menunggunya di Indomaret Point Stasiun Manggarai di saat pertemuan kita nanti. Bukan masalah harga air yang tak seberapa, tapi sikapnya.
Apakah ini pertanda bahwa aku harus dekat dengan lelaki yang mapan dengan masculine energy yang tinggi? Kurasa begitu.
Tanpa bermaksud merendahkan orang
lain, aku hanya tidak suka sikapnya yang mungkin tak bisa aku toleransi. Aku tidak
ingin terlalu memberi toleransi kepada orang lain. Seorang gentleman tidak akan mengucapkan kata minta dibeliin, dimasakin, dan lainnya meskipun itu konteksnya bercanda.
Seorang gentleman akan membuat wanitanya repot, meratukan wanitanya layaknya
seorang ratu yang harus diperlakukan dengan baik. Para pria, kalian juga harus
ingat bahwa wanita itu kalau diminta sesuatu, dia akan ilfeel tapi jika wanita
itu mau dengan kesadarannya sendiri maka ia akan memberikan sesuatu bahkan bisa
lebih dari itu.
Jadi kesimpulannya, tidak semua wanita nyaman melakukan sesuatu yang baginya tak harus dilakukan untuk seorang lelaki seperti rajin pap atau video call, termasuk aku. Aku bukanlah orang yang mudah memberikan kemudahan untuk pria mendekatiku, aku tidak akan memberikan akses layaknya pacar atau istri kepada orang yang baru kukenal, dan aku memang memunculkan sisi gelap aku yang mungkin beberapa pria tidak akan setuju. Aku sebut itu batasan diriku. Aku tidak akan menyerahkan diriku kepada pria dengan mudahnya karena aku tahu betapa bernilainya diriku. Aku sudah berjuang untuk menjadi aku yang sekarang dan aku tidak akan menyia-menyiakan hidupku untuk pria yang tak menghargai batasan dalam hidupku.
Komentar
Posting Komentar