Fiksi : Kejutan di Stasiun Manggarai (Cerita Pendek)
Aku melihatmu berjalan
memasuki stasiun terbesar di kota ini. Kamu berjalan dengan langkah yang
terburu-buru lalu masuk ke dalam gerbong dan bersandar pada dinding
kereta.
Hari ini ada kelas pagi,
ya? Tanyaku dalam hati tanpa berani bertanya langsung padamu. Kamu yang
bersandar pada dinding kereta sambil memejamkan mata. Saat itu juga, aku bisa
melihat kantung matamu yang membesar. Apakah semalam kamu bergadang hanya untuk
mengerjakan tugas? Kalau iya, aku pun sama. Hari ini ada presentasi dadakan,
harusnya minggu depan kelompokku maju presentasi tapi semalam dosen mengabari
kalau kelompokku harus presentasi hari ini. Sialnya, aku mengerjakan tugas itu
sendirian (lagi).
Aish, rasanya ingin
kulontarkan jutaan umpatan kepada temanku yang slow respon saat ditanyai
soal tugas tapi sangat cepat tanggap ketika ditanyai nomor induk mahasiswa. Mereka sama sekali
tidak mengerjakan tugas dadakan ini, baik makalah ataupun power point-nya.
Giliran waktu presentasi pasti mereka maju paling depan. Berasa mereka yang paling
mengerjakan saja padahal cuma numpang nama di makalah. Heran saja dengan spesies
manusia picik kayak gitu. Sudah menyebalkan hidup lagi!
Ah, sudahlah pagi ini
kucoba untuk tetap berpikir positif walaupun amarahku berkecamuk.
Kereta yang sesak ini
membawa penumpang menuju tujuannya. Hari ini aku tidak turun di stasiun
biasanya melainkan turun di Stasiun Manggarai. Hal itu aku lakukan agar aku
bisa melihatmu lebih lama. Bahkan aku melewatkan dua stasiun. Yah, walaupun aku
tahu nanti akan berpisah karena kamu harus melanjutkan perjalanan dengan
transit ke Stasiun Cikini.
Decitan kereta begitu
membuatku takut. Orang-orang di dekatku hilang keseimbangan. Aku yang berdiri
di dekatmu tak sengaja memegang tasmu sebagai pegangan. Kemudian aku melepaskan
peganganku begitu kamu menoleh ke arahku.
"Pegangan aja, Mbak.
Gapapa." Katamu sopan.
Aku menggeleng cepat,
"sorry ya, Mas."
"Gapapa, Mbak.
Daripada jatuh." Katamu santai. Iya, kamu santai tapi hatiku nggak akan
bisa santai begitu.
Aku merapikan anak rambutku.
Merapikan kemejaku yang terlihat kusut akibat himpitan orang-orang sekitar.
Dalam suasana seperti ini, aku bisa tersenyum lega di balik maskerku, itu
terjadi saat kamu berbicara denganku walau hanya sepatah dua patah kata. Tapi,
tak apa, aku senang mendengar suaramu. Aku menghargai momen sederhana ini,
momen yang mungkin takkan terulang lagi.
Kereta pun tiba di Stasiun
Manggarai. Entah berapa ratus orang yang turun dari gerbong kereta. Aku
mengikuti langkahmu. Kamu tidak langsung transit. Aku melihatmu berbelok ke
arah mini market dan aku melakukan hal yang sama denganmu. Ya, sebenarnya aku ingin
membeli sebotol air mineral dingin juga. Sama sepertimu.
"Turun di Manggarai
juga, Mbak?" Tanyamu ketika aku membuka pintu lemari pendingin itu.
"I... Iya, Mas."
Kataku.
Aku keluar mini market
lebih dulu. Aku masih punya banyak waktu karena hari ini ada kelas jam 9
sedangkan sekarang masih jam 7. Jadi aku bisa duduk sambil menikmati roti
berselai kacang dan sebotol air mineral dingin guna menghilangkan stres karena
tadi berdesakkan di dalam kereta.
"Tristan." Katamu
yang tiba-tiba datang di hadapanku sambil menyodorkan tangan. Aku tahu kok
namamu adalah Tristan. Kamu kan teman sekelasku waktu SMA. Aku nggak mungkin
lupa, Tristan!
"Gue tau nama lo kok,
Tan." Kataku melepas masker yang kukenakan.
Kamu memicingkan mata.
Mencoba mengingat sesuatu. "Hah? Masa iya? Tapi muka lu familiar sih, gue
sering lihat lu di KRL. Tapi gak berani nyapa takut salah orang."
"Gue Nasya. Inget
gak?"
"Tuh kan dugaan gue
bener, gue udah mengira elu tuh Nasya, temen SMA gue. Pengen banget gue nyapa
lu tapi takut salah orang, Sya."
"Ngga, lo gak salah
orang kok."
"Tapi, Sya, kayaknya
ada yang beda dari lu deh. Kayak bukan Nasya waktu SMA. Nasya yang sekarang
jago make-up. Udah persis korean idol aja lu.
Hebat!"
"Ya, beda lah, Tan.
Masa iya orang mau gitu-gitu aja."
Kamu menggaruk kepalamu,
"iya juga, ya. Anyway, lu mau berangkat gawe atau
kuliah, Sya?"
"Kuliah, lo
sendiri?" Tanyaku pura-pura tidak tahu padahal aku tahu kalau kampusmu
berada di daerah Salemba. Aku juga tahu program studi apa yang kamu ambil.
"Sama. Ngampus di mana
lu? Kampus gue di daerah Salemba."
"Pokoknya di daerah
Rawamangun deh."
Kamu mengangguk, "oh
I see, kampus keguruan itu, bukan?" Tebakmu dan seratus persen
jawabanmu benar.
Kali ini aku yang
mengangguk. "Iya, ngomong-ngomong lo gak berangkat ke kampus? Ini udah jam
tujuh lewat sepuluh lho."
Kamu menggeleng lalu duduk
di sampingku. Membuka tutup air mineral dan meneguknya.
"Nyantai, hari ini
cuma ngumpulin tugas doang sama absen. Absennya dibawa PJ juga, ditunggu sampe
jam 10 kok. Lu sendiri?"
"Oh, gitu. Gue masuk
jam 9. Tapi ya, pengen aja berangkat lebih pagi."
"Eh, kampus lu
bukannya lebih dekat kalo turun di Stasiun Klender?" Tanyamu.
Aku terdiam sejenak.
Menarik nafas. Duh, masa mau ngaku kalau sebenarnya aku ingin melihatnmu lebih
lama? Yah, ketahuan dong kalau aku ini stalker?
"Ya, emang sih. Tapi
gue lagi pengen aja ke sini. Lagian naik Transjakarta kan bisa." Kataku
alibi. Padahal lebih jauh kalau turun di Stasiun Manggarai. Kalau turun di
Stasiun Klender kan cukup naik ojek online saja. Benar-benar
definisi stalker yang sesungguhnya.
Kamu membulatkan mulutmu
seolah berkata, "oh". Kemudian, kamu kembali meneguk air mineralmu
hingga menyisakan setengah botol.
"Gimana kehidupan
kampus lu? Anak BEM, ya, lu?" Tanyamu berlagak sok tahu. Tapi, aku
menyukainya karena sudah lama aku tidak berbincang dengamu lagi setelah lulus
dari SMA. Apalagi aku termasuk anak yang pendiam tidak seagresif mantanmu di
sekolah.
"Tau darimana lo?
Berasa cenayang aja berlagak paling tau!"
"Yaelah, anak kayak lu
mah ketebak, pasti lu bukan tipe mahasiswa yang kupu-kupu alias
kuliah-pulang, kuliah-pulang."
Aku tersenyum kecut, "iya,
gue ikut BEM tapi cuma sampe periode ini aja, gak mau naik sampe BEM
Fakultas."
Kamu menatapku tajam,
"kenapa?"
"Ya karena tujuan
kuliah gue yang paling utama kan menuntut ilmu. Gue takut gak bisa fokus sama
kuliah kalau terlalu banyak ikut kegiatan kampus. Apalagi kesehatan gue kurang
stabil lantaran ngurangin porsi makan."
Kamu menepuk bahuku,
"oh jadi ini alasan lu lebih langsing dari SMA?" Kamu tertawa kecil.
"Padahal mah gak usah terlalu diet-diet banget karena, ya, semua perempuan
cantik nggak harus dari fisik."
Aku menatap binar matanya.
Kata-kata yang diucapkannya begitu tulus. Persis apa yang dibilang Ibu. Ibu
bilang semua perempuan cantik dan yang paling penting adalah hati yang
cantik.
Kali ini kamu memegang
kedua bahuku. Seolah memberi kekuatan, "menurut gue lu udah cantik kok.
Dari dulu lu udah cantik. Hati lu baik. Cuma kadang orang suka memanfaatkan
kebaikan lu dan lu harus berhati-hati sama orang seperti itu."
Deg, serius kamu ngomong kayak gitu? Aku jadi terkesima. Ya, kamu
benar semua perempuan cantik nggak harus selalu dari fisik tapi dari hati.
Mungkin aku terlalu takut berat badanku naik karena pernah merasakan overweight.
"Lo bener, mungkin
selama ini gue salah menilai kecantikan di mana standarnya harus langsing dan
pinter make-up."
"Semua kembali ke diri
sendiri. Kalau lu ingin cantik untuk diri sendiri, ya, itu bagus. Tandanya lu apresiasi
sama diri sendiri dan itu kan bagian dari self-love. Tapi, kalau lu
cantik buat menuhin standar orang lain dan buat dipuji orang, ya, lu salah
besar, Sya." Kamu menasehati.
"Kalo lu punya waktu,
kita bisa nggak ketemu lagi?" Tanyamu.
Kamu tau nggak? Detik itu
juga dadaku rasanya mau meledak!
Aku mengangguk pelan,
"boleh, Tan. Weekend aja kalo mau ketemu."
"Ketemuan di Stasiun
Bekasi, ya. Mau nggak? Hunting ke Kebun Raya kayaknya seru
sambil foto-foto kebon pake kamera analog." Saranmu dan aku setuju tanpa
berpikir panjang lagi.
Haha, fotoin kebon? Aku tertawa.
"Main kamera analog
juga lo?"
Kamu mengangguk. "Iya
belom lama sih, emangnya lu juga suka main kamera analog?"
"Iya, tapi gue cuma
punya toycam." Aku terkekeh.
"Ah, gila kebetulan
macam apa ini? Oke deh, weekend, ya. Hari minggu, don't
miss it!" Katamu mengingatkan.
Aku mengacungkan jempol.
Oh, God. Seriusan nih weekend ini aku jalan
sama dia? Hal yang enggak pernah terpikirkan olehku sebelumnya. Aku pikir aku
akan terus menjadi stalker-nya. Berarti ada kemajuan dong?
Kamu membuka ranselmu,
mengambil notes kecil. Menuliskan sesuatu di sana. Kemudian
kamu merobek lembaran notes itu dan memberikannya padaku.
"Nih nomor gue.
Kabarin gue aja kalo Minggu udah sampe stasiun." Ucapmu demikian.
"Atau kalau nggak gue jemput lu aja kali ya di rumah lu?"
"Jangan deh, lo gatau
rumah gue."
"Nah, justru itu biar
tau. Sendloc aja ya, Sya, nanti gue jemput."
"Eh seriusan?"
"Iye, serius. Ngapain
bohong sih, Sya?"
"Oke, deh."
Aku melihat jam di
ponselku. Sepertinya aku harus mengakhiri obrolan ini. Walau sebetulnya aku
ingin mengobrol lebih lama. Sumpah, aku tak menyangka saat kamu memberikan
nomor ponselmu padaku. Ini kayak mimpi!
"Gue duluan, ya,
Tan. See ya. Yang rajin kuliahnya!" Kataku melambaikan tangan
padanya.
Kamu tersenyum padaku.
Membalas lambaian tanganku dengan senyuman hangat. Ya, senyuman yang sangat
kusukai. Senyuman yang mungkin akan terus terbayang di otakku hingga perjalanan
menuju kampus. Kamu manis melebihi bolu karamel, makanan favoritku. Kamu juga
lebih manis dari camilan bernama rambut nenek yang sering kubeli di
kampus.
"Daaah, makan yang
cukup, Sya. Jangan diet berlebihan!" Serumu membuat orang-orang di
sekitarmu menatapku dan kamu.
Aish, dasar Tristan malu-maluin aja. Tapi gapapa deh, untung sayang!

Komentar
Posting Komentar