Realize
Perjalanan panjang untuk mengerti makna dari jurnaling. Dulu aku terlalu fokus dengan afirmasi dan aku menulis hal-hal baik saja di jurnalku, setelah aku belajar lebih banyak lagi ternyata ini nggak sehat untuk jiwaku. Seolah aku dipaksa untuk selalu positif padahal dalam hidup ada hal baik dan buruk. Melelahkan ketika kita ingin pulang, ingin curhat dengan apa adanya tapi kita "dipaksa" nulis hal baik?
Akhirnya aku menemukan jurnal versiku, memang terkesan random. Kadang aku membuatnya menjadi junk journal, kadang aku menulis apa yang aku rasakan tanpa memikirkan apapun karena aku paling malas marah. Jadi ya, aku jurnaling. Setelah itu, aku menyadari kenapa aku harus mengikuti coach itu untuk selalu berpikir positif? Kenapa aku harus switch keadaan sedihku menjadi hal yang baik-baik saja? Bukankah itu toxic positivity?
Lambat laun mataku mulai terbuka. Jurnaling bukanlah alat untuk mencapai manifestasi aku. Aku gunakan jurnaling untuk mengekspresikan apa yang kurasakan, menulis agendaku, dan menyalurkan kreativitasku. Disitu aku merasa bebas, inilah aku yang sebenarnya yaitu jiwa yang bebas. Kenapa jurnaling saja harus diatur? Toh penentu tercapainya cita-cita aku bukan karena aku scripting tapi karena doa dan usaha yang aku panjatkan. Hal buruk yang terjadi di aku bukan karena diary yang aku tulis tapi memang itu proses hidup yang harus aku lewati. Harus aku terima.
Kesedihan, amarah, dan beberapa emosi negatif itu adalah bagian dari hidupku. Aku tidak bisa membuang begitu saja karena kutemukan pencerahan ketika aku merasa terpuruk. Perasaan seperti itulah yang mendewasakan aku. Jadi, jika orang bilang tidak boleh menulis emosi negatif di jurnal, aku nggak peduli. Aku akan menulisnya untuk menjaga kedamaian hatiku. Aku hanya belajar menjadi manusia seutuhnya yang punya sisi rapuh karena kita manusia.
Jangan bikin aturan njlimet seolah jurnal hanya untuk manifestasi. Jurnal ya, jurnal. Terserah mau diapakan oleh pemiliknya.
Komentar
Posting Komentar