Jadi, Kapan Mau Sembuh?

Orang yang belum selesai dengan dirinya sendiri akan membuatmu meragukan dirimu. Mereka membuatmu sibuk bertanya, "Apa aku kurang?" atau "Di mana salahku?". Pertanyaan itu menciptakan rasa rendah diri atas kekacauan yang sebenarnya bukan salahmu.

​Mereka datang dan pergi semaunya, seolah kehadiranmu hanyalah pilihan, bukan hal yang penting. Berbeda dengan orang yang sudah damai dengan dirinya; mereka mengerti cara menghargaimu karena mereka sudah menghargai dirinya sendiri.

Mereka yang belum "cukup" akan menjeratmu dalam pola komunikasi yang tidak sehat. Mereka mendekat saat kamu menjauh, lalu pergi saat kamu mulai menetap. Baginya, kedekatan adalah ancaman. Egois, bukan? Mereka yang terluka, tapi kamu yang menanggung dampaknya. Mereka berlindung di balik kalimat, "Aku memang begini orangnya," menjadikannya tameng agar dia tak perlu berubah. Padahal, dunia tidak berporos pada luka mereka saja.

Inkonsistensi dari mereka patut diwaspadai. Itu adalah lampu merah. Jangan biarkan dirimu terombang-ambing dalam "cek ombak" yang tak berujung, tak ada tujuan. Mereka tidak ingin kamu pergi, tapi takut saat kamu ada. Itu bukan cinta, itu adalah rasa tidak aman yang diproyeksikan padamu. 

​Penuhi "gelas" milikmu. Berbahagialah dengan duniamu sendiri. Saat dirimu sudah utuh, tubuhmu akan menyalakan alarm otomatis ketika menghadapi situasi yang tak jelas. Kamu tak harus merapikan kekacauan yang sumbernya bukan dari dirimu. 

Menjadi manusia sok misterius dengan komunikasi on-off hanyalah bentuk ketidakdewasaan. Labil! Oh, mau jadi manusia-manusia nonchalant itu, ya? Kamu layak berada di tempat yang pasti, bukan di ruang tunggu yang dikelilingi oleh kebahagiaan semu.

​Dengarkanlah suara hatimu. Suara hatimu adalah kata yang paling jujur. Ketika dirimu mulai ragu, itu pertanda ada yang salah. Karena sesuatu yang tepat akan membawamu pada ketenangan, bukan kegelisahan. Kamu sudah cukup, kamu sudah baik. Jangan jadi penawar bagi mereka yang tidak punya keinginan untuk sembuh.

Komentar