Tulus
Apakah energi kita sama?
Kadang aku mengambil waktu untuk merenung. Apakah energi kita benar-benar cocok? Atau aku yang terlalu keras menyesuaikan diri?
Apa lelaki yang aku tulis betul-betul ada, Ya Tuhan? Apakah aku terlalu menginginkan yang sempurna sehingga aku masih sendiri? Aku butuh seseorang yang bisa mendengarkan aku. Aku butuh orang yang mau mengerti aku. Bukan balasan nonchalant karena aku selalu ekspresif. Aku butuh dipuji. Bukan divalidasi sebegitunya. Bukan. Aku hanya ingin kehadirannya. Aku hanya ingin respons yang baik darinya. Bukan balasan cuek karena aku tidak pantas menerimanya.
Apa laki-laki didesain untuk menjadi orang yang selalu balas singkat? Apakah aku yang harus belajar memahami pola pikirnya? Atau mereka bukan orang yang kumaksud dalam tulisan-tulisanku. Aku butuh kata-kata menenangkan ketika aku gelisah, keberadaannya tidak perlu intens tapi nyata. Bisa menjelaskan padaku jika dia menghilang. Aku tidak perlu lelaki yang 24 jam menjelaskan padaku tentang apa yang ia lakukan dalam kesehariannya. Dia cukup membalasnya di saat dia senggang dan memberiku pertanyaan kembali tanpa aku minta. Apakah itu sangat sulit? Bukankah itu sederhana?
Tiap orang diberikan kecerdasan, termasuk kecerdasan emosional. Otak kananku mendominasiku sehingga aku terlalu emosional dan menggunakan perasaanku atas beberapa hal. Aku ingin tenang dengan perasaan-perasaan yang tak menentu. Pikiran yang berkecamuk di kepalaku.
Aku butuh diyakinkan. Jika kau mencintaiku maka yakinkan aku bahwa aku betul-betul dicintai. Buktikan padaku bahwa kau benar-benar tulus padaku. Bukan respons seadanya yang membuatku tak mengerti tingkahmu.
Sentuhlah jiwaku jika memang kau benar untukku. Buktikan dalam bentuk nyata jika memang kau peduli. Aku tidak butuh teka-teki konyol karena itu membuang waktuku.
Malam yang konyol. Kenapa aku harus menangis karena pertanyaanku tentang seorang lelaki? Tuhan, buatlah pertemuan itu mudah dan indah. Buatlah aku merasa dicintai sebegitunya. Buatlah aku merasa diriku dihargai. Aku ingin dicintai sedalam itu.
Tuhan, orang itu pasti ada. Aku percaya padamu. Tunjukkan padaku siapa sosok itu. Aku sesak. Aku ingin menikmati seporsi makanan bersama seorang kekasih resmi yang kau ridhoi. Aku ingin keliling ke tempat wisata dengan baju berwarna senada dengannya. Aku ingin menikmati hidupku dengan orang yang bisa menjaga aku. Leherku terasa sakit menahan tangis.
Aku butuh kehadirannya. Kau pasti tahu Tuhan. Ya Tuhan, aku tidak meminta Kau mempercepat pertemuan itu. Aku hanya ingin bersama orang yang kau pilih di waktu yang menurut Kau tepat.
Komentar
Posting Komentar