Menerima
Belakangan aku senang sekali membaca tulisan-tulisan orang lain di Threads. Tulisan mereka memberikan pandangan baru buatku. Ada yang menuliskan betapa bahagianya menjadi seorang istri, bahagia karena bisa wisuda, dan tulisan-tulisan lainnya yang membawa nuansa baru. Menyegarkan. Tak jarang kutemukan orang yang hatinya belum bahagia, mereka melontarkan perkataan negatif di beberapa postingan. Ah, hidup kan selalu begitu. Ada positif dan negatif.
Ngomong-ngomong, aku bersyukur dalam kehidupan ini masih diberikan kesempatan untuk merasakan hal kecil seperti menulis apa yang kurasakan dan kupikirkan tanpa takut. Aku berusaha jujur dengan diriku sendiri bahwa memang itulah perasaanku. Itulah diriku yang sebenarnya.
Kadang aku sadar, ritme kehidupanku menyeretku untuk sibuk dan aku meninggalkan kegiatan-kegiatan kecil yang kusukai seperti menulis jurnal. Aku mengalami demotivasi atas hobiku, kulihat struk belanja menumpuk. Aku tidak ingin mengingat berapa uang yang keluar dalam struk belanja itu. Aku percaya uang akan selalu datang padaku lebih banyak dari struk belanja itu.
Hari ini aku mulai menata struk itu dalam jurnal. Hal itu membuatku ingat di sana ada ucapan dan beberapa hadiah kecil dari orang terdekat. Ternyata banyak orang yang sayang padaku. Aku bersyukur. Aku sadar bahwa cinta tidak selalu datang dari lawan jenis tapi dari orang sekitar lewat kebaikan dan kepedulian mereka. Aku mengingat momen hidup yang ada di jurnal milikku. Beberapa memang harus dibiarkan pergi tanpa harus disesali dan sisanya harus dinikmati dengan penuh suka cita.
Hidupku akan terus berjalan dengan atau tanpanya. Aku hanya tidak bisa bersama seseorang yang tidak bisa menunjukkan siapa diriku. Di luar sana, orang lain bangga punya aku yang mandiri. Bisa memenuhi kebutuhan sendiri. Di luar sana, ada orang yang mengerti bahwa hari-hari penting baiknya dirayakan bukan hanya lewat kata-kata tapi hadiah kecil sebagai bentuk menghargai.
Aku tidak mau menerima sesuatu yang bukan aku. Sesuatu yang tidak bisa mengganggap aku ada. Hidup dalam kepura-puraan itu tidak enak. Kenapa kita harus berpura-pura sementara jujur lebih menyenangkan.
Kusadari bahwa aku tidak perlu bertanya kapan cinta itu datang karena cinta sudah kurasakan lewat kebaikan hidup yang aku terima. Kadang aku merasa kesepian. Ya, sedikit kesepian. Tapi aku yakin bukan hanya aku yang sedang merasakan perasaan seperti itu. Lalu aku memutar lagu yang aku sukai lagi dan lagi untuk mengusir rasa sepi.
Aku ada. Aku hidup. Aku bermakna. Aku tidak perlu cemas. Kebahagiaan itu nyata pun kekecewaan yang pernah kurasa. Semuanya kuterima. Semuanya memberikan makna dalam hidup.
Jadi marilah hidup dengan suka cita.
Komentar
Posting Komentar