Tukar Peran (Short Story)

Saat itu usianya masih 17 tahun. Aku masih ingat bagaimana dia selalu menjawab pertanyaan dari guru Bahasa Indonesia. Dia menyukai pelajaran itu. Katakanlah dia seorang yang ambisius. Peringkat satu. Tak terkalahkan. Bahkan ia ingin mendapatkan nilai sempurna pada semua mata pelajaran tapi tidak untuk matematika. Dia tak suka pelajaran itu. 


Awalnya aku tidak mengenalnya karena dari kelas 10 hingga kelas 11, kami tidak pernah sekelas. Dan di kelas 12, aku dipertemukan olehnya. Aku beruntung mengenalnya. Ya, aku baru menyadarinya saat ini. Saat usiaku 25 tahun. Benar-benar terlambat menyadari betapa berharganya sosok itu.


Dulu dia sering mengirimku pesan singkat. Hal itu membuatku tak nyaman karena aku sedang dekat dengan seorang gadis yang merupakan temannya. Saat ini hubunganku dengan gadis itu sudah berakhir. Sudah sekitar 5 tahun lalu hubungan kami kandas. Dan aku tidak pernah bertukar kabar dengan mantanku. 


Jujur saat ini justeru aku merindukan dia, ehm, aku berharap Si Ambisius itu menghubungiku. Tapi rasanya mustahil. Kurasa Si Ambisius sudah menghapus diriku dalam kehidupannya. Aku yakin tiada kata maaf untukku. Aku menyesal. Sangat menyesal.


Tiba-tiba saja semua kenangan tentang gadis itu muncul di kepalaku. Rasanya masih ada cerita yang belum usai. Ada cerita yang harus kuselesaikan dengannya. Tapi kebodohanku membuat segalanya kacau. 


Dua tahun lalu, aku bertemu dengan Si Ambisius. Semua berawal darinya yang mengikuti akun sosial mediaku. Dia juga yang memulai percakapan lewat DM. Persis dengan caranya di masa lalu yang tiba-tiba datang menghubungiku terlebih dahulu. Posisinya aku sedang menjomblo dan dia pun sama. 


Sampai pada akhirnya kami bertemu. Aku ingat kami bertemu di kedai burger. Dia memesan chicken burger dan minuman rasa moccha. Dia membelikanku juga. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun tak bertemu akhirnya kini dipertemukan. Takjub. Dia tampak beda dengan penampilan sewaktu SMA. Badannya terlihat lebih tinggi. Kakinya jenjang. Dia tampak anggun dengan kemeja bercorak bunga dan celana bahan berwarna hitam.


"Seperti mimpi, ya." Katanya. Aku ingat jelas saat dia berkata begitu. Posisinya kami sedang berada di motor dalam perjalanan menuju kedai.


Aku tertawa. Tangannya hendak memegang pinggangku tapi tak jadi. Gemas.


Mengingat itu aku jadi tersenyum sendiri. Meskipun tak banyak bertemu tapi kami saling bertukar kabar. Dia yang lebih dulu menanyakan keadaanku. Kadang kami juga berbincang lewat sambungan telepon. Dia anak yang asik. Punya selera humor yang baik. Kadang mengirimkanku meme yang ia dapat dari Twitter.


Sampai pada akhirnya aku tidak mengabarinya selama dua hari. Berlanjut tidak mengabari selama seminggu, dua minggu, dan hampir sebulan. Aku stres karena pekerjaanku. Aku butuh waktu untuk sendiri. Terakhir dia mengirimiku foto masakannya. Dan aku tidak meresponnya. Aku masih belum stabil karena pekerjaanku membuatku stres.


Setahun berlalu. Aku tidak tahu kabarnya. Terakhir yang kutahu dia bekerja di tempat baru. Dia kelihatannya fokus dengan karirnya dan aku pun sama. Hanya saja kali ini aku merasakan betapa hilangnya Si Ambisius. Sudah setahun juga Si Ambisius tidak memposting apapun di akun sosial medianya. Ya, deactive Instagram. Padahal saat ini aku rindu postingan miliknya. Aku rindu ketika dia melakukan cover song singkat di story-nya. Aku rindu bagaimana dia memposting cowok-cowok Korea dengan caption yang kadang membuatku terbahak. Dan aku rindu ketika dia membalas story-ku, kadang dia meledekku. Aku rindu dia. Sangat rindu tapi kurasa semua sudah berakhir. Semua sudah usai. Aku yang mengakhiri segalanya. Aku yakin Si Ambisius marah karena sikapku. Dia merasa di-ghosting


Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Jika aku kembali datang ke hidupnya akankah dia menerimaku kembali? Atau kehadiranku hanya membuatnya benci padaku? Aku khawatir penilaiannya terhadapku.


Sekarang aku melihatnya sedang duduk sendiri di kafetaria bilangan Jakarta Utara. Kafetaria ini tempat favoritku dan teman-teman kampusku. Aku duduk di bangku yang lumayan jauh darinya.  Dan aku memperhatikannya dari sini. Dia sedang sibuk dengan laptopnya. 


"Heh, bengong aje!" Ucap David menyenggol lenganku. 


"Tau, lu kenapa dah?" Tanya Adi sambil mengunyah kentang goreng yang dicocol dengan saus tomat.


"Oh, gue tau nih. Nih anak lagi liatin siapa." Ucap Dani berlagak paling tahu.


Aku langsung menoleh ke arah Dani. "Sok banget tau dah lo!" Balasku.


Dani menegang dagunya. "Arah jarum jam sepuluh." Ucap Dani. Jelas saja semua teman-temanku menoleh. Dani menunjuk bangku yang diduduki Si Ambisius.


"Naksir cewek lu?" Adi heran. "Lumayan sih gak malu-maluin dibawa ke kondangan. Ya, gua setuju deh kalo lu sama dia."


"Masalahnya emang lu kenal dia?" Tanya David penasaran.


"Ya kenal lah," kali ini malah Dani yang bersuara. Aku sampai lupa kalau Dani bisa baca pikiran. Termasuk membaca pikiranku. Entah dia dapat ilmu baca pikiran darimana. Tapi memang dari dulu mengenalnya, dia sudah punya punya keahlian itu. 


"Siape tuh, Dan?" David ingin tahu.


"Dia itu perempuan yang pernah disia-siakan sama Si Bodoh ini. Dan sekarang lo nyesel kan, Feb?"


"Udah gila lu, Feb! Emang lu mau cari cewek yang kayak gimana?" Ucap Dani lagi.


Aku meneguk salivaku. Segalanya sudah berakhir. Meskipun segalanya berubah  

Selamanya dia akan menjadi cinta pertamaku. Aku minta pada Tuhan supaya Dia selalu menjaga Si Ambisius. Sekarang aku harus menikmati apa yang dirasakan olehnya di masa lalu. Ya, kami bertukar peran.


Hei, ternyata tidak mudah, ya, berada di posisi menyakitkan seperti ini? 

Komentar

Postingan Populer