Hello and Good bye (One Shoot)

Untuk pertama kalinya dalam hidup Riko bertemu dengan gadis 'keras kepala' bernama Joanna. Bagaimana bisa Joanna secara terang-terangan menyatakan rasa suka padanya? Oh, ralat, bahkan lebih dari suka. Joanna jatuh cinta. Tandai itu, jatuh cinta. 

Sulit diterima oleh akal sehat Riko bahwa seorang Joanna mencintai dia. Sangat mencintai dia. Dan, dia tidak bisa berkata selain tidak karena Riko hanya menganggapnya sebagai sahabat. Dia sendiri pun bingung apa yang ia rasakan. Tapi, setiap hari pikirannya tertuju pada Joanna. Mungkinkah itu cinta? Riko tak mengerti. Riko tahu usianya saat ini sudah cukup matang. Tapi, dia ingin fokus dengan dirinya dan keluarganya. 

Riko membanting pintu mobil. Dia memijit pelipisnya. Pusing. Kepalanya mau pecah. Dia tidak bisa membayangkan eksperesi wajah Joanna saat di cafe. Joanna berani dan jujur. Riko hargai itu.

Riko ingat bagaimana secarik kertas yang ia terima dari Joanna adalah ungkapan isi hatinya dan saat Riko menggeleng sambil berkata, "nggak bisa, Joa. Sorry." Mata Joanna juga tidak bisa bohong. Mata itu bercahaya. Sangat bercahaya ketika melihat Riko. Namun berubah menjadi sendu.

Sementara di tempat lain, tempat yang jauh dari keramaian, Joanna duduk di bangku panjang. Duduk sambil menangis. Perasaannya sakit. Tapi, lebih sakit jika Riko pura-pura mencintainya hanya untuk membuatnya senang atau merasa dicintai.

Air mata Joanna menetes. Ia memukul dadanya pelan. Sakit. Itu yang dirasakannya. Perasaan tak terbalas. Dicintai kembali oleh Riko adalah angan. Hampir lima tahun lamanya Joanna memendam perasaan tersebut. Dan, malam ini dia tak bisa menahannya lagi. Tidak bisa!

"Joa, Joanna, kenapa?" Dira memeluk sahabatnya. Dira tidak tahu apa yang terjadi. Ia mencoba menghubungi Joanna berkali-kali tapi Joanna tak menjawab. Ponsel Joanna low battery sehingga ia tak tahu bahwa Dira menghubunginya lebih dari dua puluh kali.

Dira tahu tempat favorit Joanna. Taman yang ada air mancur dan lapangan kecil. Ada pula ayunan perosotan yang biasa digunakan anak-anak untuk bermain.

"Kenapa bisa begini, Joa? Cerita sama gue!" Ucap Dira. Dira menatap mata Joanna. Kesedihan. Yang didapat kesedihan. Air mata Joanna turun lagi. Lebih deras. Setiap ia mengingat Riko makan air matanya semakin deras.

Sejujurnya dia paling benci terlihat lemah di hadapan siapapun, termasuk Dira. Ini pertama kalinya Dira melihat Joanna menangis. Menangis di taman kecil dengan lampu temaram. Dia cerdas memilih tempat untuk meluapkan kesedihan. Walaupun sebetulnya tempat paling aman untuk bersedih adalah kamar tidur.

Dira tidak bertanya apapun lagi. Kacau, dia tahu Joanna dalam keadaan kacau. Biasanya dia tidak pernah menujukkan sisi lemahnya dan sekarang Dira melihat Joanna dalam keadaan sedih. Pertanda ini fatal. Tidak ada yang baik-baik saja. Sangat tidak baik!

Tanpa berucap apapun pada Dira, Joanna keluar dari taksi. Dira yang duduk di belakang hanya melihat ekspresi gadis itu. Tak berani bertanya. Sebelum pergi Joanna menyelipkan uang di dashboard lalu pergi. Masuk ke dalam rumahnya yang kecil tapi nyaman. Di sana tidak ada siapapun. Tidak ada orang tuanya. Dia tinggal sendirian. 

Keesokan harinya, Joanna tidak pergi bekerja. Meskipun dia bekerja di restoran milik sendiri sebagai owner. Tapi, dia sering ke sana untuk memeriksa seluruh karyawan. Kadang dia membantu pekerjaan karyawannya meskipun harus mengelap meja. Tak masalah. Dan, sekarang dia tak pergi kemanapun. Dia berdiam diri di rumah. Duduk di depan sofa sambil mengunyah popcorn yang setengah alot.

-

Pekerjaan Riko sangat banyak. Riko mencoba untuk menyelesaikannya walaupun perasaannya tak karuan. Di otaknya terus teringat kejadian semalam. Kejadian saat dia menolak cinta Joanna. Seseorang yang mencintainya selama lima tahun dan ia tidak bisa membalasnya. Dia bingung, apakah dirinya layak untuk seorang Joanna? Sebetulnya itu hak Riko menolak tapi penolakan ini sangatlah berdampak pada persahabatan mereka.

Tak ada lagi sapaan selamat pagi dari Joanna atau lagu-lagu yang biasa Joanna rekomendasikan untuk didengar  di pagi hari. Sepi. Kosong. Itulah yang Riko rasakan.

"Iko, makan siang, yuk!" Ajak Syila. Mentornya.

"Duluan aja, Mbak. Kerjaan gue belom selesai."

"Yaudah gue sama Ferdi duluan, ya. Kita makan di tempat Bu Sri. Kalo mau nyusul ke sana aja. Oke?"

"Iya, Mbak."

Riko membuka akun Instagram-nya. Dilihatnya profil Joanna. Gadis itu sudah mengganti profilnya. Tak ada foto di sana. Dia juga mengarsip semua postingan hingga postingannya nol. Joanna kecewa dan Riko paham.


Joanna duduk di teras sambil meneguk secangkir teh hangat. Duduk sambil melihat tanaman lidah mertua yang tumbuh serta tanaman lain yang memenuhi teras. Dia terlalu fokus dengan perasaannya terhadap Riko sampai lupa memperhatikan tanamannya. Untung tanaman itu tidak mati.

Selesai menikmati teh itu, dia langsung menuju kamar. Memasukkan lembar pakaian ke dalam koper. Dia berencana untuk pergi ke luar kota. Dia tidak bisa berpikir jika perasaannya kalut.

"Halo, Yusuf. Saya akan pergi ke Halmahera untuk sementara waktu. Urus pekerjaan di sini dulu, ya."

"Tapi, Mbak."

"Saya percaya kamu bisa. Kalau ada apa-apa hubungi Saya aja."

"Perlu Saya carikan tiket, Mbak?"

"Nggak perlu, Yusuf. Saya cari sendiri aja. Lagipula ini mendadak."

"Hati-hati, Mbak."

"Iya, terima kasih."

Joanna mengecek ponselnya. Mencari penerbangan ke Halmahera secepatnya. Tak masalah walaupun harus merogoh kocek yang cukup besar. Mungkin pergi jauh bisa membuatnya lebih baik. Dia ingin melupakan segalanya sejenak sampai dirinya tenang.

-

Pesawat mendarat di Bandara Sultan Babullah sebelumnya pesawat transit di Bandara Sultan Hasanuddin. Perjalanan yang cukup melelahkan. Joanna melirik ponselnya. Jam sudah berubah secara otomatis. Jam di Halmahera lebih satu jam dari tempat tinggalnya.

Joanna melepas earphone-nya. Dia menarik kopernya meskipun ada perasaan takut. Untuk pertama kalinya dia pergi sendirian ke luar kota yang jauh dari tempat tinggalnya. Bukan untuk urusan kerja hanya untuk menghibur dirinya sendiri.

Berbekal pengalaman orang lain di blog, Joanna menuju hotel sederhana yang sudah ia pesan sebelumnya. Bodo amat soal fasilitas. Joanna juga tak pernah memesan kamar bintang lima yang harganya fantastis karena yang ia butuhkan hanya tidur nyenyak saja. Soal makan, dia bisa makan apa saja tak harus mewah atau bisa pakai jasa delivery order.

"Selamat datang." Sapa resepsionis yang menyambut kedatangan Joanna.

"Atas nama Joanna Melisa." Kata Joanna to the point.

"Silahkan, kamarnya ada di lantai tiga, ya, Kak."

"Biar saya antar, Kak." Kata si penjaga pintu hotel yang tiba-tiba datang menghampirinya.

"Eh, nggak perlu, Pak. Saya ke kamar sendiri aja." Balas Joanna sambil tersenyum.


Malam itu Joanna tidak bisa tidur. Dia berusaha untuk tidur cepat setelah mengonsumsi tiga slice pizza. Diambilnya cardigan dari ransel kemudian dia berjalan keluar hotel. Menghirup udara segar di malam hari.

Pantai. Pikiran Joanna tertuju pada pantai. Di sini memang terkenal dengan wisata pantai yang cukup banyak. Dan, Joanna memilih satu pantai yang lokasinya dekat dengan hotel.

Pantai itu tidak terlalu ramai. Masih ada kehidupan di sana. Kios-kios kecil yang menjual pernak-pernik pun masih buka. Joanna mampir ke kios hanya untuk membeli sling bag. Dia membeli sling bag untuk menaruh ponsel, dompet, dan tisu basah. Dia lupa membawa sling bag dari hotel.

Suasana pantai memang menenangkan. Perasaan Joanna nampak lebih baik. Ponselnya terus berdering. Dengan cepat Joanna langsung mematikannya. Itu bukan panggilan dari Riko tapi Dira. Sampai detik ini Joanna belum mengubungi Dira. Joanna butuh waktu untuk bicara dengan Dira.

Asap rokok membuat Joanna terbatuk. Si perokok langsung menginjak rokoknya. Membuang putung rokok ke dalam tong sampah di dekatnya.

"Sorry," katanya. Mendengar itu Joanna langsung menoleh. Lelaki itu pasti bukan orang Maluku. Terdengar dari aksennya.

"Gapapa." Jawab Joanna.

"Dari Jakarta?" Tanya orang itu.

"Iya," sahut Joanna singkat. Kemudian gadis itu memilih menjauh. Dia berjalan terus berjalan tak peduli kakinya dipenuhi pasir putih.

Lelaki itu mengikuti langkah Joanna. Mengikuti kemana Joanna pergi. Ini sudah larut. Entah kenapa ada perasaan khawatir. Apalagi Joanna bukan orang sini.

"Ngapain ngikutin gue?" Kata Joanna. Dia berbalik. Menyilangkan kedua tangannya. Menatap lelaki itu. Matanya memicing. Menunggu jawaban.

"Kangga," katanya memperkenalkan diri sambil menjulurkan tangan.

Joanna melirik telapak tangan. Si empunya langsung menarik tangan itu. "Eh, tangan gue kenapa, deh?" Kangga melihat telapak tangannya sendiri.

"Tangan lo bau tembakau." ucap Joanna. Orang itu menatap telapak tangannya. Benar juga apa yang dikatakan gadis itu. "Gue, Joanna."

Mereka berjalan melihat-lihat suasana pantai. Meskipun keduanya menjaga jarak. Akhirnya mereka duduk di batang pohon besar yang sudah ditebang. Batang itu dibiarkan begitu saja, sengaja untuk tempat duduk.

"By the way, mana temen lo?" Tanya Kangga.

"Gue sendirian."

"Hah? Sendirian? Dari Jakarta?!"

"Iya, sendiri. Lo juga?"

"Nggak. Gue bareng temen gue. Mereka lagi di cafe dekat sini. Gue gak ikut. Pengen ke pantai aja sambil lihat orang jualan."

"Joanna." Lanjutnya.

"Joa, Joa aja."

"Jauh-jauh ke Halmahera. Apa yang dicari?"

"Ketenangan." Jawab Joanna simpel. Kangga langsung tersenyum kecil. Melempar batu ke arah pantai. Ya, sekali lihat wajah Joanna, dia bisa tahu kalau gadis itu banyak masalah.


Hari ini Dira bertemu dengan Riko. Dira khawatir perihal Joanna. Joanna hilang tak ada kabar. Sebagai sahabat yang paling dekat dengannya, Dira merasa kehilangan. Dira tahu Joanna sedang banyak masalah karena malam itu ia menemukan Joanna menangis. Tapi, ia tak tahu apa permasalahan yang dihadapi sahabatnya.

Riko meletakkan cangkir yang berisi kopi. Tak ada yang salah dengan kopinya. Rasanya enak. Hanya saja pikirannya tertuju pada Joanna. Selalu. Dia merasa bersalah. Joanna menghilang itu pasti sebab penolakan darinya kan?

"Gue sama sekali dia kemana, Ko." Kata Dira. "Gue kepikiran. Gue gatau apa yang terjadi sama dia. Pokoknya malam itu dia nangis. Untuk pertama kalinya gue liat dia sesedih itu."

"Sebetulnya waktu itu dia habis ketemuan sama gue."

Mata Dira memicing, "ketemuan? Terus kalian ngapain? Kok dia bisa sampe nangis gitu? Berantem?" Cerocos Dira.

Riko menggeleng. "Nggak, Dir. Kita gak ribut. Cuma waktu itu Joanna confess ke gue. Perihal perasaannya ke gue."

Mata Dira langsung melebar. Dia langsung meletakkan garpu dan sendok. Menghentikan aktivitas makannya.

"Then? Lo terima?"

"Nggak, Dir. Gue tolak. Gue bingung. Gue nggak tau apa yang gue rasain. Gue peduli sama Joanna tapi gue mikir lagi, apa gue pantas buat seorang dia, ya." Ucap Riko. Sebetulnya dia bingung apa yang ia rasakan.

"What the hell?! Gila lo!" Dira spontan menggebrak meja.

Riko meminta Dira tenang karena orang-orang sekeliling mereka menatapnya akibat gebrakan itu.

"Kok bisa lo tolak? Sumpah lo cowok bodoh yang pernah gue kenal!" Kata Dira frustasi. Tak habis pikir dengan Riko. Dira pikir kedekatan Riko dan Joanna akan berakhir bahagia. Dira berharap persahabatan mereka akan jadi cinta. Why not? Mereka dekat dan sama-sama dewasa.

"Riko, gue gatau mau komentar apalagi. Pokoknya lo harus bantuin gue cari Joanna! Gue gamau dia kenapa-kenapa."

"Tapi, Dir. Mungkin dia butuh waktu sendiri."

"Gue khawatir."

"Ya, sama. Tapi gimana? Gue gak berani ke cafe-nya. Sebenarnya gue juga kepikiran. Gue khawatir sama dia."

"Tuh kan, it's love. Lo selalu menyangkalnya. Terlalu lama denial soal perasaan. Mulut lo bisa bilang nggak suka dia, tapi ekspresi lo saat denger nama dia gak bisa lo manipulasi di depan gue."

"Sumpah gue bingung. Terus gimana? Buntu banget gue."

"Kita harus ke cafe-nya. Tanya sama karyawan sana. Barangkali mereka tau."

Keputusan Dira bulat. Dia harus ke cafe Joanna untuk mencari sahabatnya. Riko juga khawatir.

Mereka tiba di cafe. Dia langsung menemui Yusuf. Yusuf adalah orang yang paling dekat dengan Joanna di cafe. Orang kepercayaan Joanna.

"Yusuf, lo tau bos lo kemana?" Tanya Dira.

Yusuf menatap Dira heran. Yusuf pikir Dira tahun kemana bosnya pergi. Oke, Yusuf harus jujur sekarang.

"Dia ke Halmahera." Jawab Yusuf.

Dira memegang kepalanya. Halmahera? Gila! Tempat itu terlalu jauh dari sini. Bisa-bisanya Joanna melarikan diri ke tempat itu. Dira jamin itu pertama kalinya Joanna pergi ke sana.

"Dia sendiri?" Tanya Riko. Dan, Yusuf membalasnya dengan anggukan.

"Gimana nih? Gue khawatir banget sama Joanna. Masalahnya dia pergi dengan keadaan kalut."

"Yaudah besok kita susulin dia." Kata Riko mantap. Dia tidak memikirkan apapun lagi selain keselamatan Joanna.

Dira menatap Riko, "kerjaan lo?"

"Gue bisa ambil cuti."

-

Lagu ballad menggema di kamar hotel. Seketika rasa bosan muncul. Ia memutuskan untuk keluar hotel. Sepertinya seru menikmati pantai sambil menyeruput air kelapa muda.

Pantai di siang hari cantik meskipun terik hampir membakar kulit Joanna. Untungnya dia sudah memakai tabir surya.

"Bu, kelapa muda satu, ya." Kata Joanna pada si penjual.

Sambil menungu si penjual menyiapkan pesanan. Joanna memandangi pantai itu. Cantik. Ada perahu berhiaskan bendera warna-warni. Airnya biru sangat memanjakan mata. Joanna tak salah menjadikan Halmahera sebagai tempat pelariannya.

"Joa." Sapa seseorang yang tiba-tiba datang. Ia langsung duduk berhadapan dengan Joanna.

"Kangga? Lo masih di sini?"

"Iya, gue masih punya waktu tiga harian di sini."

"Mau kelapa muda juga?" Tawar Joanna ketika si penjual meletakkan kelapa muda di hadapannya.

"Gue pesen yang lain aja." Katanya. "Bu, saya mau kopi aja, ya. Pakai es."

Kangga mengarahkan kameranya ke arah pantai. Memotret pemandangan indah itu. Kemudian ia mengarahkan kamera ke arah Joanna yang sedang menyeruput kelapa muda. Dan, yang dipotret langsung meraih kamera itu.

"Ih, muka gue jelek banget!" Kata Joanna melihat dirinya di kamera Kangga.

Kangga tertawa puas. "Natural sekali, ya. Jangan di delete udeh."

"Ngapain juga lo nyimpen foto gue?"

"Ya gapapa dah buat nakut-nakutin tikus." Kata Kangga lalu terbahak.

Joanna manyun lima senti. Tidak jelek. Gadis itu justeru terlihat imut. "Orang ini kalo ngomong sungguh tanpa filter."

"Canda. Eh, by the way, mau ikut gue jalan-jalan nggak sama temen gue?"

"Hah? Kemana?"

"Snorkling dan diving ke Taman Laut Tobo-Tobo."

Sontak Joanna langsung melotot. "Skip kalo gak ada temen ceweknya." Katanya lalu menyuap daging kelapa. Sungguh nikmat tiada tara, makan daging kelapa disuguhi pemandangan pantai.

Kangga mengaduk es kopi yang baru saja disajikan si penjual. "Yaelah, gapapa. Temen gue gak ganas. Hatinya lembut kayak hamtaro. Daripada sendirian di hotel. Ngapain coba? Bete iye, lu."

Duh, tawaran yang sulit ditolak. Joanna akan berpikir terlebih dahulu. Dan dia akan mengabari Kangga lewat LINE. Joanna belum berani memberi nomor ponselnya. Hanya berani bertukar ID LINE. Bagaimanapun Kangga adalah orang baru dan Joanna harus berhati-hati. 

-

Langit sangat cantik jika dilihat dengan jarak dekat. Awan putih seperti kapas membuat pikiran Riko sedikit tenang. Lewat jendela pesawat dia mengamati pemandangan indah itu.

Sejenak ia berpikir. Benarkah dirinya Joanna namun dia sering menyangkalnya? Riko menyangkal rasa itu karena takut jadi boomerang. Entahlah. Seorang yang jatuh cinta itu seperti apa? Riko terus memikirkan Joanna, tak bisa berhenti peduli.

Pesawat mendarat dengan sempurna. Dira yang tertidur pun terbangun. Mereka sudah memesan hotel dengan kamar yang berbeda. Jadi, tinggal naik taksi saja untuk menuju ke sana.

Setibanya di hotel, Riko dan Dira disambut ramah. Mata Riko menatap seorang gadis memakai cardigan dan celana pendek. Rambutnya dikuncir kuda.

"Joanna." Kata Riko. Persetan dengan koper. Dia langsung menghampiri gadis itu. Syukurlah tak ada lecet. Riko khawatir.

Joanna menatap Riko penuh heran. Sementara Dira sudah tiba di kamarnya duluan sebelum melihat Joanna. Riko langsung memeluk Joanna. Dan yang dipeluk hanya diam. Merasakan jantungnya berdebar bahkan jantung Riko berdebar sangat cepat. Pertama kalinya Riko memeluknya. Amarah Joanna seketika hilang.

"Kok bisa di sini?!" Tanya Joanna menatap Riko yang kelelahan. Emosi Joanna hilang seketika. Dia tidak bisa marah. Cinta selalu memaafkan. Bukankah begitu?

"Nyusulin kamu lah. Aku kepikiran terus takut kamu kenapa-kenapa."

Bayangkan orang yang kalian cintai berkata demikian. Hati siapa yang tidak luluh? Perjalanan Jakarta-Halmahera itu sangat jauh. Belum lagi memakan banyak biaya.

"Riko, sorry. Seharusnya aku gak marah kayak gini."

"Nggak, kamu nggak salah. Di sini aku yang terlalu denial. Selalu menyangkal yang aku rasain. Tapi, jujur, aku peduli. Aku juga gatau ini namanya apa. Aku kepikiran kamu. Aku ambil cuti dadakan. Udah lah, yang penting kamu aman."

Selesai meletakkan koper di kamar, Riko langsung menemui Joanna yang berada di taman hotel. Iya, di hotelnya terdapat taman kecil. Di taman itu terdapat berbagai jenis tanaman. Ada ayunan besar dan pepohonan yang teduh.

"Kamu sama Dira?"

"Iya, dia ikut. Tapi dia udah tidur kayaknya. Tenang, kamar kita beda kok."

Joanna tertawa. Mana mungkin juga Dira sudi sekamar dengan si tukang ngorok. Lagi pula selera Dira itu cowok yang putih ala oppa-oppa Korea. Bukan yang lokal seperti Riko.

"Riko, makasih, ya." Ucap Joanna sambil memegang tangan Riko. Riko senang melihat Joanna lagi. Ditatapnya Joanna lekat. Joanna memejamkan mata seolah membaca sinyal apa yang akan terjadi selanjutnya.

Sementara di balik tembok ada orang yang memperhatikan mereka. Itu bukan Dira melainkan Kangga. Kangga datang ke sini untuk menjemput Joanna. Katanya Joanna mau ikut pergi bersamanya tapi melihat pemandangan itu lebih baik Kangga mengurungkan niatnya. Dan, mungkin ini akan jadi yang terakhir Kangga melihat Joanna. Joanna bilang dia ke sini sendiri tapi ternyata... Ah, sudahlah! Kangga tidak ingin menebak yang apa yang tak ia tahu. 

Segera Kangga menghubungi Joanna. Joanna sadar ponselnya berbunyi namun ia lebih mementingkan Riko. Tidak sia-sia pelarian Joanna ke Halmahera tapi sia-sia Kangga datang menjemput Joanna ke hotel. Padahal Kangga tertarik dengan gadis itu karena gadis itu baginya unik. Joanna ramah padahal Kangga adalah orang baru. 

Joanna mundur perlahan dia merapatkan bibirnya yang lembab. Perasaannya campur aduk. 

"Aduh, Jo. Sumpah, maafin aku. Harusnya aku nggak lancang kayak tadi. Astaga!" Riko panik. Pikirnya dia melakukan kesalahan. Wajahnya memerah.

Joanna gemas melihat wajah Riko yang memerah. Ditambah panik. Puas dia melihat Riko salah tingkah.

"Jangan lari lagi, ya. Maafin, ya, Jo."

Joanna mengangguk. "I love you, gak peduli kamu membalasnya atau nggak." Katanya menangkup wajah Riko sambil berjinjit.

"Love you too, Joanna Melisa." Ucap Riko lalu menarik dagu Joanna. Kalian bisa menebak apa yang terjadi selanjutnya.

"And good bye, Joanna." Ucap Kangga dari kejauhan. Dia melihat Joanna sedang bermesraan dengan kekasihnya. Kangga berusaha menguatkan hatinya. Lain kali Kangga akan belajar bahwa tidak semua keramahan itu ada unsur perasaan. 


[]

Komentar

Postingan Populer