The Miracle of God (Short Story)

Aku bangkit dari bangku setelah anak-anak itu keluar dari kelas mereka. Pembelajaran hari ini berjalan baik. Semua berjalan sesuai dengan rencanaku. 

Aku pamit pada rekan kerjaku. Mengendarai motor sendirian dengan angin semilir yang menyentuh kulitku adalah hal  kecil yang kusukai. Apalagi melewati jalanan lengang yang jarang dilalui oleh kendaraan. Ya, aku selalu mencari jalan sepi untuk mencapai rumah. Aku benci kemacetan. Aku benci keramaian. Tapi, hari ini aku tak ingin langsung pulang. Aku ingin membeli sesuatu untuk mengisi perutku yang kosong. Aku butuh sebungkus roti berisi cokelat dan satu gelas americano. Jangan lupa tambah kripik singkong! 

Aku sampai di tempat itu, tempat semacam sevel, tempat ini biasa kukunjungi untuk membeli kopi. Tak butuh waktu lama untuk tiba di lokasi karena jarak tempat kerja dan tempat itu tidaklah jauh. 

Aku masuk ke tempat itu, mendorong pintu kaca. Berjalan menuju rak makanan, mengambil sebungkus roti dan kripik singkong dalam kemasan. Setelah itu, berdiri di depan kasir untuk membeli kopi dan membayar total belanjaan.

"Americano satu, ya." Kataku pada si pelayan.

Namun seseorang di sebelahku bertanya, "emang itu enak, ya?"

Sekilas aku menoleh ke arahnya, "menurut saya sih enak, Mas. Gatau kalau menurut masnya."

"Cobain kopi susu keluarga deh, Mbak. Itu enak banget! Kalau mbaknya gak suka manis bisa coba dengan less sugar." Dia menyarankan.

Oh, ya? Memang seenak apa kopi susu keluarga itu? 

"Jadi mau kopi susu keluarga apa americano, ya, Kak?" Tanya pelayan membuatku bimbang. Padahal hanya menentukan pesanan saja.

"Yaudah deh, Mbak. Saya pesan kopi susu keluarga aja yang less sugar." Jawabku yang penuh kelabilan. Untung si pelayan memaklumi. Untuk pertama kalinya mengikuti saran orang asing.

"Saya juga ya, Mbak. Kopi susu keluarganya satu." Kata orang di sebelahku. "Bayarnya dibarengin sama saya aja, Mbak."

"Baik, Kak." Pelayan itu mengiyakan.

"Eh, nggak usah, saya bayar sendiri aja!" Cegahku tapi orang itu tidak peduli. Dia tetap pada pendiriannya yaitu membayarkan pesananku.

Duh, kenapa orang itu? Baru kenal tapi sudah mau membayar pesanan orang lain. Mau berbagi rejeki kali, ya? 

Aku membawa pesananku begitupun dia yang membawa pesanannya. Dan di sinilah kami sekarang, berada di lantai dua. Duduk menikmati pesanan kami. Satu meja. Aku seperti pemain drama yang di mana pemainnya bertemu dengan orang asing lalu berkenalan, berteman, dan....ah, tidak, tidak! Hidupku ini kan real life bukan drama yang sering kuntonton di TVN. Bukan juga komik webtoon yang kubaca seminggu sekali. Jadi nggak mungkin hal itu akan tejadi, okay?

Aku hanya menghargai karena dia sudah membayarkan pesanan ini. Jadi aku mau satu meja dengannya. Selebihnya aku yakin kami tidak akan bertemu lagi. Ini semua hanya kebetulan saja kan?

Eh, tunggu dulu! Tanda lahir di telapak tangan itu mengingatkanku pada sesuatu. Tentang seseorang yang memang pernah kutemui di masa lalu. Ini seperti de javu.

"Hows life?" Tanya lelaki itu dengan suara pelan. Kalau didengarkan lebih jelas suaranya memang mirip seseorang. Seseorang yang merupakan teman lama di SMA. Seseorang yang kusebut dengan my one and only. 

Aku mengerjapkan mata dua kali. Nggak mungkin kan kalau itu dia? Nggak. Nggak akan mungkin!

"Hello?" Dia melambai-lambaikan tangan di depanku. Mencoba menyadarkanku dari lamunanku. Enggak, sebenarnya aku nggak seratus persen melamun. Aku hanya berpikir, apa benar itu dia? Cowok berkulit hitam manis yang dulu menjadi alasanku semangat berangkat sekolah. 

Aku masih ingat jaket hitam bergaris kuning merek Adidas yang sering ia kenakan di sekolah, aku masih ingat motor biru-putihnya yang dimodifikasi sedemikian rupa, dan aku masih ingat botol tupperware berwarna kuning miliknya. Tentu saja aku masih ingat kalau dia adalah pacar temanku. Entah sekarang hubungan mereka masih berlanjut atau tidak. Hal itu yang masih menjadi tanda tanya besar buatku.

"Ini gue, Fabian Hernandito. Inget gak temen sekelas pas SMA? Yang suka bareng Ifan, Doni, dan Haikal. Yang tempat duduknya di belakang dekat jendela."

"Hah?" Aku masih tak percaya. Aliran darahku mengalir lebih cepat dari biasanya. Jantungku berdebar sangat keras. Dia Bian? Tampilannya sedikit berubah. Rambutnya sedikit gondrong dari jaman SMA.

"Lo Raya, kan?"

"Iya, gue, Raya." Balasku. "Bian, apa kabar?"

"Seperti yang lo lihat, gue baik." Katanya ramah. "Gimana kehidupan lo?"

Aku mengaduk kopi susu milikku dengan sedotan hitam, "gue sekarang ini ngajar di sekolah. Ngajar anak SMA."

"Serius lo guru? Guru apa?"

"Sosiologi."

"The next Pak Bams dong atau Bu Fenti?" Tanya Bian diiringi tawa yang renyah. Tawa yang kurindukan sejak lama. Fyi, Pak Bams dan Bu Fenti adalah guru sosiologi di sekolah kami.

"Ah, nggak juga, gue kan fresh grad. Mereka pasti lebih jago."

"Ya pasti lo bisa kok seperti mereka." Ujarnya dan aku meng-amiin-kan.

Bian menyeruput kopi susu miliknya dan aku mengunyah roti milikku. Kami fokus menikmati pesanan kami.

"Bian." Aku memanggilnya dengan suara lemah.

"Raya." Dian pun sebaliknya.

"Ladies first." Dia mempersilahkan.

Aku menarik nafas panjang. Ada hal yang ingin kutanyakan saat ini. 

"Lo masih sama Raisa? Kalo iya, gimana kabar dia sekarang?"

Dia menggeleng pelan sambil tersenyum, "udah nggak sama dia. Udah putus pas tahun 2016. Jadi gue gatau kabar dia gimana. Udah lost contact juga."

Oh, sama. Aku juga tidak tahu kabar Raisa. Terakhir kami bertemu saat foto kelas untuk kepentingan buku tahunan sekolah.

Aku diam sejenak. Mereka sudah putus? Mendengar kabar itu seperti diguyur air segar. Ya, ada perasaan lega. Menyejukkan hati. Apakah ini bisa dikatakan bahagia di atas penderitaan orang lain? Entah.

"Kenapa tiba-tiba nanyain itu? Memang mau gantiin Raisa?" 

Uhuk, aku terbatuk. Kupingku tak salah dengar kan? Aku memang menyukainya waktu SMA bahkan sampai sekarang. Tapi, aku menyimpan rahasia itu rapat-rapat. Aku tak ingin dia tahu apalagi Raisa. Kalau dia tahu mungkin aku nggak akan bertemu dengannya selamanya. Biar saja perasaan ini terus tumbuh tanpa pemiliknya tahu. 

"Nggak lah, Bian. Gue cuma nanya aja."

"Beneran cuma nanya aja?" Katanya sambil mengeluarkan buku diary bermotif polkadot.

Aku menatap diary itu. Sungguh, itu punyaku! Aku kehilangan benda itu waktu SMA. Aku pikir benda itu benar-benar hilang tercampur dengan buku-buku bekas yang ibu berikan kepada tukang loak yang sering lewat depan rumah.

"Lo gak baca isinya kan?" Aku panik. Nafasku berderu. "Dari mana lo dapetin benda ini?" Aku meraih benda itu.

"Gue udah tamat baca diary lo. Bahkan gue bawa kemana-mana tuh diary karena gue suka aja bacain curhatan lo." Tukasnya. "Gue merasa spesial karena nama gue sering disebut di dalam sana." Dia tersenyum kecil. 

Cih, pede amat! Ingin dipungkiri tapi fakta.

"Gue nemuin ini di kolong meja kelas. Waktu itu gue mau balikin tapi gak jadi. Soalnya waktu semester 2, sikap lo beda banget ke gue. Kayak ngejauhin gue gitu. Padahal kan kita cukup deket karena sering kerja kelompok di rumah lo bareng anak-anak lainnya." Dia menjelaskan.

Aku menarik nafas panjang. Bingung. Panik. Berdebar di dada. Semua rasa menjadi satu kesatuan yang menegangkan. Padahal baru saja hilang satu beban.

"Diary itu isinya kebohongan." Kataku bohong. "Gak usah dianggap serius. Lagian itu udah lama juga. Udah basi juga kali!"

Dia menyunggingkan senyuman. Menarik kopi susu milikku. Menyeruputnya tanpa dosa. Padahal kopi susu miliknya masih ada setengah cup. Hal itu membuatku meneguk salivaku. Aku pernah melakukan hal yang sama, aku pernah diam-diam menggunakan botol tupperware-nya untuk kuminum lantaran merasa haus dan malas ke kantin hanya untuk beli air mineral. Jadi, ya, kuminum saja air mineralnya itu tanpa sepengetahuannya. Kata teman sebangku, itu adalah ciuman tidak langsung? What the hell, aku nggak pernah terpikir sampai sana. Ciuman sama botol kali ah!

"Mata lo nggak bisa bohong, Raya." Katanya. Dia menarik daguku. Aku mengerjapkan mata lalu membukanya lagi. Untunglah, tangan itu sudah menjauh. Huft, aku aman. Mentang-mentang di sini tak ada orang selain kami bukan berarti dia bisa menyentuhku seenaknya!

"Sedotannya rasa lipbalm peach-nya Nivea Japan." Ucapnya.

Siapa suruh minum kopi susu punya orang lain? By the way, tau dari mana dia kalau lipbalm ini produknya Nivea?

"Si... siapa suruh minum punya orang lain?" Aku tergagap. "Ya, emang itu lipbalm-nya Nivea Japan kok."

"Gak ada yang nyuruh, seneng aja liat muka lo kayak tomat rebus begitu. Kawaii."

"Gombal!"

"Bukan gombal, itu pujian."

Arloji di tangannya berbunyi. Dia melirik arloji itu. "Gue harus pergi." Ucapnya kemudian dia mengacak rambutku asal. Saat itu juga hatiku terasa diacak-acak olehnya.

"See you, Ray." Katanya lagi. "Tahun depan gue berkunjung lagi ke rumah lo. Nggak sendirian sih tapi sama bokap dan nyokap!"

Aku membulatkan mata. Orang itu nampaknya agak gila. Habis lewat jalanan mana sih? Kok bisa terucap perkataan random kayak gitu?

"Mau ngapain ke rumah bawa orang tua lo? Mau mampir ke rumah gue aja pake bawa-bawa orang tua. Emangnya lo itu balita yang perlu diawasi kalo lagi main sama temannya?"

"Ck, dasar polos! Ya, mau izin sama orang tua lo lah. Anaknya boleh nggak nikah sama gue?"

Aku yang sedang menyeruput kopiku langsung menyemburkannya ke lantai. "Gila ya, lo?!" Seruku. Untung di lantai dua hanya ada aku dan dia. 

Dia bangkit dari bangkunya. "Pastikan hati lo dijaga baik-baik, ya. Thank you udah menerima gue sejak lama. Ingat tahun depan gue datang. Ini nggak main-main, Raya!"

"Udah gila!" Kataku menahan isak berbarengan dengan langkahnya yang semakin menjauh. Kalau ini nyata berarti doa-doa itu diijabah oleh semesta. Benarkah malaikat meng-aamin-kan doaku yang seringkali meminta supaya hatinya terketuk buatku? Aku menunggunya sejak lama. Hampir tujuh tahun.

Bian menghentikan langkahnya. Dia kembali menghadapku. Berdiri di depanku yang masih duduk dengan pikiran dan hati yang sulit dijelaskan lagi. Semua rasa bahagia dan sedih menjadi satu.

"Jangan nangis, jadi makin sedih nih ninggalin lo sendirian dalam keadaan begini." Katanya. Aku reflek memeluk pinggangnya dalam posisi duduk. Membenamkan wajahku. Membiarkan air mataku tertutupi oleh kemeja yang ia kenakan.

"Rumah lo masih di Jalan Ampera 4 kan?" Tanya Bian sambil mengusap lembut puncak kepalaku. Fix, ini gila! Semua tindakannya itu gila.

Aku mengangguk tanpa melihat wajahnya. Kemejanya basah, penyebabnya adalah air mataku.

"Raya, sorry, gue yang gak peka di masa lalu dan sorry kalo pernah bikin sakit hati."

"Gapapa." Balasku pelan.

"Yaudah, gue pergi ya. Gue harus kerja nih. Makasih ya, udah setabah ini. Sampai ketemu tahun depan, ya. Jangan lupa makan dan istirahat dengan baik." Katanya menenangkan dan aku belum sanggup melihat ekspresinya. 

Terakhir dia menyelipkan earphone yang tersambung ipod di telingaku. Kini telingaku dipenuhi oleh alunan musik yang tak asing. Ah, ini musik lo-fi. Lagu ini milik Keshi judulnya Always! Dia suka Keshi juga?

"Dengerin lagu Keshi aja kalau kangen gue." Katanya melambaikan tangan ke arahku. 

Sekarang aku percaya bahwa doa-doa yang dipanjatkan itu akan terkabul di waktu yang tepat. Dulu aku meragu, apakah doa-ku tidak akan pernah dikabulkan oleh-Nya? Tapi sekarang aku tidak mau ragu lagi, karena Tuhan Maha Mendengar pasti dia iba mendengar rintihanku. Jadi, percayalah kalau "The Miracle of Goditu ada bagi siapapun yang berdoa dan percaya. Wahai diri, jangan pernah meragukan kekuasaan Tuhan lagi, ya!



NB : 

Cerita ini hanya fiktif, tokoh dan tempat cuman khayalan penulis. Jangan dianggap serius-serius amat. Ambil hikmahnya aja dari cerita ini (itu pun kalo ada). Thank you and have a nice day! 

Komentar

Postingan Populer