Review Film : Bernostalgia dengan Film Cin(T)a (2009)


 

Cin(T)a merupakan film yang dirilis pada tahun 2009 dan diproduksi oleh Sembilan Matahari. Film ini disutradarai oleh Sammaria Simajuntak. Cin(T)a menceritakan tentang kehidupan remaja yang bergejolak dan cukup menguras emosi dengan jalan cerita yang tak biasa, film ini bukan sekadar tentang kehidupan remaja yang dipenuhi percintaan menye-menye melainkan dibumbui oleh perbedaan yang dialami oleh para pemainnya yaitu perbedaan status sosial, agama, dan suku. Hal itulah yang menjadi fokus dalam cerita ini. Cerita ini dibuka dengan tokoh bernama Cina (Sunny Soon), seorang lelaki yang merupakan mahasiswa baru di ITB. Cina digambarkan sebagai seorang lelaki berkulit putih dan bermata sipit. Sesuai dengan namanya, dia merupakan keturunan chinese (Tionghoa). Cina juga digambarkan sebagai pria Kristen dengan logat khas Batak, memiliki suara tegas dan keras. Dia merupakan sosok lelaki cerdas dan percaya pada Hukum Newton I yang bunyinya, “kecantikan berbanding terbalik dengan kepintaran”.

Cina semakin yakin mengenai teori “kecantikan berbanding terbalik dengan kepintaran” ketika ia bertemu dengan seorang gadis cantik bernama Annisa (Saira Jihan), gadis peraih IPK 2.1 kala itu. Gadis yang tiga kali mengalami kegagalan saat ujian tugas akhir. Di dalam film digambarkan bahwa Annisa adalah seorang senior yang populer karena kecantikan dan popularitasnya sebagai aktris. Namun, kecantikan dan popularitas yang dimiliki Annisa tidak membuatnya memiliki banyak teman. Annisa selalu sendiri, temannya hanyalah jari telunjuknya sendiri yang ia gambar menyesuaikan kondisi hatinya.



Cerita berlanjut pada pertemuan Cina yang tanpa sengaja menabrak Annisa hingga maket yang dibuat oleh dara cantik itu rusak dan Cina berusaha membetulkan maket tersebut tanpa sepengetahuan Annisa. Walau ujungnya Annisa tahu kalau pria itu yang membuat maketnya nampak lebih baik. Dari situlah kedekatan keduanya mulai terjalin, sampai akhirnya Annisa meminta bantuan Cina untuk membantunya menyelesaikan tugas akhir yang sedang ia kerjakan. Tentunya bukan hanya meminta bantuan cuma-cuma, Annisa cukup tahu diri, sehingga ia memberikan bayaran kepada Cina kalau juniornya itu setuju dengan tawarannya. Annisa tahu kalau Cina butuh uang karena Cina bukanlah seperti orang Tionghoa (di Indonesia) yang kebanyakan berasal dari kalangan menengah atas. Cina hanyalah mahasiswa perantauan yang berkerja sebagai terapis untuk membiayai kebutuhan hidupnya selama studi di Bandung. Terlebih dia tinggal jauh dari orang tua sehingga harus jadi orang yang lebih mandiri.



Tak disangka pertemuan intens keduanya menimbulkan perasaan di antara Cina dan Annisa. Cina yang begitu peduli kepada Annisa dan begitupun sebaliknya. Cina juga menyukai Annisa, gadis keturunan Jawa, seorang Muslim yang taat beribadah. Annisa pun menyukai Cina, si jenius yang taat pada ajaran Kristiani. Namun hal itu bukanlah penghalang bagi keduanya untuk saling menghargai terhadap apa yang mereka yakini. Hal itu bisa dilihat dari scene di mana Cina membuat ketupat bersama Annisa saat perayaan Idul Fitri dan Annisa yang membantu Cina menghias pohon natal (dengan menggantungkan hiasan ketupat di pohon natal) saat perayaan Natal tiba. Cinta keduanya berjalan senatural mungkin meskipun mereka tahu kalau hubungan itu tidak bisa berlanjut ke arah yang lebih serius mengingat keimanan dianut keduanya berbeda. Bagaimana bisa mereka hidup berdampingan kalau mereka saja memuji Tuhan dengan nama yang berbeda? Apalagi percintaan beda agama merupakan hal yang tabu di negeri ini.

Dalam film ini, memang disisipkan beberapa opini tentang orang yang mengalami kisah cinta beda agama. Tapi, bagi saya film ini tidak mengajarkan penontonnya untuk melakukan hal yang sama. Film ini justeru mengajarkan saya untuk lebih mencintai Tuhan saya dan mungkin sebagian penonton merasakan hal yang sama dengan saya. Ada scene di mana Annisa berkata, “Tuhan gue aja gue khianatin, gimana elo ntar”, perkataan Annisa menyadarkan saya perihal realita kehidupan, realita yang menggambarkan sikap manusia ketika dihadapkan perasaan cinta kepada manusia lain. Mereka terkadang lupa mencintai Tuhan, Maha Pengasih yang telah mengasihinya. Maha Pencipta yang telah menciptakannya dan orang yang dicintainya. Lantas alasan apa yang membuat manusia mau berkhianat kepada Tuhan hanya karena mencintai seseorang?

Ending dalam cerita ini pun bisa dikatakan happy ending dan sad ending, tergantung penilaian penonton. Bagi saya pribadi, cerita ini berakhir happy ending karena keputusan yang diambil oleh Cina dan Annisa merupakan keputusan yang tepat. Mereka tidak ingin menyakiti Tuhan mereka sehingga mereka memilih opsi terbaik. Dan Cina bertekad untuk kuliah di Singapura sesuai dengan permintaan ayahnya karena di Singapura dia bisa mendapatkan beasiswa, berbeda dengan kampus sebelumnya, Cina tidak mendapatkan beasiswa padahal nilainya yang paling tinggi dibandingkan teman-temannya. Cina juga mengajarkan kita bahwa ada yang lebih penting dari urusan percintaan (relationship) di masa muda yaitu mengabdi pada Tuhan dan mengejar cita-cita.

Terakhir, pesan saya ketika menonton film ini memang harus dengan pikiran yang terbuka karena ada beberapa scene yang akan fatal apabila kita mengartikannya secara gamblang, ada scene yang mengarah pada keraguan akan kekuasaan dan keberadaan Tuhan. Tapi, itu hanya bagian kecil saja kok. Intinya, ya, semua tergantung kita menyikapinya saja. Apapun itu selalu ada dampak positif dan negatif kan? Cukup ambil sisi positifnya saja sebagai pembelajaran hidup.

 

Komentar

Postingan Populer