Boundaries (Short Story)

 ”Lo gapapa, Ri?” tanya Acha yang sedang melihat sahabatnya duduk di gazebo kantor sendirian. Jadi, di kantor ada gazebo. Biasanya digunakan untuk bersantai.

Tari yang sedang menatap ponsel langsung mengalihkan pandangannya. Dia menggeser posisi duduknya.

“Gapapa soal apa?”

“Ya everything gak sih? Gue jarang liat lo berinteraksi di kantor. Lo ada apa?”

Tari tersenyum kecil. Dia memegang bahu Acha."Gapapa kok, Cha. Gue fine aja kok. Gue cuma lagi sibuk aja nih sama project yang masuk. Gue harus lebih detail lagi karena client yang satu ini sangat perfeksionis.”

Acha mengangguk. Jadi, itu alasan Tari jarang berinteraksi di kantor. Bahkan Tari sering menolak ajakan rekan-rekan lainnya untuk sekadar nongkrong seperti biasanya. Acha khawatir gadis itu memendam sesuatu. Tari selalu merahasiakan perasaannya, sebetulnya itu yang berbahaya.

”Bener lo gapapa? Tapi gue seneng sih, liat lo yang sekarang nggak terlalu dekat sama Raka. Gue rasa dia orang yang gak sefrekuensi sama lo deh,”

Raka? Tari sampai lupa bahwa dia sudah tidak pernah berinteraksi dengan orang itu sejak lama. Tari merasa beruntung kalau kini ia dipindahkan ke divisi lain yang berbeda dengan Raka. Jadi, Tari tidak selalu bertemu dengan Raka. Paling bertemu hanya saat berpapasan ketika naik lift atau saat ada acara kantor yang mengharuskan semua staf berkumpul.

”Kenapa lo bisa bilang gitu sih? Apa yang bikin lo berpikiran begitu?”

Acha bertopang dagu. “Ya, lo liat aja si Raka yang enggak pernah sesuai dengan ucapannya. Inget kan dia kan pernah janjiin beliin lo ini lah itu lah. Tapi apa pernah menjadi kenyataan? No! Dia juga pernah janjiin lo nonton film bioskop yang lagi viral itu. Itu juga nggak terjadi kan? Hal se-simpel nonton lho. Nonton paling berapa sih? Berarti tuh orang gak respect sama lo kan? Dia tuh sadar gak sih sama ucapannya? Atau gak pernah mikir sama sekali? Entah, gue rasa emang dia gak bisa dipercaya.” Acha emosi.

“Jadi emosi gue!” lanjut Acha.

 

FLASHBACK

“Ri, dengerin aku dulu!” kata lelaki itu, dia memegang lengan Tari.

Tari melepas pegangan itu dengan kasar. ”Lepas!”

”Aku gak akan lepasin kamu sebelum kamu denger penjelasan aku!”

”Gak ada yang perlu dijelasin, elo tuh selalu sama, Raka! Lo tuh selalu melakukan hal yang sama berulang kali. Terus lo hilang entah kemana. Tiba-tiba lo dateng ke hadapan gue minta maaf. Ending-nya, lo selalu ngelakuin hal yang sama.”

Raka memijit pelipisnya, “tapi kali ini aku janji bakalan berubah!”

Tari menatap Raka dengan tatapan sinis. Berubah? Tidak, Tari tidak akan pernah tertipu dengan ucapan Raka. Semua yang diucapkan Raka itu tak sesuai dengan ucapannya. Tari menyesal telah memberikan Raka kesempatan berkali-kali. Tari pikir dia akan berubah menjadi sosok yang lebih baik. Faktanya, semakin Raka dan Tari mengenal satu sama lain semakin itu pula Raka sering meremehkannya.

”Gak, Raka. Kita stop sampai di sini. Urusan kita cuma sebatas urusan kerja. Permisi.” Tari pun meninggalkan Raka. Ucapan Tari begitu menusuk hati Raka.

Penyesalan Tari adalah memberikan Raka toleransi yang tinggi, tapi Raka memang tidak tahu diri. Raka selalu menyepelekan hal-hal yang bagi Tari tidak sepele. Berhubungan dengan orang yang tidak sejalan dengan kita memang sangat menghabiskan energi bukan? Ya, Tari dan Raka memiliki perbedaan latar belakang. Mereka tinggal di lingkungan yang berbeda, lingkup pertemanan yang berbeda, dan pemikiran yang berbeda. Hal itu menyebabkan Tari sering merasa kelelahan menghadapi orang ini. Bahkan mengucapkan kata-kata mantra saja, Raka beberapa kali tidak melakukannya. Lalu apa yang Tari harapkan dari orang yang hanya menghabiskan energinya selama ini?

I’m done, batin Tari. Dia sudah benar-benar muak berada di situasi ini. Tiga hari lalu Tari pergi ke psikolog. Dia bercerita tentang kejadian yang ia alami, terutama tentang Raka. Psikolog itu bilang bahwa kita harus menghindari orang yang membuat energi kita terkuras. Hindari orang yang buat kita tak nyaman. Anggap saja orang itu tidak ada di dalam kehidupan kita. Kita tak perlu melakukan apapun untuk menghadapinya lagi. Cukup diam saja dan pergi.

Flashback End.

 

Tari tersenyum. Semua pendapat Acha bukanlah opini tapi fakta. Raka memang tidak satu vibrasi dengan Tari. Tari selalu menepati janji yang ia buat pada Raka tapi Raka tak demikian. Karakter Raka sudah terbentuk bertahun lamanya bahkan sebelum bertemu Tari. Menunggu orang berubah itu tidak mudah. Jadi untuk apa Tari berharap orang itu bisa berubah? Tari hanya berharap dirinya sendiri yang berubah menjadi lebih baik. Dirinya adalah prioritas saat ini bahkan selamanya.

”Udah, udah. Emang dia gak se-vibrasi sama kita kali. Jadi yaudah gausah diambil pusing. Cukup dihindari aja daripada kesehatan mental terganggu.”

Acha menatap Tari. “Ri, lo tuh orang baik. Lo juga royal sama teman. Lo punya empati yang tinggi. Ditambah lo hidup di lingkungan yang menurut gue baik. Gue amat sangat bangga dengan keputusan lo gak jadian sama Raka. Entah jadinya apa kalau jadian. I hope lo akan bertemu dengan someone yang beneran satu energi sama lo. Tapi gue percaya hal itu akan ada. Lo terlalu sempurna untuk dikecewakan tau.”

”Aaaaa, mau peluk!” Tari pun memeluk Acha. Tanpa terasa kedua sahabat itu menitihkan air mata. Air mata yang tulus.

”Makasih, ya, Acha. Gue berharap lo selalu bahagia juga. Gue pun seneng sekarang lo udah menikah sama Satya. Sekarang lo udah menemukan orang yang bisa lo ajak cerita tiap hari. Jadi lo gak kesepian lagi.”

”TARIIIII!!!” teriak Janet. Dia langsung memeluk Tari melupakan orang di sebelahnya.

”Ih gue gak dipeluk juga?” kata Acha sebel. Janet pun langsung memeluk keduanya.

"Sayang banget sama kalian." Acha merangkul kedua rekannya.

”Udah jarang banget liat Tari keluar dari ruangannya. Bahkan main pun jarang makanya gue kangen banget tau. Merasa kehilangan.” ucap Janet.

Tari merasa tersentuh, dia menyadari bahwa ada orang yang menganggap keberadaannya penting. Akan sangat sia-sia menghabiskan waktu untuk orang yang tak pernah menghargainya. Tari merasa bersyukur hidupnya dipenuhi oleh orang-orang yang mencintainya.

Setelah makan siang dan mengobrol banyak hal, ketiganya kembali ke ruangan masing-masing. Tari berjalan melewati lorong yang sepi. Dia hendak naik lift untuk menuju ruangannya. Pintu lift di depannya terbuka, di dalamnya ada seseorang yang ia hindari. Tari menarik napasnya. Tari ingin beralih ke tangga darurat, namun Tari berpikir ulang sepertinya akan buang-buang waktu karena ada 15 lantai yang harus ia lewati.

Di dalam lift hanya ada mereka berdua. Namun tak ada yang membuka obrolan. Tari hanya fokus pada tombol-tombol yang ada di depannya.Ting, Tari keluar dari lift diikuti oleh Raka. Raka berjalan mengikuti langkah kaki Tari. Tari berusaha tak peduli.

”Ri.” pangil Raka, panggilan itu membuat Tari mempercepat langkah kaki.

”Tari!” panggil Raka lagi dan gadis itu tak peduli.

Raka berlari ia memegang lengan Tari. Kejadian ini serupa dengan kejadian di mana mereka terakhir bicara. Baiklah, Tari menghetikan langkahnya. Gadis itu berdiri di hadapan Raka tanpa berani menatap wajah itu.

”Maaf, Pak Raka ada perlu apa dengan saya?” tanya Tari.

”Kamu nyaman dengan kondisi kita yang kayak gini?”

”Gini gimana, ya, Pak?”

”Ya, kayak gini. Cuma sebatas rekan kerja aja. Kamu nggak pernah nongkrong lagi sama anak-anak. Kamu juga cenderung diam di grup. Aku minta maaf kalau aku banyak kesalahan sama kamu. Bahkan mungkin kamu muak dengerin maaf dari aku. Aku harus gimana lagi Ri supaya kita bisa akrab? Apa kita gak bisa berteman?”

Tari mengangguk, wajahnya kecut. ”Saya bingung harus menjelaskan seperti apalagi, sebetulnya saya cuma ngikutin perilaku Bapak, kok.”

”Perilaku aku yang kayak mana? Aku gak pernah lho nge-diemin kamu kayak gini. Nge-diemin cukup lama ini, Ri.”

Tari melirik jam tangannya. Sepuluh menit lagi makan siang berakhir. Dia harus cepat menyelesaikan masalah ini.

”Bapak itu lucu banget lho, Bapak minta saya untuk bisa berteman kayak dulu? Saya sebetulnya maafin Bapak atas semua perilaku Bapak. Bapak ingkar janji, Bapak tidak menghargai saya, bahkan Bapak menganggap sepele saya. Yah, jujur awalnya saya terkejut kenapa bisa orang yang dulunya saya promosikan kepada atasan tetapi malah bertindak seperti ini? Ini hal yang cukup menyebalkan bagi saya. Jadi untuk menjaga kesehatan diri saya, saya menghindari Bapak karena saya gak mau terlibat drama. Saya justeru seneng banget bisa pindah divisi, jadi interaksi kita semakin kurang.” kata Tari panjang lebar.

"Ri, kamu gak serius kan ngomong kayak gini?"

"Serius, kok. Saya seratus persen sadar ngomong begini. Saya rasa Bapak paham ya, setiap orang punya batas. Batas toleransi saya terlalu tinggi sekali lho terhadap Bapak sampai di titik saya nggak bisa menaganinya. Saya nggak menyalahkan Bapak seratus persen, ini juga salah saya yang selalu memaafkan Bapak berkali-kali. Jadi saya pikir akan lebih nyaman melepaskan sesuatu yang udah gak se-energi sama kita karena buang energi itu capek, lho, Pak. Ke psikolog juga mahal, Pak. Jadi udah ya, saya rasa udah gak ada yang perlu dibahas. Bapak udah tau kan alasan sikap saya begini.”

”Jadi kita gak bisa berteman lagi, Ri? Please, aku nggak bisa kayak gini terus.”

”Terima kasih untuk tawaran berteman baiknya Bapak. Ngomong-ngomong, waktu istirahat sisa 3 menit lagi, Pak. Saya permisi.”

Tari berjalan meninggalkan Raka. Raka terdiam menatap punggung Tari yang semakin jauh. Tari bukanlah orang yang dia kenal. Tari sudah berubah menjadi orang yang berbeda. Mungkin pilihan Tari saat ini adalah hal yang tepat. Raka sadar bahwa dalam hidup kita harus punya batasan diri yang jelas. Tari sudah menetapkan batasan itu. Jujur, di hati Raka yang terdalam dia menyesal telah menyia-nyiakan gadis sebaik itu. Dia menyesal karena sikap kekanak-kanakannya menghancurkan segalanya.

Dengan penuh keberanian dan percaya diri, Tari meninggalkan sesuatu yang menurutnya hanya menambah beban dalam hidupnya. Tari berharap akan datang kebahagiaan yang berlimpah setelah ini.

Aku tidak membutuhkan validasi atas pilihan yang aku buat. Aku juga tidak menganggap pilihan itu seratus persen benar, tapi aku tahu pilihan mana yang baik. Aku yang paling tahu diriku sendiri.

Komentar

Postingan Populer