Sweet Talk

 “Mama!” seruku begitu Mama keluar dari gedung itu. Mama membawa map yang entah isinya apa. Wajah Mama sangat bahagia kala itu. Dia mendapatkan apa yang ia inginkan. Aku senang melihat Mama sebahagia itu. Kuharap Mama selalu bahagia seperti itu.

Mama memelukku, ”Seanna, sudah lama menunggu?”

Aku menggeleng, ”gak terlalu lama, Ma. Setengah jam yang lalu aku baru sampai di tempat ini.” balasku.

”Selamat atas keberhasilanmu, Mbak.” ucap Om Fariz yang tiba-tiba saja datang. Tadinya ia di parkiran mobil.

Orang-orang di sekitar sibuk mengambil foto. Wajah mereka tampak bahagia. Begitu cerah. Mengapa mereka bisa sebahagia itu? Pikirku. Usiaku masih 17 tahun. Saat itu aku belum mengerti bahwa hal yang membahagiakan dalam hidup ini ketika kita mendapatkan pekerjaan yang kita impikan.

Aku melihat ke sekitar, mataku tertuju pada satu lelaki yang berdiri di dekat pintu gedung BKPSDM. Dia memakai kacamata photocromic. Menawan. Berapakah usianya? Sudah pasti dia lebih dewasa dariku. Apakah Mama mengenal sosok itu? Aku tak bisa melmbaca nametag-nya dengan jelas karena jarak ini lumayan jauh.

”Seanna, ayo foto dengan Mama-mu!” kata Om Fariz. Dia sudah memegang ponselnya.

Cekrek!

“Lucunya.” Puji Om Fariz.

Aku terus memikirkan lelaki tadi. Mungkin usianya tak jauh beda dengan Om Fariz. Apakah mungkin kalau dia single sama halnya dengan Om Fariz? Di usianya yang ke-25, Om Fariz masih single. Menurutku, itu adalah hal yang keren.

“Harusnya kita foto bertiga!” kata Om Fariz dan Mama hanya tersenyum. Terkadang Om Fariz bersikap seperti anak-anak. Namun seseorang datang menawarkan bantuan.

“Ada yang bisa dibantu?” tanya seorang lelaki yang tiba-tiba saja datang menghampiri kami.

Aku diam seribu bahasa. Bagaimana ini? Aku membuang pandanganku. Tak ingin melihat lelaki itu. Jantungku berdebar lebih cepat. Mana mungkin secepat itu menyukai orang asing? Bahkan aku tak mengenalnya. Kenapa sih aku harus menyukai orang-orang random? Aku benci diriku yang labil.

”Bisa tolong fotoin nggak, Mas?” tanya Om Fariz ragu. Dia tak enak hati. Orang itu membalasnya dengan anggukan dan senyuman. Ya, manis. Senyuman itu sangat manis. Dan aku bisa membaca dengan jelas nametag itu.

”Satu, dua, tiga. Cheese!” serunya.

***

Enam tahun berlalu, aku sudah lulus kuliah dan menjadi seorang sarjana. Suatu kebanggaan buatku. Aku bukan tipikal orang idealis yang membatasi diriku untuk berkerja sesuai jurusan. Aku malah sebaliknya, aku berkerja apa saja agar tidak menganggur karena kondisi paling menyedihkan adalah tidak punya uang. Saat ini aku berkeja sebagai barista, sambil menunggu panggilan interview dari pekerjaan lain. Sekarang aku paham mengapa dulu Mama sangat bahagia saat dirinya diangkat menjadi seorang PNS. Sudah pasti karena persaingan yang ketat dan tidak semua orang bisa berada di posisi itu. Berkeja di tempat yang kita inginkan itu adalah hal menyenangkan ’kan?

”Kamu enggak ikut CPNS aja kayak Mama-mu?” tanya Riri saat kami sedang menyanpat makan siang kami.

”Belum kepikiran, Ri.” jawabku sambil mengunyah makanan yang kubawa.

Benar kata orang, kehidupan orang dewasa sungguh menakutkan. Kita belum berhasil saja sudah harus menanggung ekspektasi orang lain terhadap kita.

***

Sore itu aku berjalan sendirian, aku membawa makanan kucing untuk dibagikan kepada kucing-kucing liar. Menurutku, berbagi itu tak hanya selalu kepada manusia tapi juga bisa kepada makhluk hidup lainnya. Aku berhenti di taman kota. Di sana banyak sekali pengunjung.

Aku berjongkok ketika satu kucing datang menghampiri. Kucing itu bulunya halus. Dia gembul. Aku yakin dia bukan kucing liar. Di lehernya ada kalung berinisal M.

Aku mengeluarkan makanan kucing, memberi kucing itu makan. Kucing itu makan dengan lahap. Ah, lucunya!

“Ah, di sini rupanya, Mimi.” ucap seseorang membuatku mendongak. Aku yang sedang mengusap kepala Mimi lamgsung berhenti. Sorot mata itu mengingatkanku pada kejadian enam tahun lalu di BKPSDM Kabupaten Cirebon.

Punten, ini kucing saya.” ucap orang itu. Aksen sundanya terdengar sangat khas di telinga. Berbeda denganku yang terbiasa dengan logat orang Jakarta meskipun sudah 10 tahun tinggal di sini.

“Ah, maaf, Kak.” Balasku.

“Kenapa minta maaf? Harusnya saya yang bilang makasih.” katanya lagi. Dia tersenyum padaku. Dia berjongkok di sampingku. Aku ingat siapa dia. Aku ingat orang itu yang pernah memotret keluargaku saat itu. Apakah dia mengingatku? Sepertinya tidak. Kejadian itu sudah lama.

”Kamu kemana-mana bawa makanan kucing?”

”Nggak selalu sih, Kak. Kalau lagi pengen aja.”

”Makasih, ya, udah baik sama Mimi. Mimi ini sebetulnya kurang ramah sama orang asing.  Tapi kalau sama kamu sepertinya dia jinak.”

Aku mengusap bulu Mimi. Kucing ini memang kucing rumahan. Pemiliknya pasti sering membawanya ke pet shop untuk perawatan.

Lelaki itu menjulurkan tangan.”saya Sandy.” ucapnya memperkenalkan diri.

Aku meraih tangannya. ”Seanna,”

***

Pagi ini, aku mengantar Om Fariz ke suatu tempat, dia bilang dia akan mengikuti LATSAR sebagai pegawai baru. Mama yang sudah pengalaman seperti itu memberi petuah kepada Om Fariz. Tahun ini Om Fariz diangkat menjadi PNS dan tahun ini juga pindah kerja. Aku tidak menjadi barista lagi. Aku menjadi pegawai di salah satu e-commerce yang letaknya di Jakarta. Dua hari lalu, aku kembali ke Cirebon lantaran cuti.

Kulihat banyak sekali orang-orang di sana. Ada 6 bus yang siap mengantar mereka ke tempat LATSAR. Di sini adalah titik kumpulnya.

“Seanna!” panggil seseorang. Aku langsung berbalik. Kulihat seseorang datang menghampiriku. Tangannya membawa pengeras suara. Lama tak berjumpa dengannya. Pertemuan terakhir kami di taman kota saat Mimi hilang dan aku menemukannya.

”Kamu ngapain?” dia bertanya.

”Nganterin Om.” ucapku sambil menunjuk Om Fariz dan Mama yang sedang mengobrol.

”Saya baru inget Om kamu yang waktu itu minta fotoin pas kita lagi di BKPSDM Kabupaten. Wah, sekarang Om kamu peserta LATSAR. Keren!”

”Iya, kamu bener. Kamu ikut LATSAR juga?”

”Saya yang ngurusin acara kayak gini di Kabupaten. Jadi harus ikut.”

Sandy melepaskan topinya. Dia memakaikan topi ke kepalaku. ”Itu masih baru kok. Kamu aja yang pake biar nggak kepanasan.” katanya. Wajahnya merah padam. Dia memegang lenganku, menuliskan nomor telepon di telapak tangan dengan pulpen. “Kita bisa ngobrol lagi kan?”

Aku mengangguk, “of course. Thank you buat topinya. Semangat kerja!” seruku penuh semangat. Kami saling melambaikan tangan. Bukan salam perpisahan tapi tentang cerita yang baru saja dimulai.

***

Komentar

Postingan Populer