Menggapai Langit
"Jadi gimana soal Rendi?" Tanya Didi.
Aku mengangkat bahu tidak tahu. "Rendi, ya, gak kenapa-kenapa. Dia menjalani kehidupannya dengan baik." Jawabku sambil menikmati angin malam. Kami sedang duduk di balkon. Hal yang biasa kami lakukan, bercerita ngalor-ngidul di tempat ini.
Didi meraih sebotol mineral, meneguknya hingga menyisakan setengah botol. Dan aku tidak berminat membuka berbagai snack yang Didi bawa. Aku kehilangan selera makan.
"Serius lo gak ada apa-apa sama Rendi?"
"Nggak ada, Di. We just friend." Balasku santai. Walau sebenarnya ada perasaan sedih. Aku berharap punya hubungan lebih dari teman. Jujur sampai sekarang aku belum bisa melupakan Rendi.
Saat ini Rendi sedang menempuh studi di salah satu yang ada di Lampung. Aku tidak tahu kabar Rendi selain itu. Sengaja tak mencarinya karena bagiku lebih baik tidak tahu.
Didi sibuk mengunyah berbagai snack yang ia bawa. Niat sekali anak itu bawa banyak makanan ke rumahku.
"Lo sendiri gimana soal Saskia?"
"Saskia mana mungkin melirik gue? Gue gak aktif organisasi di kampus, mahasiswa kupu-kupu, dan bukan anak yang ambis gitu deh. Pasif. Beda banget emang sama jaman SMA. Udah gitu gue bukan cowok yang bisa ajak doi makan di tempat-tempat mahal. You know lah, La. Gimana keadaan gue. Kalo gak freelance sana-sini mana bisa kuliah." Kata Didi. Sesekali ia meneguk air mineral lagi.
Ngomong-ngomong soal Saskia. Saskia adalah adik kelas Didi. Didi menyukai Saskia sejak SMA bahkan sampai sekarang. Sebetulnya Saskia satu kampus denganku dan Didi tapi Didi selalu bersembunyi saat melihat Saskia di kampus.
Aku menghela napas panjang, "emang lo udah coba gitu bilang ke Saskia?"
Rendi menggeleng, "ya, ngga, lah. Saskia bagi gue tuh angan. Lagian dia nggak harus tau soal itu. Gue takut perasaan gue cuma bikin beban buat dia. Yang penting gue bisa lihat dia bahagia dan sehat. Yah, gitu juga bikin gue happy."
Didi yang hidup dengan kesederhaan dan Saskia yang dikaruniai oleh kemewahan. Didi merasa tak pantas untuk Saskia. Perbedaan status sosial diantara mereka membuat Didi merasa kecil.
Aku menggosok telapak tangan. Udara malam semakin dingin.
"Saskia pasti beruntung punya someone yang pemikirannya kayak elo, Di."
"Lebih tepatnya gue yang beruntung kalo dapat Saskia. Eh, dimakan dong! Masa gue beli cuma buat diliatin doang?" Tawar Didi melemparku dengan satu snack yang belum terbuka.
"Ini kebanyakan tau, Di."
"Makan chiki satu mah nggak bikin lo langsung gemuk. Percaya, La."
-
Didi mengantarku ke bandara. Jadi hari ini ada kegiatan yang membuatku harus pergi ke suatu kota yang letaknya jauh dari rumah. Aku harus menemaninya ke luar kota untuk seminar tentang lingkungan. Bu Hera memintaku untuk menemaninya. Aku juga bingung kenapa harus aku yang dipilih? Padahal banyak mahasiswa yang berkompeten.
Satu angkatan pun geger melihatku ikut Bu Hera terbang ke Lampung.
"Thanks, ya, Di. Lo nggak langsung balik?"
"Ya enggaklah, gue mau nemenin lo sampe Bu Hera datang."
"Yeeee, udah sana balik."
"Udah tenang." Ucap Didi santai.
Lima belas menit menunggu akhirnya Bu Hera datang. Dia tidak sendiri melainkan ditemani seorang perempuan cantik. Perempuan itu mengenakan summer dress dan flat shoes putih. Menawan.
Didi menyikut lengannya, "kok ada Saskia sih? Dia ikut?" Bisik Didi padaku.
"Ngga tau gue, Di."
"Maaf, lama menunggu." Ucap Bu Hera selepas kami menyalami tangan beliau. "Kalian pacaran?"
Didi menggeleng, "nggak, Bu. Saya cuma anterin Lala. Soalnya ayahnya gak bisa anterin ke bandara karena kerja. Kebetulan Lala tetangga Saya. Jadi udah sering aja gitu Bu, kalau dia minta tolong Saya, begitupun sebaliknya."
"Oh gitu. Kirain pacaran." Ucap Bu Hera. Kemudian dia memegang pundak perempuan cantik di sebelahnya. "Kenalin, ini Saskia. Dia keponakan Saya. Satu kampus sama kalian cuma beda jurusan aja."
"Saskia, Kak."
"Hai, aku Lala. Yang di sebelahku namanya Didi."
Saskia menatap Didi. "Serius ini beneran kamu Kak Didi? Aku ga tau kalau kita satu kampus, Kak."
"Saskia kenal Didi?"
"Kenal, Tante. Kak Didi itu satu SMA sama aku, Tan. Kita OSIS di SMA."
Senyum Didi mengembang. Senang melihat Didi sebahagia itu. Pasti dia senang bisa melihat Saskia dengan jarak sedekat ini.
"Saya ingat kamu kok, Mbak Sekretaris."
Saskia tertawa. "Haha, terima kasih sudah mengingatku." Ucap Saskia tersenyum manis.
Bu Hera mengusap lengan Saskia. Sepertinya Bu Hera senang melihat Saskia bahagia. Kemudian Bu Hera menatap Didi sekilas. Apa yang sedang beliau lakukan? Membaca gerak-gerik Didi kah?
"Tante, Saskia." Teriak seseorang yang berlari kecil sambil menarik koper.
"Duh, Ren. Untung gak terlambat." Ucap Bu Hera.
"Maaf, Tante. Macet parah tadi." Balas lelaki itu.
Aku menarik napasku. Aku yakin debaran jantung ini semakin kencang. Rendi masih menjadi alasan jantungku berdegup lebih kencang.
"Kalo yang ini keponakan Saya juga. Namanya Rendi. Rendi yang akan nemenin kita selama di Lampung. Setelah seminar kita jalan-jalan, ya."
"Rendi." Rendi menjabat tangan Didi.
"Gue Didi."
Ren? Rendi? Benarkah itu dia? Sejak kapan Rendi di Jakarta? Bukankah dia kuliah di Lampung? Apa dia sedang liburan, ya?
Aku meneguk salivaku. Oke, La, tenang. Rileks. Semua akan baik-baik saja, dengan atau tanpa Rendi.
"Hai, selamat berjumpa lagi, Kamila." Ucap Rendi sambil tersenyum.
Rendi kalau saja kamu tahu bahwa aku selalu menyimpan namamu dalam doa. Semoga kamu senantiasa diberikan kebahagiaan. Dan aku akan pastikan bahwa diriku akan bahagia dengan atau tanpamu.
Komentar
Posting Komentar