Hari Terbaik (Short Story)
Kereta membawaku ke suatu tempat. Jauh dari hiruk pikuk Ibu kota. Beberapa jam lagi aku akan tiba di tempat yang asing bagiku.
Aku menggendong ranselku yang super berat. Mengikuti petunjuk arah, jalan keluar stasiun. Maklum ini pertama kalinya aku ke sini. Tempat yang baru bagiku.
Tiba di depan stasiun, kulihat banyak sekali supir yang menawarkan diri agar orang-orang menyewa mobilnya. Aku dengan perasaan sentimen ini sangatlah takut. Takut-takut mereka menculik. Entahlah, aku benci pikiranku yang begini.
Aku sudah tiba. Begitu kataku pada temanku. Kukirim pesan singkat itu padanya. Berharap dia membalas pesanku. Niatnya ke sini untuk mampir ke rumahnya. Sekalian untuk melarikan diri sejenak.
Seseorang akan tiba sebentar lagi. Begitu balasan dari temanku. Seseorang? Aku pikir dia yang akan menjemput. Tapi, ini sudah larut. Mana mungkin dia keluar sendirian? Apalagi dia bilang jalanan menuju rumahnya sangatlah gelap. Baiklah, sebagai tamu aku harus tahu diri kan? Menunggu jemputan yang ia sarankan akan lebih baik.
"Sudah lama, Kak?" Teriak seseorang yang datang menemuiku. Aku mundur selangkah takut. Siapa orang ini?
"Siapa?"
"Edwin, sepupunya Teh Jelita. Saya ke sini disuruh jemput kakak."
Baiklah, aku segera mengikuti Edwin menuju parkiran motor. Kami berangkat menuju kediaman Jelita yang jaraknya delapan belas kilometer dari stasiun. Melelahkan.
Begitu tiba di rumah Jelita, gadis itu menyambutku hangat. Keluarga Jelita kelihatannya senang dengan kedatanganku padahal hadirnya aku kemari pasti akan merepotkan mereka.
***
Aku sudah bangun sebelum adzan subuh. Selepas ibadah, Jelita mengajakku berjalan kaki mencari sarapan. Sejuk sekali suasana desa. Berbeda dengan kota yang penuh dengan polusi kendaraan dan hitamnya asap pabrik.
"Kau suka tempat ini?" Tanya Jelita.
"Lumayan, tempat ini damai. Jadi kan pergi ke hutan pinus atau kita akan mendaki?"
Jelita tersenyum kecil. "Kita akan ke hutan pinus tapi tidak untuk mendaki."
***
Jelita membawaku ke hutan pinus, setelah kami melewati jalanan pegunungan yang curam. Untuk menuju lokasi, kami memerlukan waktu 30 menit.
Damai. Itulah yang kurasakan. Aku bisa masuk ke hutan lebih dalam jika aku mau. Hutan ini merupakan askes pendakian gunung. Tak jarang menemukan para pendaki menggendong tas besar.
Melihat para pendaki, mengingatkanku pada sosok yang suka sekali dengan kegiatan mendaki. Seseorang yang saat ini tempat kerjanya sama denganku. Seseorang yang selalu kuperhatikan dari jarak jauh. Tiba-tiba aku merindunya. Apa yang sedang dia lakukan di kota kami?
Puas dengan pemandangan hutan, aku pun memgambil gambar sekitar. Merekam semua ke dalam roll film.
"Jadi sebetulnya apa yang membuatmu ke sini? Ke tempatku?" Tanya Jelita. Dia menyodorkan air mineral padaku.
"Aku hanya ingin rehat sejenak. Aku juga ingin meyakini apa yang kurasakan belakangan ini."
"Memangnya apa yang kau rasakan?"
"Kurasa, aku menyukai seseorang."
***
Malam itu Jelita membawaku ke suatu tempat. Bumi perkemahan. Kami menyewa satu tenda. Jelita ingin aku merasakan berkemah di tempat ini karena esok lusa belum tentu akan berkunjung. Ngomong-ngomong Jelita adalah teman SMA-ku.
"Kau telpon saja dia."
"Untuk apa, Je?"
"Ya, hanya untuk memastikan bahwa dia dalam keadaan baik."
Seketika aku ingat kejadian di tempat kerja. Kejadian saat aku melihatnya pertama kali. Dia lelaki yang sopan, baik, rapi, dan wangi. Wajahnya menenangkan. Aku suka mendengarkan dia melantunkan ayat-ayat suci. Dia pandai mengaji. Tidak sepertiku gadis yang mungkin jauh dari kata soleha.
Aku ingat saat dia mengambil air wudhu. Wajahnya berseri bagai rembulan di langit malam.
Apa yang sedang kau lakukan? Tanyaku begitu menghubunginya. Dia menjawab sedang santai, tidak sibuk. Lalu kami berbincang santai. Menanyakan kabar keluarga dan hal lain seperti hobi.
Jelita girang melihatku yang sibuk menelepon. Setengah jam berlalu dia menguping pembicaraan kami. Akhirnya dia tertidur pulas di tenda.
Aku keluar tenda. Kudapati api unggun menyala. Mungkin penghuni tenda sebelah yang menyalakan.
Kau tidak tidur? Tanya lelaki itu di ujung telfon. Jujur saja aku mengantuk. Aku hendak mematikan panggilan ini. Entahlah, malam ini rasanya hatiku mau meledak. Api asmara menyala.
Aku benar-benar menyukainya. Aku membayangkan dia bicara langsung padaku. Dia sosok yang pemalu, bagaimana bisa aku berbincang dengannya malam ini? Ajaib!
Selamat tidur, Lamia. Aku akan menjemput di depan stasiun kota jika kau pulang.
Kalian tahu, malam ini adalah malam terbaik yang pernah ada.
Komentar
Posting Komentar