Dekat (Short Story)
Aku memasukkan buku ke dalam tas. Berjalan menuruni anak tangga. Berdiri di depan pintu kaca perpustakaan sambil memandang langit yang semakin mendung. Ya, gerimis turun.
Brak!
Seseorang menabrakku kasar. Sepertinya ia tidak sengaja.
"Sorry, sorry." Katanya dengan wajah panik. Mungkin takut kalau aku marah padanya.
"Iya, gapapa." Sahutku seadanya.
"Mbak, boleh nanya gak?" Tanya orang itu dan kubalas dengan anggukan pelan.
"Di sini orang luar kampus boleh minjem buku nggak?"
Aku menggelengkan kepala. "Nggak boleh, Mas. Cuma mahasiswa aja yang boleh pinjam buku tapi kalau mau baca sih boleh."
"Oh, gitu ya? Padahal saya pengen banget pinjam buku untuk nambahin referensi penulisan skripsi saya." Katanya sambil membetulkan kacamata berbingkai hitam miliknya.
"Bro!" Teriak seseorang yang aku yakini bahwa dia adalah karibnya. Tapi kelihatannya bukan dari kampus sini. Orang itu membawa air mineral dan memberikan pada si pria berkacamata yang entah siapa namanya.
"Gimana?" Tanya cowok yang tadi berteriak "Bro."
"Gak bisa pinjam cuy," balas lelaki berkacamata itu.
"Yah terus gimana dong?" Keluh cowok itu. "Mbaknya, bisa tolongin kita nggak?"
"Tolongin apa?"
"Mbaknya pinjamin kita buku di perpustakaan sini gitu pake kartu perpustakaan punya mbaknya hehe. Boleh nggak, Mbak?"
Aku mengerutkan dahi. Pinjam kartu perpustakaan katanya?
"Emang kalian cari buku apa?"
"Motivasi belajar kok, Mbak." Jawab lelaki berkacamata itu cepat. "Bisa bantu nih mbak?"
"Yaudah deh, tapi janji ya jangan telat balikin. Batas pinjamnya dua minggu dan maksimal pinjam dua buku." Kataku. Bisa-bisanya setuju dengan permintaan orang asing.
"SIAP MBAK!!!" Kata lelaki berkacamata itu sambil hormat ala apel pagi pas jaman sekolah.
"Makasih banget ya, Mbak!" Seru lelaki yang satunya sambil menyalami tanganku. Buru-buru aku melepas tangannya.
"Heh, bukan muhrim oncom!" Si lelaki berkacamata memukul tangan temannya.
"Sorry, Mbak."
Aku kembali masuk ke dalam perpustakaan. Menemani mereka mencari buku yang mereka cari.
"Kenalin Mbak, nama gue Setya." Pria berkacamata itu mengulurkan tangan.
"Vania." Balasku menjabat tangannya.
"Kalo gue Dwi." Orang di sebelahnya bergantian menyalamiku.
Kini kami bertiga masuk ke dalam perpustakaan. Setya mengajakku berbicara perihal jurusan apa yang kuambil di kampus. Yah, sekadar basa-basi. Mungkin agar suasana tidak terlalu canggung. Sementara Dwi sibuk memandangi sekelilingnya.
"Kalo mau cari buku motivasi belajar ada di lantai 3 barengan buku-buku ilmu sosial." Kataku sambil membuka pintu kaca. Masuk ke dalam ruangan bersama kedua lelaki itu.
"Boleh numpang ngerjain di sini juga nggak sih?" Tanya Dwi sambil terkekeh.
"Boleh aja sih, bebas. Tempat umum kok." Sahutku.
"Bisa tuh kapan-kapan garap skripsi di sini. Sekalian pinjam buku gitu."
Kami menghampiri rak buku-buku pendidikan. Mereka mengambil dua buku yang berbeda. Setelahnya kami kembali ke loket perpustakaan dan selesai sudah kegiatan pinjam buku.
"Thanks, ya, Vania." Kata Setya.
"Iya Van, thanks banget nih udah mau nolong kita." Dwi bersuara.
-
2 Minggu kemudian.
Seseorang berdiri di depan fakultas dengan wajah bingung. Ah, aku hafal wajah orang itu. Si lelaki bernama Dwi yang dua minggu lalu memintaku untuk pinjam buku di perpustakaan kampus.
"Van!" Panggilnya. Keren ya, matanya bisa langsung menangkap bayanganku.
Sebelum kemari Dwi sempat mengirim pesan lewat Instagram. Semalam dia bilang ingin mengembalikan buku. Aku pikir dia lupa soal buku yang dipinjam.
"Ya?" Kini aku berdiri di depannya sambil memeluk binder. Aku baru saja selesai mata kuliah Sejarah Indonesia.
"Setya mana?"
"Dia nggak ikut soalnya ada perlu gitu di kampus. Jadi gue aja deh yang balikin bukunya." Dwi menyodorkan dua buku yang waktu itu ia pinjam
"Lo masih ada jadwal kah?" Tanya Dwi.
Aku menggeleng, "ngga ada, Dwi. Gue tadi habis bimbingan skripsi aja sih. Terus yaudah free. Emang kenapa?"
"Gue ajak makan mau nggak? Di sini tempat makan yang enak di mana? Lo sukanya makan apa?" Cerocos Dwi.
Aku menunjuk satu tempat makan yang berada di area kampus. Tempat makan itu sangat teduh karena terdapat pohon besar. Aku dan mahasiswa lain menyebutnya "Warbun" alias Warung Kebun.
"Gue sukanya Mie Ayam Yamin di Warbun."
"Warbun? Di mana tuh?"
"Di kampus ini dekat parkiran belakang."
"Parkiran belakang?" Dwi mengerutkan dahi. "Lah tadi gue parkiran mana, ya? Parkirannya yang jalanannya spiral gitu sih."
"Oh itu mah parkiran depan. Besok-besok di parkiran belakang aja kalo mau ke sini."
Dwi mengangguk. "Hmmm iya deh. Eh ayo, tempatnya di mana? Gue udah laper banget nih. Belom makan dari pagi."
-
"Gimana? Enak gak?" Tanyaku pada Dwi yang sedang menikmati Mie Yamin.
Dia mengangguk cepat. "Enak banget dong! Bisa nambah nih gue."
Aku tertawa kecil. "Nambah aja, ntar gue yang teraktir deh."
"Jangan dong, gue kan yang ngajak lo makan. Biar gue aja yang bayar. Kalau emang lo mau pesan lagi boleh tuh pesan lagi aja." Katanya.
Benar saja Dwi nambah satu porsi lagi. Jujur, makan satu saja sudah sangat kenyang apalagi ditambah pakai bakso. Perutku saja sudah hampir meledak.
Selesai makan, kami pun menuju perpustakaan. Hari sudah sore, perpustakaan sebentar lagi akan tutup.
"Thanks, ya!" Kata Dwi. Kami berdiri di depan pintu kaca perpustakaan.
Aku melirik ke arahnya. Postur badannya lebih tinggi dariku sehingga aku harus mendongak untuk melihatnya. Yah, kuakui dia memang manis. Kulitnya hitam manis.
"By the way, rumah lo di mana?"
"Bekasi."
"Lah sama. Bekasi mana?"
"Utara." Balasku.
"Lah kok sama lagi? Gue juga Bekasi Utara tuh. Besok lo balik kuliah jam berapa?"
"Abis ashar sih gue balik."
"Serius? Yaudah balik bareng gue dah. Mau nggak?"
Aku menggeleng cepat. "Jangan, gue naik KRL aja."
"Lah kenapa? Kan searah? Hemat ongkos buat revisian. Bener gak tuh?"
Sial, paling bisa dia merayu. "Hmmm bisaan ya lo, gue harus bawa helm gak dari rumah?"
"Gak usah gue aja yang bawa, sekalian anterin gue ye ke toko buku. Nyari komik. Bosen banget bacaan gue habis."
Sore itu tampak berbeda. Biasanya aku duduk sendiri di bangku ini atau bersama teman-temanku. Tapi sekarang malah duduk bersama makhluk bernama Dwi. Lucunya rumah kami ternyata satu domisili. Apa jangan-jangan ini pertanda dari semesta?
_
Komentar
Posting Komentar